Serangan Bom Atom dan Peristiwa Proklamasi

JAKARTA, SiUntung.com–  Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Nagasaki sebagai lanjutan dari serangan nuklir yang telah dilakukan tiga hari sebelumnya di kota Hiroshima. Serangan tersebut rupanya berimplikasi sangat besar, tercatat 80.000 orang dinyatakan tewas seketika bom itu dijatuhkan, dan terus menelan ribuan  korban akibat radiasi nuklir dari ledakan bom tersebut.

Tidak hanya itu, serangan dasyat Amerika ini membuat Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 15 Agustus, sekaligus menandakan berakhirnya perang pasifik dan perang dunia II.

Efek bom “Fat man” dan “Little Boy” itu tidak hanya berimplikasi terhadap perang dunia II yang sedang berlangsung namun secara khusus serangan nuklir itu telah mendorong keberanian pemuda Indonesia untuk memulai langkah nyata menuju gerbang proklamasi.

Berawal diketahuinya kekalahan jepang oleh pemuda melalui siaran radio BBC, kemudian beberapa pemuda diantaranya Wikana, Darwis, Caerul Shaleh serta beberapa pemuda lainnya mendesak Soekarno untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Namun desakan pemuda ini ditanggapi dingin oleh Soekarno, ia berpendapat bahwa memproklamasikan kemerdekaan terlalu dini akan mengakibatkan munculnya pertarungan dengan jepang yang dapat berakibat jatuhnya banyak korban. Apalagi pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, telah berjanji kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Namun pemuda bersikukuh bahwa kemerdekaan tidak bisa ditunda, akhirnya tidak timbul kesepakatan.

Pada tanggal 16 Agustus PPKI dijadwalkan menggelar rapat terkait persiapan menuju proklamasi, namun hari itu Soekarno dan Hatta tidak terlihat muncul dalam rapat yang sedianya dimulai pukul 10.00 WIB pagi. Ternyata ketidakhadiran kedua tokoh tersebut adalah karena mereka diculik oleh kelompok pemuda yang dipimpin Sukarni ke Rengasdengklok. Penculikan tersebut dilakukan Sukarni Cs pada pukul 04.00 WIB, dimana upaya tersebut bertujuan untuk mendesak kedua tokoh nasional itu agar mau memproklamasikan kemerdekaan.

Penculikan ini menggegerkan banyak tokoh dijakarta, untuk meredakan ketegangan dan kekhawatiran akhirnya Ahmad Soebardjo melakukan pertemuan dengan Wikana agar mau menahan diri dan memproklamasikan kemerdekaan di Jakarta. Wikana pun setuju dan mengantar Ahmad Soebarjo ke Rengasdengklok dengan didampingi Yusuf Kunto untuk menjemput Soekarno dan Hatta.

Pada 16 Agustus malam setiba di Jakarta, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda berusaha menemui Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda untuk membicarakan prihal kemerdekaan Indonesia. Namun yang bersangkutan tidak mau menemui kedua tokoh ini.

Akhirnya diputuskan Soekarno mengumpulkan tokoh-tokoh pergerakan di rumah perwira angkatan laut Jepang, Laksmana Maeda, di Jalan Imam Bonjol no 1, untuk mempersiapkan teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya di kediaman Soekarno, di Pegangsaan timur no 56 (kini JL Proklamasi no 1).

Acara bersejarah itu pun dimulai pukul 10.00 WIB dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor. Indonesia pun akhirnya masuk dalam ruang kesejarahan baru sebagai sebuah negara berdaulat dan mandiri.

Tags: