Home » Kualitas Jalan Mencerminkan Kualitas Pemimpin

Suatu hari, Umar bin Khattab menangis sesenggukan mendengar kabar seekor keledai mati karena terperosok di jalanan yang rusak dan berlobang di suatu wilayah di Irak. Melihat Sang Khalifah menangis sedemikian, ajudannya bertanya kepada Umar. “Wahai amirul mukminin, bukankah itu hanya seekor keledai?” Dengan menahan marah Umar menjawab, “Apakah engkau sanggup menjawab dihadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”

***

Bulan Januari ini, sebagian wilayah Indonesia dilanda banjir dari Jabodetabek, Subang, Indramayu, hingga Manado. Selain menyebabkan korban jiwa dan harta, banjir menyisakan PR yang tidak kalah penting, yaitu semakin banyaknya jalan yang rusak setelah air surut.

Berdasarkan pengamatan saya setiap pulang pergi ke kantor berkendara motor, meluasnya jalanan rusak pada musim banjir bukan semata-mata disebabkan oleh air banjir, melainkan kualitas jalan yang bisa dibilang tidak terlalu baik. Dalam arti, jalanan tersebut sudah rusak dan berlubang sejak awal.

Air yang menggenangi lubang dalam waktu yang relatif lama, ditambah tekanan kendaraan bermotor yang diterima permukaan jalan akibat gaya gravitasi, akan mengikis bahan-bahan penyusun jalan sehingga lubang jalanan meluas. Semakin buruk kualitas bahan penyusun jalan, semakin cepat rusak jalan tersebut di musim hujan.

Menyoal  kualitas jalan, saya sudah lama membangun hipotesais dalam benak saya bahwa kualitas jalan erat kaitannya dengan kualitas pemimpin. Pemimpin berkualitas akan melahirkan jalan-jalan yang berkualitas baik pula.

Sokearno, misalnya. Pada  tahun 1962, beliau mendatangkan insinyur dari Rusia untuk membangun jalan di Palangkaraya yang direncanakan sepanjangan 172 Km. Baru selesai 34 Km, terjadi peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto menyebabkan proyek tersebut terhenti.

Pembangunan jalan di Palangkaraya yang notabene merupakan tanah rawa tersebut, dilakukan dengan sangat matang, dari mulai fondasi, drainase, hingga pengerasan. Hasilnya, jalan tersebut konon mulus dan dapat dilalui dengan baik.

Bandingkan dengan kualitas jalan di sebagian besar wilayah Indonesia sekarang ini. Di sebuah acara televisi tentang ekspedisi keliling Indonesia, ada satu jalan penghubung kota/kabupaten yang benar-benar terputus. Pada musim hujan, kedalamannya bisa lebih dari semeter. Puluhan trayek bus berhenti operasi dan ratusan supir bus kehilangan pekerjaan.

Pun di sepanjang Pantura, banyak jalanan rusak dan berlubang. Seingat saya yang dulu sering mudik ke Brebes, kerusakan terparah justru di kampung halaman saya tersebut. Sehingga ada guyonan, jika kita naik bus tanpa melihat keluar jendela, kita bisa tahu kapan sedang berada di Brebes, yaitu saat bus melambat disertai dengan goncangan yang semakin sering untuk menghindari lubang. 🙂

Selain membahayakan pengguna, jalan rusak berpotensi besar menghambat laju perekonomian. Jalanan rusak bisa menghambat distribusi logistik barang yang memicu ekonomi biaya tinggi. Misal pada kondisi banyak jalan rusak dan banjir seperti sekarang ini, barang-barang tertahan di pelabuhan segingga biaya membengkak.

Ahli ekonomi dan manajemen mungkin telah membuat teori dan indikator keberhasilan seorang pemimpin daerah. Akan tetapi, dari kondisi fisik jalan, sesuatu yang sangat mudah diamati bahkan oleh orang tidak berpendidikan tinggi sekalipun, kualitas pemimpin tercermin jelas di sana.

Seperti Umar yang sangat sedih mendengar kematian seekor keledai akibat jalan yang rusak, adakah pemimpin di negeri ini yang sedih melihat kondisi jalan rusak dan berusaha memperbaiki jalan di daerahnya? Jika ada, maka ia seorang pemimpin yang layak dipilih.


Comments

Kualitas Jalan Mencerminkan Kualitas Pemimpin — 3 Comments

    • haha… aku pernah mencoba berbicara dengan orang yang lebih ‘naif’ dari kamu. baiklah boi, mari kita lihat…

      kisah ini tentang kematian seekor keledai (bukan sekedar terperosok) karena jalanan rusak saat umar menjadi khalifah atau amirul mukminin.

      dalam hadits, pemimpin itu akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnnya.

      lalu pertanyaannya adalah, siapakah yang dipimpin terutama oleh seorang khalifah? umat manusiakah, hewan-kah, atau yang lain?

      Islam diturunkan sebagai rahmat semesta alam, jadi pemimpin muslim itu pemimpin makhluk di wilayah tersebut. manusia, hewan, tumbuhan, bahkan keledai sekalipun dalam cerita tadi, adalah merupakan yang dipimpin oleh Umar. itulah yang membuat Umar khawatir, bagaimana jika keledai tersebut mengadu kepada Allah, jika Umar ga bisa membangun jalan.

      ngomong-ngomong soal keledai, salah seorang khalifah (saya menduga bahwa itu Umar) pernah melarang orang2 membebani keledai dengan yang terlalu berat.

      apakah penjelasan macam ini bisa diterima?

Leave a Reply