Iga Bakar Mas Giri: Membuat Pelanggan Rela Berantrean

Image Source: Javanewsonline.Com

Sejak dibuka dua tahun silam, restoran Iga Bakar Mas Giri Bandung membuat pengunjungnya rela ngantre berjam-jam. Bukan hanya karena rasanya yang menggugah selera, tetapi juga iga sapi yang disuguhkan dalam setiap olahannya adalah iga sapi original. Seperti apa?

Siapa pun pasti setuju, dinginnya kota Bandung bisa menggelorakan selera makan. Tidaklah heran, berburu kuliner sudah menjadi bagian dari wisata belanja di kota berjuluk Paris Van Java itu. Beragam pilihan makanan pun kian gampang ditemui di setiap ruas jalannya. Namun, makanan yang bisa mengusir hawa dingin lebih menjadi pilihan, semisal berbagai jenis menu olahan iga sapi.

Bila sebelumnya makanan olahan iga sapi merupakan menu hotel berbintang hingga restoran kelas atas – yang bahkan rela didapatkan dengan harga lebih dari dua ratusan ribu rupiah, kini menu yang sama sudah tak lagi membolongi kantong. Kendati demikian, bagi orang Bandung yang kritis dalam berburu kuliner, harga atau kemewahan tempat bukanlah masalah bila berbicara soal rasa dan kualitas iga.

Itulah sebabnya, semenjak hari ketiga restoran Iga Bakar Mas Giri mulai beroperasi di kota Kembang itu – tepatnya di bilangan Jalan Aceh,  langsung menuai animo besar warga Bandung. Pengunjung dari seantero kota itu dibuatnya rela ngantre berjam-jam demi menikmati menu-menunya. “Daging iganya asli nempel di tulang, bukan daging yang diambil dari tempat lain terus tulangnya disisipin,” ungkap Elvin Elviana, pemilik restoran itu tentang salah satu keunggulannya.

Menurutnya, bagi pecinta kuliner yang kritis pasti mengetahui mana iga sapi yang asli atau iga sapi yang tulangnya disisipi daging, seperti halnya orang Bandung yang lebih kritis tentang itu. Tak sekadar iga original, iga yang diolahnya pun bukanlah iga dari freezer yang sengaja disimpan lama, melainkan iga sapi lokal yang langsung habis diolah dalam sehari.

“Kendati terasa berat begitulah cara kami mempertahankan kualitas iga sapi,” tukas pemegang hak master franchise semua brandwaralaba di bawah grup Wong Solo untuk wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Bali ini. Dalam sehari restorannya bahkan bisa menghabiskan 300 kg hingga 1 ton iga sapi lokal.

Ukuran olahan iganya relatif tebal. Iga bakar sebagai ciri khas atau iga penyet, disuguhkan dengan porsi 150 gram dan 200 gram. Dengan ukuran seperti itu, ia tak melambungkan harganya hingga ratusan ribu, tetapi hanya dengan Rp23 ribu hingga Rp33 ribu saja. Bahkan, menu-menu tersebut sudah menjadi satu paket dengan nasi, kuah iga bakar, lalap dan sebagainya.

Bosan dengan iga bakar atau iga penyet, di restoranya juga tersedia bermacam menu olahan iga. Di antaranya sop iga, iga gule,  sate iga hingga bakso iga. “Kami juga melakukan inovasi, selain iga bakar original, kami menyediakan iga bakar black pepper,” tambahnya. Rasa pedas lada hitam pada menu inovasinya itu ternyata cukup menyedot minat pengunjung.

Tak berhenti sampai di situ. Perpaduan bumbu lokal yang terasa di setiap gigitan iganya merupakan sebuah daya tarik tersendiri. Sensasi spicy atau pedas sedikit menyatu dengan aroma harum rempah yang bila dicicip terasa jelas pedas, manis dan asemnya. “Kendati tebal, dagingnya terasa kenyal bila disantap sebab telah melewati proses perebusan selama lebih dari empat jam,” lanjut dia.

Bagi yang tak kuat pedas, tak usah khawatir. Pasalnya, para pelayan di restoran ini siap mendengar apa pun permintaan pengunjung. “Di sini tidak ada kata ‘No’ semuanya ‘Yes’,” tegasnya. Bagi yang tak suka pedas, tinggal menyampaikan kepada pelayan agar tak dibuatkan menu iga yang pedas.

Menikmati olahan iga yang pas di lidah, tentu lebih enjoy bila didukung tempatnya. Ia pun mempersilakan pengunjungnya agar bisa bersantap lebih santai di dalam ruangan berkapasitas 150 orang itu. Tak ada aturan seperti larangan merokok dan sebagainya, sehingga pengunjung lebih leluasa dan nikmat dalam acara berburu kulinernya. “Bahkan desain warna yang tadinya dianggap ramai, ternyata banyak disukai pengunjung,” terangnya tetang desain interior restoran tersebut.

Alhasil, restoran yang tak absen antrean pengunjung itu, berhasil menoreh omset yang kian melesat. “Hari pertama beroperasi sebesar Rp 2,8 juta, hari kedua Rp 3,8 juta, hari ketiga sudah di atas Rp 9 juta,” katanya mengenang saat awal beroperasi dua tahun silam. Kini, omsetnya sudah bertengger di atas Rp 20 juta per hari atau tiga kali lipat dari nilai itu di saat hari libur.  

Cuma karena di sini turn over-nya tinggi, saya sengaja gak mau kasih tv dan jualan kopi. karena itu tahan turn over. Kalau Minggu, antrean di depan sudah banyak. Kalau kita kasih kopi, kasihan yang lainnya,” pungkasnya. Saat ini restorannya pun telah menjadi icon iga bakarnya kota Bandung.

Tags: