Citra Dengan Kepompong Bermetamorfosa Jadi Pengusaha

Image Source: Flickr

Kepompong, bagi banyak orang, sekadar kepompong. Tapi tidak bagi Citra, yang justru dari kepompong itulah bakat bisnisnya muncul hingga mampu mewujudkan L’Cocoonique, sebuah bisnis profesional, bukan bisnis ala mahasiswa. Bagaimana prosesnya?

Pada dasarnya, ide bisnis bertebaran di mana-mana. Termasuk di dalam kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal ini, telah dibuktikan oleh Citra Ayu Furry, mahasiswi ilmu produksi & teknologi peternakan, Fakultas Peternakan, IPB. Ketika itu, Citra, begitu ia biasa disapa, dan teman-temannya sedang mengikuti praktikum di mana sang dosen menerangkan bahwa di samping ulat sutera putih yang selama ini dikenal, ada pula ulat sutera cokelat dan ulat sutera emas yang notabene sampai sekarang belum dapat dibudidayakan.

Kemudian, praktikum berlanjut dengan mengunjungi kandang yang lokasinya berada di belakang kampusnya. Tak dinyana tak diduga, di sana mereka menjumpai ulat-ulat sutera emas, yang entah datang dari mana dan bagaimana caranya. “Dosen kami langsung meminta kami memelihara ulat-ulat itu, tanpa refensi apa pun. Dengan kata lain, beliau meminta kami menggali informasi sendiri bagaimana membudidayakan ulat ini,” kisah gadis berkerudung ini.

Lalu, ulat yang bernama Latin cricula trifenestrata itu mereka amati dari menjadi kepompong hingga kupu-kupu. “Ada sebuah kebiasaan di kalangan mahasiswa, jika selesai praktikum akan disibukkan dengan ujian. Selanjutnya, ‘disibukkan’ dengan libur panjang. Imbasnya, kepompong-kepompong yang ditinggalkan begitu saja itu pun terabaikan. Tapi, saya tertarik dan mengagumi kepompong-kepompong berwarna kuning keemasan dan memiliki semacam motif/corak yang tidak beraturan tapi justru artistik, yang bergelantungan di pohon-pohon. Keren sekali,” tutur Citra, yang saat itu masih kuliah di tingkat III.

Lantas, kepompong-kepompong cantik itu pun ia ambil dan dibuat menjadi bros. Selanjutnya, kelahiran Bekri, Lampung, 23 Januari 1989yang pintar membuat pernak-pernik itu, memakai bros buatannya ke kampus. Orang-orang di kampusnya pun kaget atau lebih tepatnya, mengaguminya. Dari situ dan celotehannya tentang kepompong ulat sutera asli Indonesia itu, pihak Rektorat pun mendengar, memanggil, dan memintanya mengikuti pameran Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Malang.

“Keberhasilan mengikuti PIMNAS membuat saya melihat prospek cerah sekaligus potensi yang sangat besar pada kepompong ulat sutera emas. Hal ini, juga semakin memantapkan niat saya untuk menjadikannya bisnis, yang sudah muncul sejak melihat kepompong-kepompong itu,” ungkap juara 1 lomba karya tulis wirausaha mahasiswa dalam PIMNAS Makassar ini.

Niat itu pun diwujudkannya ketika ia lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa, sehingga memperoleh dana hibah sekitar Rp7 juta yang lantas dijadikannya modal kerja. Sementara untuk tenaga kerja, ia memberdayakan teman-teman kuliahnya. Untuk bahan bakunya, ia berburu hingga ke seluruh Jawa dan Sulawesi dengan harga Rp100 ribu−Rp150 ribu per kilogram, tergantung kualitasnya.

Namun, jalannya usaha yang diberi nama L’Cocoonique itu tidak semulus yang dibayangkan. Terutama dalam pencarian bahan baku dan kemungkinan persediaan sedang habis. “Untuk mengatasinya, sejak beberapa waktu lalu saya sudah melakukan stok. Selain itu, juga menjadikannya bahan penelitian untuk tugas akhir saya di mana di sini saya juga mengajak para petani agar tidak membunuh ulat ini, tapi justru mengumpulkannya,” jelas juara 1 pameran produk di PIMNAS Bali ini.

Kendala berikutnya yaitu pemasarannya. Menurut Citra, pada dasarnya, semua anggota masyarakat tertarik dengan produk yang mengarah pada aksesori wanita (bros, anting-anting, gelang, kalung, cincin, tusuk konde, dompet, tas, dan sebagainya) ini, tapi mereka mengeluhkan harganya yang berkisar Rp25 ribu−Rp400 ribu.

“Kemudian, saya mengikuti coaching dan workshop yang mengajarkan tentang spesifikasi segmen. Dan, saya pun menata ulang segemen usaha saya dan mengubahnya dari segmen menengah ke bawah menjadi menengah ke atas. Berkaitan dengan itu, desain produk diubah dan saya tidak lagi menggunakan teman-teman, tapi mempekerjakan lima karyawan di bagian produksi,” kata Citra, yang membangun home industry-nya di kawasan Manggarai (Jakarta) dan Cibeureum (Bogor) dengan kapasitas produksi 500 buah/bulan. Produk-produk ini 50%−75% nya diserap pasar melalui sistem penjualan online.

Uniknya, kendala-kendala yang ia jumpai dalam usaha yang dibangun awal Januari 2010 itu sama sekali tidak mempengaruhi kuliahnya. Diakuinya, kuliah memang menyita waktu, tapi tidak sampai membuatnya mengabaikan bisnisnya. Di sisi lain, kesibukan membangun bisnis tidak sampai membuat nilai-nilai kuliahnya anjlog. “Saya justru memperoleh ‘sesuatu’ dari bisnis ini. Saya merasa telah menjadi ‘orang’. Saya merasa tertempa dan menjadi ‘matang’ karena harus berhadapan dengan konsumen atau klien, mengkordinasi teman-teman, dan sebagainya. Saya merasa telah menjadi lebih baik, terutama di mindset yang membuat saya open mind. Singkat kata, saya sudah siap dengan dunia kerja,” ungkapnya.

Namun, dia juga mengakui bahwa justru, saat ini, ketika ia sudah di tingkat akhir dan harus membuat skripsi, pikirannya terpecah. Akhirnya, ia memutuskan konsentrasi di bisnis agar tidak tenggelam dan menunda pembuatan skripsi. Nantinya, setelah bisnis mulai stabil, ia kembali fokus ke skripsi. “Ada strategilah,” ujarnya. Diakuinya pula bahwa bisnis memang berisiko. Selalu saja ada masalah yang muncul. Tapi, setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. “Nah, proses mencari jalan keluar itulah yang nantinya akan membentuk pendewasaan diri serta kematangan dan kesiapan mental untuk melangkah ke dunia kerja,” imbuhnya.

Apa yang dilakukan oleh Citra bisa dimaklumi, mengingat pasar menerima produk-produknya dengan tangan terbuka. Di luar itu, dengan adanya isu go green, produknya pun didukung para pecinta lingkungan hidup. Di sisi lain, kepompong ulat sutera itu sendiri mempunyai potensi yang sangat besar. Sebab, kepompong ini jika nantinya dipintal akan menjadi benang sutera yang notabene bahan baku utama pembuatan kain. “Mimpi besar saya, nantinya kreasi saya akan berkembang ke arah dunia fesyen dan furnitur. Selain itu, bila selama ini masyarakat dunia hanya mengetahui bahwa sutera berasal dari Cina dan Jepang, suatu saat ketika mereka berbicara tentang sutera emas maka yang terlintas adalah Indonesia,” pungkasnya, optimis.

Tags: