Budidaya Kaktus, Mengamankan Spesies Langka, Menghasilkan Fulus

Image Source: Pertanianku.com

Kaktus, selama ini, hanya dipandang sebelah mata. Sekali pun, sebenarnya, ia tanaman berduri yang unik yang juga bisa dijadikan tanaman hias. Tapi, kini, sedikit demi sedikit pandangan itu berubah dengan munculnya kaktus mini, yang juga dapat dijadikan suvenir pernikahan. Sehingga, omset di bisnis ini pun ikut terdongkrak. Tapi, apa itu kaktus mini dan seperti apa bentuk suvenirnya?

Kaktus merupakan nama tanaman yang diambil dari Bahasa Yunani Kuno, kaktos, yang berarti tanaman berduri. Nama itu diberikan oleh Carl Linnaeus, seorang botaniawan dari Swedia. Linnaeus pulalah yang memasukkan tanaman purba ini (menurut sejarah, kaktus telah tumbuh sekitar 100 juta tahun lampau, red.) ke dalam kelompok tanaman berduri (cactaceae, red.).

Kaktus, selama ini, hanya diketahui tumbuh di daerah tandus seperti gurun, padang r umput kering, dan hutan meranggas. Padahal, tanaman dari Benua Amerika ini juga dapat tumbuh di pantai yang mengarah ke laut, hutan belantara, dan gunung berselimut es. Atau, dengan kata lain, kaktus dapat tumbuh di mana pun. Karena itu, tidak mengherankan jika kaktus tergolong tanaman yang mampu bertahan di segala medan.

Di samping itu, tanaman yang hadir ke negara kita karena dibawa oleh para bule dari Belanda ini juga mempunyai kemampuan menyimpan persediaan air di batangnya. Sehingga, perawatannya pun gampang dan masa hidupnya bisa bertahan hingga puluhan tahun. Tapi, tetap harus dirawat dengan baik. Terutama, kaktus yang telah terkena campur tangan manusia, seperti kaktus mini.

“Mengingat kaktus mini itu merupakan hasil rekayasa, maka masa hidupnya sangat tergantung kepada manusia yang merawatnya, seperti pemupukan, penyiraman, dan lain-lain. Untuk penyiraman dapat dilakukan seminggu sekali, sedangkan pemupukan dilakukan tiga bulan sekali,” kata Darmaji, pemilik usaha kaktus mini di kawasan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan.

Sementara kaktus mini itu sendiri, Darmaji melanjutkan, berasal dari kaktus besar yang diambil anakannya. Lalu, di-grafting (cara memperbanyak/menumbuhkan tanaman dengan menyambung batang atas dengan batang bawah dari dua tanaman yang berbeda, red.) dengan batang tanaman buah naga. Kemudian, diletakkan dalam pot berukuran kecil (berdiameter 8 cm, red.). Sehingga, kaktus tidak dapat tumbuh secara normal atau lambat tumbuhnya (hanya setinggi 12 cm–15 cm, red.).

Digunakannya batang tanaman buah naga, ia menambahkan, karena pertama, tanaman ini tahan terhadap air. Kedua, tanaman ini cepat pertumbuhannya, mengingat tanaman buah naga pada dasarnya juga kaktus. Ketiga, tanaman ini cocok ditanam di Indonesia. “Selain batang tanaman buah naga, juga dapat digunakan batang kaktus centong, meski tehnik grafting-nya agak sulit. Tapi, intinya, semua kaktus dapat di-grafting dengan posisi baik sebagai batang atas maupun batang bawah. Tergantung kreativitas kita,” ungkap Kepala Unit Penggajian Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia ini.

Dalam me-mini-kan kaktusnya, pria yang menamai usahanya Adjie Kaktus ini menggunakan semua jenis kaktus. Karena, semakin beragam kaktusnya, konsumen pun semakin senang. Meski begitu, ia menggunakan tiga jenis kaktus yaitu kaktus jenis sukulen (berdaun), notocactus (berbentuk bulat), dan opuntia (berbentuk pipih). “Sebab, kaktus jenis-jenis itu memiliki kambium. Sehingga, lebih mudah tehnik grafting-nya,” ujar pemilik 200 jenis kaktus dari 500–1.000 (sumber lain menyebutkan ada 2.000, red.) jenis kaktus yang tumbuh di seluruh dunia.

Sementara dilihat dari kehadiran kaktus mini, menurut Darmaji, karena adanya permintaan dari konsumen akan tanaman berukuran kecil, termasuk kaktus, dengan fungsi sebagai suvenir. “Di Adjie kaktus, kami menyediakan suvenir kaktus mini dalam empat bentuk. Pertama, kaktus mini dalam pot yang dikemas dalam boks mika dengan harga Rp7.500,- sampai dengan Rp13.000,-. Kedua, kaktus mini dalam pot yang dimasukkan ke dalam keranjang parsel dengan harga Rp25.000,- sampai dengan Rp50.000,-. Ketiga, kaktus mini yang dibentuk menjadi terrarium dengan harga Rp15.000,- sampai dengan Rp20.000,-. Keempat, kaktus mini yang dibentuk menjadi hydroculture dengan harga Rp200.000,- sampai dengan Rp300.000,-,” ucap Darmaji, yang juga menjual kaktus mini dalam bentuk satuan dengan harga Rp4.000,- sampai dengan Rp11.000,-.

Berbagai bentuk suvenir tersebut, ia pasarkan secara online dengan pasar utama Jakarta. Dari penjualan yang pemasarannya sudah menjangkau Sumatera, Kalimantan, dan Papua itu, kelahiran Yogyakarta, 9 Maret 1958 ini membukukan omset rata-rata Rp3 juta/bulan. “Meski kaktus mini ini saya buat sebagai suvenir perkawinan, tidak berarti ketika sedang tidak ‘musim kawin’ saya tidak mengerjakan apa pun. Saya, dengan dibantu Ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah kami, tetap membuat suvenir kaktus mini untuk memenuhi pemesanan yang datang minimal dua bulan sekali,” ujar Darmaji, yang membangun usahanya dengan memanfaatkan lahan kosong seluas 9 m x 3 m di dekat rel kereta api, di depan rumahnya.

Dengan demikian, bagi mereka yang ingin menerjuni usaha semacam ini tidak perlu kuatir jika memiliki lahan sangat terbatas. Tapi, pria yang memulai usahanya pada tahun 2009 dengan modal Rp8 juta ini menegaskan bahwa untuk membangun usaha kaktus mini harus pertama, hobi dengan tanaman dan bertanam. Kedua, mau belajar tentang bagaimana menanam kaktus. Karena, hal itu, berkaitan dengan risiko kegagalan pada 2−3 bulan pertama sebesar 75%−80% di mana seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kemahiran, risiko kegagalan akan semakin lama semakin berkurang.

“Pada dasarnya, budidaya kaktus mini itu relatif mudah. Dalam arti, tidak memerlukan perawatan khusus. Kita hanya harus mengetahui apa yang dia mau. Sehingga, tingkat kegagalannya dapat di-nol-kan. Di samping itu, sebagai bisnis, meski banyak yang meragukan, tapi prospeknya bagus. Karena, tanaman ini unik, dapat dibentuk menjadi apa pun, dan yang terutama belum banyak yang bermain di usaha ini,” pungkasnya.

Sekadar informasi, saat ini, berbagai spesies kaktus terancam punah karena adanya perusakan terhadap habitat alaminya dan eksplorasi yang berlebihan yang dilakukan manusia. Imbasnya,  kaktus pun masuk dalam daftar Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Langka (Convention on Internasional Trade in Endangered Species/CITES). Untuk melindungi dan melestarikan tanaman ini, CITES menggalakkan berbagai upaya. Salah satunya, konservasi ex situ (= proses melindungi spesies langka dengan mengambilnya dari habitat yang tidak aman dan lalu menempatkannya di bawah perlindungan manusia, red.). Salah satu metodenya, terrarium atau miniatur taman dalam wadah kaca, seperti yang telah dilakukan Darmaji dan “ditularkan” ke para konsumennya. Berbisnis sekaligus melestarikan kaktus.

Tags: