Dry Bag Ngetrend Tetapi Persediaan Terbatas

Lebih dari fungsinya, tas juga merupakan bagian dari lifestyle.Mengganti tas lama dengan tas baru, merupakan sebuah keharusan untuk itu. Lantas, mengapa dry bag (brandtas berbahan dry denim), kian lama dipakai tanpa cuci, justru digemari banyak anak muda? Itulah peluang yang kini digarap sendiri oleh David Yuwono

Celana dry denim (dry jeans) kini ngetrend di kalangan anak muda. Sebuah merek impor celana yang berbahan raw atau dry denim itu, bahkan rela dibeli dengan harga jutaan rupiah. Pasalnya, celana tersebut keren bila kian lama dipakai. Fading atau perubahan warna alami, sobekan serta lipatan-khasnya adalah yang ditunggu-tunggu celana ini. Untuk itu, mereka harus rutin memakainya selama setahun tanpa cuci.

Tren itu terjadi pada celana. Nyaris belum tercipta produk lain di luar celana dari bahan dry denim. Padahal, hasil keren yang ditunggu-tunggu bisa terasa pada produk apa pun berbahan dry denim. Peluang itulah, yang akhirnya mengilhami David Yuwono, membuat produk tas berbahan dry denim, Mei 2010 silam.

“Saya pakai tas yang kalau dipakai makin lama makin jelek. Saya pikir, kalau misalnya tas dibuat dengan bahan dry denim, pasti kalau makin lama dipakai makin keren,” ujar mahasiswa semester akhir Prasetiya Mulya Business School ini. Bermodalkan uang jajan Rp500 ribu dari orang tuanya, melalui penjahit yang susah payah didapatkannya, ia mencoba membuat tas berbahan dry denim.

David, begitu ia akrab disapa, trial and eror dengan produknya selama sebulan. Tetapi karena tas dry denim masih sangat langka, bagi anak-anak muda yang suka celana dry denim tertarik untuk memiliki dry bag buatannya. “Pertama saya bikin 5 hingga 7 tas untuk sampel, ditawarin di SMA Gonzaga Pejaten (salah satu SMA di Jakarta red.) dan meledak di situ,” imbuhnya. Dalam tiga hari ia lalu mendapat order hingga 120 tas dari anak-anak sekolah SMA tersebut.

Dari perputaran modal usaha itu – dibantu suntikan dana dari orang tuanya, David akhirnya berani membuat readystok buat tas-tasnya. “Sebab, pelanggan saya bukan hanya dari SMA tersebut saja, tetapi juga sudah mulai banyak, baik dari resellerbuyer-buyer lain dan sebagainya,” imbuhnya. Karena masih langka, tasnya pun menjadi perbincangan dari mulut ke mulut di dunia maya, sehingga ia pun harus berputar akal untuk menambah kapasitas produksinya.

Hingga saat ini, total pendapatan dari penjualan tasnya dalam sebulan bisa mencapai Rp18 juta hingga Rp25 juta. Harganya berkisar dari Rp164 ribu hingga Rp229 ribu per tas. Sementara order minimal dalam sebulan bisa mencapai 120 tas. “Setiap pesanan, untuk daerah Jabodetabek, kami tidak menambahkan ongkos kirim,” ujarnya. Sebab, ia belum memiliki tempat khusus untuk menjualnya dan masih berdasarkan pesanan.

Namun, David telah mengetahui pasar tasnya. Tak sedikit pun niat untuk membuat pabrik tas sendiri berbahan dry denim. Untuk itu, hingga saat ini, ia masih terikat kontrak dengan pekerja outsourching di sebuah lokasi di Jakarta. Di dalamnya ada kepala mandor (pemilik usaha konveksi tersebut), serta beberapa orang penjahit. “Saya itu lihat dari kerjanya Nike (perusahaan dari Amerika red.), dia gak ada pabrik tetapi kerjanya bagus,” imbuhnya. Selain modalnya besar, tren dry bag suatu waktu bisa saja berpudar. Untuk pengejerjaan satu tas, biaya yang harus dikeluarkannya sebesar Rp 115 ribu.

Seperti tas berkualitas umumnya, dry bag miliknya terbuat dari jahitan ganda, sehingga  lebih kuat. Ukurannya berkisar setinggi 43 cm dengan lebar 35 cm serta (standart) dan tinggi 38 cm dan lebar 32 cm yang ukuran mini. “Di dalamnya ada furing atau lapisan kedap air sebanyak 80 persen,” katanya. Jenis tas lainnya, terlihat mengkilap sebab mengalami pencucian dan finishing dengan celupan achrilic. Didalamnya dilapisi furing full sebesar 90 persen waterproof.

Sementara untuk desain, ia melanjutkan, ia lebih memilih klasik. Selain karena simpel, juga unik bagi segmennya. “Jangan bikin customer tambah ribet, nanti malah jadi jelek,” ujarnya. Kendati akan terjadi kompetisi, ia tetap yakin ketekunan dan keuletan dalam menjalani bisnis bisa menambah peluang mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi.

Di tahun ini, ia memiliki target akan memasuki toko-toko offline, seperti distro, toko baju, toko tas atau ke Matahari atau Sogo. “Sebab anak muda itu loyalityakan sebuah brandsangatlah minim. Mereka lebih suka yang berkualitas tetapi harganya murah,” katanya.  Ia pun mengklaim, bila tas-tas miliknya masih worthed di pasaran bagi kalangan anak muda.

Peluang ke depan untuk dry bag, kata dia, tak bisa diprediksi. Sebab, yang namanya tren, sesewaktu bisa berubah. “Saya sudah mesti lari main ke kain lain. Saya sekarang ini, yang mau lagi ngetrendnamanya kain khaki. Warna coklat, warna bumi kainnya,” katanya. Namun, dry denim tetap akan mendapatkan hati di pelanggan, sebab sejarah mencatat, bahan dasar denim disukai sepanjang masa. Tertarik?

Tags: