Diskusi Politik yang tidak Hanya Sekedar

Lalu dimanakah ruang diskusi politik berada?

Di era kebebasan politik saat ini, diskusi-diskusi tentang politik mengalir deras. Dari sekedar bincang di warung kopi, di ruang-ruang perkuliahan, di jejaring sosial, café-café dan hotel berbintang, sampai di group-group Blackbery(grup BB). Semua orang tidak habis berdiskusi tentang politik, walaupun pada saat yang sama banyak orang mulai muak dengan politik.

Dalam berbagai diskusi politik, biasanya dimulai dari pembicaraan tentang issue terkini, baik tentang negara dan para elit politiknya, hingga diskusi tentang politik pergerakan yang sampai saat ini masih digeluti oleh para aktivis politik.

Namun demikian, pada diskusi politik sesungguhnya harus bersepakat dengan ‘khittah’ dasar diskusi pada umumnya. Harus tetap mencerahkan, mendewasakan dan mencerdaskan.

Tetapi, sampai saat ini  banyak kejadian dalam diskusi politik kemudian berkembang menjadi perdebatan dan perselisihan, hanya karena berbeda pendapat politik, berbeda kutub dukungan politik atau kepentingan politik. Disinilah diskusi politik harus bisa bersinergi dengan politik diskusi yang harus digenapi dengan kemampuan, pemahaman dan pengetahuan yang cukup. Kalau tidak maka diskusi politik hanya menciptakan debat kusir yang mempertajam beda pendapat yang tak berkesudahan.

Politik diskusi mengajarkan keterampilan yang mumpuni untuk menyatakan pendapat politik, mempertahankan pendapat dengan argumentasi politik, dan menerima pendapat politik lainnya dengan kedewasaan politik.

Sekedar mengingat-ingat, saya pernah menyampaikan pada Eep Syaefullah Fatah, bahwa politik itu sangat praksis, kental praktik. Teori politik yang daiajarkan dalam ruang perkuliahan fakultas ilmu politik juga sebenarnya dipijakkan pada praktik-praktik politik yang pernah terjadi, lalu dikonsepsikan menjadi teori.

Kalau berdasarkan fakta ini, maka selayaknya para aktivis politik yang lebih praksis dalam politik harusnya lebih mampu mengelola ‘rasa’ ketika berdiskusi politik. Dibanding kaum akademisi yang berkutat hanya pada buku dan teori maka kaum aktivis politik dianggap lebih “menjejak bumi”.

Lalu kenapa masih ada saja kaum aktivis yang lantas serta merta bersengketa karena berbeda sudut pandang politiknya?

Disinilah kaum akademisi sementara bisa dianggap unggul, karena lebih dewasa. Kematangan diskusi politik ternyata bukan disandarkan semata pada pengetahuan dan pengalaman politik. Hanya kedewasaan politiklah yang akhirnya menjadi jawaban paling rasional yang wajib dimiliki untuk masuk dalam ruang diskusi politik.

Pengetahuan tanpa pengalaman adalah mimpi, pengalaman tanpa pengetahuan ibarat perang tanpa strategi, tetapi keduanya (pengetahuan dan pengalaman) hanya akan menjadi baik apabila kita mau memasukkan variabel kedewasaan dalam salahsatu semangat menjalankannya. Tanpa itu, diskusi politik yang berbasis kepada politik diskusi paling mapan-pun akan sia-sia dan membabi buta.

Diskusi politik yang tidak bersandar kepada politik diskusi yang mendewasakan akan menjadi hitam putih secara absolut. Kita akan mempraktikan penolakan besar kita kepada ilmu dan pengetahuan yang mungkin saja disampaikan oleh lawan diskusi kita.

Dalam konteks keterbutuhan kita kepada hadirnya orang-orang muda yang mencerahkan bagi bangsa ini, maka kemutlakan kepada perilaku yang ajeg dalam praktik diskusi politik yang baik sudah seharusnya digagas dan dilaksanakan oleh orang-orang muda tersebut.

Kalaulah anda mengaku orang muda tapi anda berperilaku kaku, maka dapat dipastikan anda tak akan berada dalam khazanah politik masa depan Indonesia. Jangan dahulu bicara kualitas akademik, jangan dahulu bicara kualitas kompetensi lainnya apabila kita tak jua mampu memperlihatkan kualitas kedewasaan kita dalam praktik dasar politik dalam berdiskusi. Politikus tak bisa dicetak, dia hanya akan dilahirkan oleh peradaban.

Tapi seiring itu pula sesungguhnya sudah berjuta anak peradaban “gugur” sebelum berkembang hanya karena mereka tak juga mau dan mampu mendewasakan dan mematangkan dirinya dalam berpolitik. Nah, untuk kesana maka mulailah dengan mau mendewasakan dan mematangkan diri melakukan diskusi politik dalam semangat politik diskusi yang dewasa. Selamat berdiskusi, selamat berpolitik.

Irwan Suhanto
Penikmat diskusi politik
Tinggal di Jakarta

Tags: