F-16 Motor: Bengkel Khusus Motor Lifestyle

Bengkel motor dibutuhkan saat motor rusak atau butuh perawatan. Itulah  kue yang diperebutkan oleh semua bengkel motor di tanah air. Namun, berbeda dengan F-16 Motor. Pemilik motor yang mementingkan lifestyle adalah pasar yang digarapnya sendiri. Peluang memuaskan hasrat keuntungan sebagai terwaralabanya pun masih terbuka lebar. Berminat?

Motor mogok di tengah jalan, bukan perkara berat lagi. Pasalnya, bengkel motor yang memberikan jasa service kian gampang dijumpai. Bahkan, untuk jasa service yang sama tak sedikit pilihan bengkelnya. Bisa dilihat, di sepanjang jalan bengkel motor berderet dari dinding ke dinding. Selangkah di atasnya ada bengkel motor bermerek sekelas ruko serta bengkel-bengkel resmi motor tertentu.

Siapa pun yang datang ke bengkel-bengkel tersebut hanyalah faktor kebetulan saja. Semisal kebetulan motornya mogok di tengah jalan atau kejadian seperti ban gembos. Sementara untuk perawatan seperti ganti oli dan sebagainya, paling dilakukan selama periode tertentu saja.

Tidak demikian dengan F-16 Motor. Di bengkel tersebut pemilik motor sudah tak peduli lagi seberapa besar uang, jarak dan waktu yang telah dibuang demi motornya.  Apa pasal? Bengkel tersebut adalah bengkel lifestyle. Seperti umumnya diketahui, yang namanya tuntutan lifestyleuang bukanlah masalah. Begitu juga yang terjadi dengan bengkel motor milik Willy Dreeskandar ini.

Bengkel ini lebih sebagai butik, fashion dan modifikasi. Sementara jasa service sengaja ditempatkan di urutan paling akhir. Hal itu karena jasa service bukanlah jasa utama seperti yang diberikan bengkel motor umumnya. “Outlet F-16 itu sudah seperti orang kalau misalnya mau beli baju masuk ke fitting room, dia coba-coba, mencari yang terbagus buat motornya,” ujar Willy tentang fungsi bengkelnya sebagai butik.

Sementara nilai fashion yang dimaksud adalah ia menjual berbagai barang motor yang sedang ngetrend alias fashionable. Jangan heran, berbagai jenis ban motor hingga velg yang tak pernah di jumpai dipabriknya sekali pun tersedia di bengkel ini. Begitu juga barang-barang motor lainnya baik buatan dalam maupun luar negeri.

Setelah berjodoh dengan barang pilihannya yang fashionable tadi, pemilik motor berlanjut mengenakannya pada motor. Mekanik F-16 Motor yang juga berlaku sebagai modifikator pun berkreasi. Di sisi lain, karena bengkelnya selalu melahirkan modifikasi yang terbaru, maka tak heran F-16 kerap meniupkan tren modifikasi baru ke seluruh Indonesia.

Sebagai misal, dahulu saat velg besar untuk motor belum umum, jauh-jauh hari F-16 sudah meciptakanya. “Kita membuat velg yang besar dari bahan velg mobil. Kalau umumnya jari-jari standartnya cuma 36 batang yang kecil-kecil, waktu itu kita bikin yang rapat, sampai 72 batang,” urainya seraya melanjutkan, sebelum tren velg besar itu turun, ia sudah membuat tren yang baru yang lain.

Tahun lalu, modifikasi motor skutiknya sempat mejeng di sampul depan media otomotif. Singkat cerita, kemampuan dalam menciptakan pasar dan tren, membuat bengkel motornya laris manis. F-16 bukan hanya diburu pecinta motor, tetapi juga oleh calon franchisee. Sejak berdiri tahun 2008 di Ciledug, permintaan menjadi franchisee-nya kian tinggi.

Tahun 2010 akhirnya Willy memfranchisekannya. Saat ini franchisee-nya sudah bertengger di atas angka dua puluhan. Jumlahnya akan terus bertambah, sebab dirinya tengah menyeleksi beberapa calon franchisee. Lantas, semudah apakah usaha ini bisa hidup di tangan franchisee?

Momok lamanya waktu menyelesaikan modifikasi ditangkisnya dengan membuat sistem agar modifikasi lebih cepat. “Sekarang semuanya serba instan. Kita gak bisa lagi bikin motor dengan konsep besar, modifikasi besar tetapi berlama-lama. Itu sangat tidak menguntungkan,” jelas suami Dewi Rachel ini. Manual dari sistem tersebut diajarkan kepada franchisee.Agar lebih yakin, saat awal beroperasi ia mengirim mekanik senior untuk transfer ilmu saat awal beroperasi. 

Mengenai sistem modifikasi instan tersebut, Willy mencontohkan, misalnya motor matik 110 cc dinaikin menjadi 150 cc. “Itu kita sudah siapkan bloknya, pistonnya, ring pistonya dan sebagainya. Pemasangannya paling butuh waktu dua jam termasuk seting karburator,” terang mantan wartawan, redaktur serta pimpinan redaksi beberapa media otomotif ini.

Untuk memiliki franchise F16, kata Willy, franchisee harus membayar management fee sebesar Rp 70 juta. Selain itu, di luar biaya sewa tempat, franchisee juga setidaknya menyiapkan Rp 150 juta untuk barang dan perlengkapan bengkel. “Tetapi tidak wajib sebesar Rp 150 juta, tergantung kebutuhan saja,” lanjutnya. Barang-barang tergantung karakter pasar di daerah  franchiseeberoperasi.

Willy melanjutkan, masa kerjasama dengan franchisee berlangsung selama 2 tahun. Hanya saja tidak seperti umumnya usaha franchise, ia tak mematok royalty fee bagi franchisee.Ia juga menyiapkan dua orang mekanik yang telah dididik di F-16 pusat serta  satu sales di butik untuk outlet franchisee. Perhitungan tentang pendapatan franchiseetak muluk-muluk.

“Saya sangat tidak muluk-muluk, paling banyak sehari cuma 10 motor saja,” katanya. Untuk orang yang modifikasi minimal sudah mengeluarkan Rp250 ribu per motor. franchisee juga diperkirakan bisa mengantongi margin sebesar 60 hingga 70 persen dari setiap motor.

Tags: