Kerukunan Umat Beragama Itu Benteng NKRI

JAKARTA, SiUntung.com – Menteri Agama RI Suryadharma Ali meminta masyarakat untuk terus menjaga dan merawat kerukunan antar umat beragama, agar tidak ada kekuatan besar apapun yang mengganggu kerukunan yang sudah berlangsung selama ini. Sebab, kerukunan umat beragama itu menjadi benteng berbangsa dan bernegara sekaligus untuk mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kerukunan umat beragama itu menjadi benteng NKRI, maka kita harus rukun antar suku, antar budaya, antar adat-istiadat yang berbeda, antar agama, antar kampung, antar kota,  antar ormas, antar partai dan seterusnya. Karena hanya dengan kerukunan itu bangsa ini bisa membangun dan mencapai cita-cita founding fathers– pendiri bangsa ini,” tegas Menag RI di depan ribuan peserta ‘Gerak jalan kerukunan antar umat beragama’  yang digelar oleh Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, di Bengkulu.

Hadir antara lain Dirjen Bimas Islam Kemenag RI H. Abdul Jamil, Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah, Wagub Sultan Bachtiar Najamuddin, Kakanwil Kemenag Bengkulu H. Suardi Abbas, para tokoh agama Kristen, Katholik, Budha, Hindu, Konghucu, pengajar IAIN Bengkulu, jajaran Kemenag RI se-Provinsi Bengkulu, dan ribuan masyarakat Bengkulu.

Sebelumnya Abdul Jamil mengingatkan jika kerukunan umat beragama itu menjadi kebutuhan untuk menjaga dan merawat NKRI, karena Indonesia sebagai negara raksasa, yang terdiri dari 17.508 pulau dari Sabang sampai Mereuke. “Saya mengibaratkan Indonesia ini seperti gelas kristal, sehingga memegangnya harus hati-hati. Tak boleh ceroboh, dan tak boleh dibenturkan, karena kalau dibenturkan akan pecah, retak, dan hancur. Dan, itu mudah dilakukan dengan memecah masyarakat melalui perbedaan agama,” katanya.

Mengingat perjalanan beragama itu merupakan fenomena universal, yang menekankan hubungan langsung antara manusia dengan Tuhan, maka intensitas keimanan-penglaman religious itu bisa bertambah dan berkurang. “Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Karena itu Kemenag RI terus berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan umat beragama, agar kerukunan terus terjaga dengan baik,” ujarnya.

Dengan begitu lanjut Abdul Jamil, maka yang harus dibangun oleh tokoh agama adalah kualitas kehidupan umat beragama, agar antar iman yang ada dalam perjalanan realitas multak itu bisa diekspresikan dalam kehidupan sebagai pribadi dan sosial sehari-hari. “Untuk itu pendiri bangsa ini tidak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, tapi Negara Pancasila dan final,” ungkapnya.

Dengan demikian hal itu harus menjadi komitmen bersama antar umat beragama, karena kerukunan itu mempunyai peran strategis, sehingga dialog, silaturrahim, komunikasi, dan tukar-pikiran antar umat beragama harus terus dibangun, setidaknya untuk meminimalisir ketegangan. “Justru, kalau tak pernah bertemu, tak pernah silaturrahim, dan tak pernah berdialog, maka akan saling timbul kecurigaan dan ketegangan, dan itu harus dihindari dalam merawat bangsa yang besar ini,” pungkasnya. (SON/mnb)

Tags: