Budidaya Okra Peluang Besar di Tanaman Langka

Image Source: faunadanflora.com

Banyak orang yang belum mengenal okra, apalagi menanamnya. Okra pun hanya dapat ditemui di beberapa pasar swalayan. Tapi, santernya berita jika okra mampu menurunkan kadar gula dalam darah, menyebabkan ia mulai banyak dicari. Kondisi tidak seimbang antara supply dengan demand ini, membuat harga jual okra terbilang mahal. Mengapa okra terkesan asing di telinga kita? Dan, apa itu okra?

Okra. Pernahkah Anda mendengar tentang tanaman ini? Jika belum, bisa dimaklumi. Sebab, tanaman yang bernama Latin: Abelmoschus Esculentus (sumber lain, menyebutnya Hibiscus Esculentus, red.) ini, meski sudah dibudidayakan di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda, tapi karena dalam masa pertumbuhannya tidak dipelihara dengan baik, maka keberadaannya pun tidak diketahui. Imbas lebih lanjut, boro-boro pernah mengonsumsinya, mengenalnya pun tidak.

Padahal, tanaman yang dimanfaatkan buahnya yang masih muda ini, sangat digemari masyarakat di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan. Lantaran, buahnya yang mirip oyong atau gambas tapi agak berlendir ini, dapat diolah menjadi beragam makanan yang lezat (di Tanah Air biasanya dimasak menjadi tumis, sayur bening, kare, lalapan, dan lain-lain, red.). Selain itu, tanaman yang berasal dari India Barat (sebagian literatur menyatakan bahwa tanaman perdu ini berasal dari Afrika Barat, red.) ini, juga berkhasiat bagi kesehatan.

“Berdasarkan uji analisa laboratorium di Prancis, diketahui bahwa kandungan yang terdapat pada buahnya yang masih muda dapat mempercepat proses pembentukan sel-sel otak, khususnya pada anak-anak balita (di bawah umur lima tahun), serta memperbaiki sistem saraf pada orang dewasa dan manula (manusia lanjut usia),” kata Rudi Yansyah. Di samping itu, okra termasuk sayuran (buah) hijau yang kaya serat pangan di mana kandungan serat tersebut sangat penting bagi tubuh. Karena, dapat mencegah sembelit, obesitas, kolesterol tinggi, penyakit kecing manis, dan kanker usus besar.

Berkaitan dengan itu, Rudi bersama rekan-rekannya gencar mensosialisasikan tanaman yang dijuluki Lady’s Finger (karena bentuk buahnya yang panjang dan meruncing di ujungnya seperti jari-jemari lentik seorang wanita terhormat, red.) ini, ke masyarakat melalui media, demplot, serta memberikan biji okra ke kelompok-kelompok tani, pengusaha sayuran, berbagai sekolah kejuruan pertanian, para peneliti, balai-balai hortikultura, dan pihak-pihak lain yang peduli agar nantinya dikembangkan.

“Dengan membudidayakan okra, maka tanaman ini di Indonesia, khususnya, tidak akan punah. Di samping itu, juga untuk mempopulerkannya ke masyarakat luas sebagai sayuran buah padat gizi, untuk menangkal anggapan masyarakat sebagai tanaman aneh sehingga mereka takut mengonsumsinya, untuk mengangkat okra menjadi komoditi unggulan pertanian organik, agar lebih variatif dalam pengolahannya, dan supaya nantinya dapat menjadi komoditi ekspor. Apalagi, okra ini rasanya enak, menarik, dan mudah dipelihara,” ujarnya.

Ya. Okra memang mudah dipelihara atau dibudidayakan yaitu dengan ditanam langsung di lapangan dengan media tanah organik. Cara lain yang juga bisa digunakan yaitu dengan sistem hidroponik (budidaya tanaman tanpa tanah, red.), seperti aeroponik. Kendati belum pernah dibandingkan hasil kedua cara membudidayakan tanaman ini, tapi dengan hidroponik dan aeroponik prosesnya lebih terkontrol dan bersih. “Okra dapat ditanam di seluruh wilayah Indonesia yang lokasinya 800 m di atas permukaan laut, memiliki tanah dengan ph 6−7, dan suhu 28°C−30°C,” ucapnya.

Pada musim kemarau, bisa disirami setiap hari atau seminggu dua kali, tergantung kondisi tanah dan tanaman. Sedangkan pemupukan susulan hanya diperlukan, bila kondisi tanaman memerlukan.

Sementara untuk benihnya, biasanya menggunakan buah okra yang sudah tua. Benih okra, sejauh ini, baru dapat diperoleh di P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Pertanian Cianjur, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat Jawa Timur, Kelompok Okra Batra Pare-pare, SMKN 1 Watang Pulu (Sidrap),  dan Snakma (SPP) Puncak Mario (Rappang).

Usai ditanam, dua bulan kemudian, buah okra sudah dapat dipanen. Selanjutnya, ia dapat dipanen secara terus-menerus selama dua bulan berikutnya. Bahkan, ada varietas yang dapat terus menerus dipanen selama 3−4 bulan. Dalam pemanenan, hanya buah okra berukuran 5−10 cm yang diambil. Buah okra yang berukuran terlalu besar atau terlalu tua, tidak baik untuk dikonsumsi, tapi baik untuk benih. Setelah dipanen, buah okra dapat dijual langsung ke konsumen dengan harga Rp15 ribu/kg. Sementara pohonnya, ketika sudah tidak bisa dipanen lagi, dapat dijadikan bahan bokashi (pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik, red.).

Sekadar informasi, okra mempunyai tiga varietas yang komersial yaitu pertama, Green Star yang memiliki buah yang sangat cepat masak, berwarna hijau tua, dan berbentuk segi lima tapi seginya tidak terlalu tajam dengan panjang sekitar 8 cm. Kedua, Better Five yang mempunyai buah yang sangat cepat masak, berbentuk segi lima dengan segi yang tajam, berwarna sedikit lebih muda daripada Green Star, dan panjangnya sekitar 8 cm. Ketiga, Sun Star yang juga memiliki buah yang sangat cepat masak, berwarna hijau, dan berbentuk segi lima dengan panjang sekitar 8 cm.

“Untuk sementara ini, sedang dilakukan percobaan terhadap buah okra muda yang di-blender hingga menjadi tepung. Lalu, tepung tersebut dikeringkan melalui proses pengeringan alamiah (dengan bantuan sinar matahari, red.). Selanjutnya, tepung yang telah mengering dicampur ke dalam makanan atau minuman. Tapi, tepung okra ini tidak dapat bertahan lama. Karena itu, perlu adanya teknologi lanjutan dan penelitian agar bisa bertahan lama,” katanya.

Dalam pembudidayaannya, okra yang di beberapa daerah di Bumi Nusantara ini dikenal dengan nama Kopi Tonro atau Kopi Tanduk (Sulawesi Selatan), Kopi Belanda (Kalimantan Tengah), dan sebagainya ini rawan dari serangan hama, seperti semut, ulat, dan belalang. Untuk memberantasnya, cukup dengan disemprot insektisida. Dan, jika yang menyerang jamur cukup disemprot dengan fungisida.

Tags: