Jokowi Sebagai Sebuah Kebutuhan PDIP Harus Dengarkan Kehendak Rakyat

SIUNTUNG.COM–  Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas yang menunjukan dengan gayanya kemimpinnanya yang membela kepentingan rakyat. Rakyat Indonesia tidak butuh lagi pempimpin yang banyak retorika dan selalu bangga dengan hasil pencapaiannya dengan bermain di angka. Kedekatan dan loyalitaas dengan menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat inilah yang kini diinginkan Rakyat Indonesia. Inilah yang tidak bisa dibantah!

Pemilihan Umum 2019 sudah di depan mata, sejumlah calon presiden pun sudah muncul dan memperkenalkan diri ke masyarakat dengan caranya masing-masing. Namun, ada satu hal yang menarik, yaitu , Joko Widodo. Presiden dari PDI Perjuangan ini selalu menempati posisi tertinggi dalam setiap survei yang digelar. Padahal, hingga saat ini, pencapresan Jokowi dari partainya sendiri masih misteri.

Fenomena baru, kalimat ini layak dialamatkan kepada sosok Jokowi. Bagaimana tidak, ususlan Jokowi untuk memimpin republik ini datang dari kehendak rakyat, bukan dari keinginan segelintir elit politik di negeri ini. Sejarah baru telah mencatat, suara rakyat dalam setiap survei menginginkan Jokowi maju sebagai presiden 2019. Fenomena ini sudah lama tidak tercermin dalam setiap pemilihan presiden yang lalu dimana rakyat hanya dipaksa memilih presiden yang telah dideklarasikan sejumlah partai. Rakyat hanya berbondong-bondong ke TPS dan memilih nama capres dan sesudah itu selesai.

Mengutip dari isi puisi Wiji Tukul  yang terkenal :

Jika rakyat pergiKetika penguasa pidato/Kita harus hati-hati/Barangkali mereka putus asa/Kalau rakyat bersembunyi/ Dan berbisik-bisik/Ketika membicarakan masalahnya sendiri/Penguasa harus waspada dan belajar mendengar/Bila rakyat berani mengeluh/Itu artinya sudah gawat/Dan bila omongan penguasa/Tidak boleh dibantahKebenaran pasti terancam/Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
 /Suara dibungkam kritik dilarang/ tanpa alasanDituduh subversif dan mengganggu keamanan/Maka hanya ada satu kata: lawan!

Puisi ini hanya sebagai perenungan saja. Hanya mengingatkan saja, bahwa suara rakyat tidak bisa dibungkam. Suara rakyat adalah

kehendak dahsyat yang siapapun melawannya akan menjadi korban dari kekuatan rakyat.

Kembali ke soal Jokowi,  Rakyat tidak memandang lagi Jokowi memimpin Indonesia yang baru satu periode. Dilihat dari kurun waktu memimpin Indonesia ini, Jokowi layak menjadi capres. Walau masih banyak yang belum diselesaikan oleh Jokowi. Tetapi, saat ini, faktor keperluan terhadap sosok pemimpin yang baru dan merakyat paling berperanlah yang menjadi pertimbangan rakyat sehingga mantan Walikota Solo itu menjadi pilihan paling utama dalam memimpin negera beribu pulau ini. Indonesia memerlukan dia sekarang! Jokowi sebagai sebuah kebutuhan.

Ini merupakan sebuah peringatan besar kepada elit-elit politik yang menempatkan transaksional dan kepentingan pribadi dalam memilih pemimpin untuk hati-hati. Ini juga sebagai pengingat bagi PDI Perjuangan agar mempertimbangkan Jokowi yang dikehendaki rakyat untuk memimpin republik ini. PDI Perjuangan sebagai satu partai yang konsisten dalam membela dan mendengar suara rakyat diuji dengan suara-suara rakyat meminta Jokowi menjadi presiden.

Dilihat dari sejarah, bersuaranya rakyat meminta Jokowi sebagai presiden bisa dimaknai sebagai sebuah kebangkitan rakyat Indonesia. PDI Perjuangan memilih Jokowi maka bisa dimakani, PDI Perjuangan semakin menegaskan bahwa dirinya konsisten membela kepentingan Rakyat dalam semua kondisi dan rezim yang ada.

Sebagai Partai besar, PDI Perjuangan harus benar-benar menjadi sebuah partai yang menyuarakan kehendak rakyat sebagaimana Ketua Umum Megawati di Ancol beberapa waktu lalu mengungkapkan Bahwa Berpolitik adalah mewujudkan kehendak rakyat. Dan Kalimat ini bisa didefinisikan termasuk dalam urusan memutuskan seorang pemimpin masa depan.

PDI Perjuangan pasti tidak lupa sejarahnya di dunia Politik Indonesia. Sejak orde baru , PDI yang kemudian berubah menjadi PDI Perjuangan ini seolah-olah tidak pernah “diizinkan “ untuk menang . Tengoklah selama zaman Orde Baru,  partai ini dihabisi dan diburu atas perintah Suharto . Dan ketika mau mulai bersatu, aparat intel melakukan operasi klandestin dari dalam , dan pecahlah partai ini menjadi berkeping keping , ada PDI Suryadi dan ada pula Promeg .

Tahun 1996 dihajar habis lagi melalui kasus “Kuda tuli “ dan partai ini semakin babak belur  . Ketika tirani Suharto jatuh rakyat ternyata mengelu-elukan Megawati dan PDI Perjuangan menang dengan telak karena Rakyat bersatu dan senasib dan sebathin dengan nasib Megawati, .Sayangnya, kemenangan itupun tak membuahkan hasil apapun, yang jadi presiden justru partai yang hanya memiliki kursi 7 persen saja . Dengan segala macam rekayasa PDI Perjuangan dikeroyok dan hanya mampu mendudukkan Megawati jadi Wapres .

Tahun 2004 melalui berbagai kecurangan, PDI Perjuangan kalah dan turun menajdi partai ke-2 dan kalah lagi pada tahun 2009 dengan menjadi ranking ke-3 setelah Demokrat dan Golkar .

Sekarang ketika PDI Perjuangan sedang beranjak naik, banyak pihak mulai takut dan mulai melakukan agitasi , intrik dan rekayasa agar partai ini boleh menang alias “tetap kalah “. Bahkan operasi klandestin pun dilakukan agar partai ini lemah dan mudah dihancurkan dari dalam.

Hal inilah yang harus diwaspadai oleh Partai PDI Perjuangan bila tidak ingin hancur di 2019. PDIP harus bisa melawan semua intrik dan agitasi yang berujung kepada pelemahan partai ini, PDI Perjuangan harus benar-benar “Seurat senadi” dengan Rakyat.

Bagaimana pun juga, jika dikelola dengan baik, suara rakyat akan mampu menjadi benteng untuk melawan pelemahan itu. Kehendak rakyat harus menjadi pilihan utama PDI Perjuangan termasuk menentukan pilihan  di 2019 nanti.

Sudah sepatutnya PDI Perjuangan belajar dari pengalaman-pengalaman lalu dalam menentukan langkahnya yang selalu berujung kekalahan. PDI Perjuangan harus mengenyampingkan kepentingan kelompok atau individu, PDI Perjuangan juga harus benar-benar bersatu, satu tujuan dan satu perjuangan.

Kini momentum itu datang, Jokowi yang merupakan salah satu kader terbaiknya, dikehendaki oleh rakyat, dimana-mana nama Jokowi sudah disuarakan sama seperti rakyat Indonesia dulu di jaman penjajahan menyuarakan pekik kemerdekaan.

Hanya ada satu kalimat untuk PDI Perjuangan, Dengarkan suara rakyat pasti menang, atau bermanuver dan melawan kehendak rakyat berujung Kalah!

(SON/njp)

Tags: