Home ยป Membaca: Gaya Hidup Seorang Muslim

Satu bulan terakhir, ada 3 buku yang yang baca dan semuanya terdapat bab khusus yang membahas tentang membaca.

Ketiga buku tersebut adalah:

  • “9 Langkah yang Menentukan Takdir Anda” Zohra Sarwari, MBA
  • “Buku Pintar Akhlak”, Dr. Amru Khaled; dan
  • “Be Smart Muslim”, Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi.





Dua buku pertama diterbitkan oleh penerbit zaman. Dalam setahun ini, saya telah membeli lebih dari 5 buku penerbit zaman, dan sangat menyukai kontennya.
membaca
Baca Juga: Islam dan Ilmu Pengetahuan.

Ada beberapa hal yang sangat menarik dari ketiga buku ini.

Pertama, semua penulis buku ini memiliki gelar akademik, 2 orang doktor, dan seorang lagi MBA. Sebagai informasi, Zohra Sarwari sendiri sedang mengambil Ph.D.

Kedua, ketiga buku ini sama-sama menekankan pentingnya membaca bagi generasi muslim.

Dalam bukunya, Sarwari bertutur, kegemarannya membaca tumbuh ketika ia menyadari bahwa adiknya yang hobi baca tumbuh menjadi gadis yang sangat pintar.

Menginjak SMP, adiknya telah membaca lebih dari 200 buku dan memiliki kemampuan memahami bacaan lebih dari anak-anak seusianya.

Dengarlah ia bercerita tentang adiknya

Ketika kami memasuki perguruan tinggi, saya menyadari, ia bisa memahami lebih cepat dibanding saya. Di bangku kuliah, kami mengambil kelas yang sama. Ia akan belajar dua jam sebelum tes dan mendapat nilai B, sedangkan saya harus belajar selama dua minggu untuk mendapatkan nilai yang sama atau lebih baik. Saya sadar, ia telah membaca jauh lebih banyak dibanding saya. Di situlah saya menyadari kekurangan saya itu. Saya menyadari kekuatan membaca.

Sejak SMP, adiknya telah membaca lebih dari 200 buku. Hobby ini terus berlanjut hingga kuliah, sehingga kemampuannya selalu melebihi teman-temannya hingga menyalip Zohra Sarwari.

Sejak saat itu, Sarwari memutuskan untuk gemar membaca. Hingga sekarang, ia konsisten membaca selama 30 menit sehari sebelum tidur.

Ya, membaca memang sudah seharusnya menjadi gaya hidup seorang muslim. Bahkan, Allah memerintahkan ummat manusia melalui Al-Qur’an:

“Bacalah! Dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia, apa yang tidak mereka ketahui.” ย (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Maka tak heran, generasi pertama ummat Islam, adalah generasi yang gemar baca dan sangat cinta dengan ilmu pengetahuan.

Sebut saja Zaid bin Tsabit. Dia hanya 10 tahun ketika Nabi hijrah ke Yatsrib. Oleh ibunya, ia diminta mengantarkan makanan kepada Nabi ketika pertama kali datang ke Madinah. Pada saat itu, Zaid bin Tsabit menyodorkan makanan di hadapan Rosulullah, hingga Rosululloh menatapnya dan berdoa untuknya, “Semoga Allah memberkahimu..”

Tak kurang dari 10 tahun, Zaid muda tumbuh menjadi tokoh agung dalam Islam. Zaid-lah orang yang menulis wahyu dengan beberapa sahabat yang lain. Zaid pula yang menjadi sekretaris Rasulullah dalam hal surat menyurat dengan berbagai negeri yang memiliki bahasa berbeda-beda.

Menurut riwayat, Zaid diminta Rasulullah untuk belajar Bahasa Ibrani. Lalu Zaid mempelajarinya selama 18 hari hingga ia bisa berbahasa Ibrani.

Belum lagi para sahabat, tabi’ dan tabi’in di mana pengetahuan telah sangat berkembang, seperti Abdullah bin Umar, Umar bin Abdul Aziz, Imam Syafi’i, hingga Imam Bukhari. Meski tidak membaca biografi mereka secara utuh, dengan kualitas intelektual mereka, saya haqqul yakin kalau membaca adalah gaya hidup mereka.

Dalam dunia modern, kekuatan membaca telah dibuktikan oleh seorang Anthony Robbins. Ia tidak pernah kuliah. Usia 17 tahun, ia diusir dari rumah, lalu memulai pekerjaan pertama sebagai marketing.

Selama 7 tahun, tak kurang dari 700 buku ia baca. Kemudian, ia mengikuti berbagai seminar bisnis, bukan sebagai peserta, tetapi sebagai penjual tiket seorang motivator.

Atas kegigihannya, penjualan tiketnya memecahkan rekor. Kekayaannya meningkat pesat. Kemudian, ia pun memutuskan untuk memulai seminarnya sendiri. Konon, dari seorang miskin, ia menjadi miliarder pada usia 22 tahun.

Di Indonesia sendiri, kita punya banyak contoh. Sebut saja H. Agus Salim, tidak kuliah, menguasai 7 bahasa asing. Saat menikah, ia meminta istrinya untuk banyak baca dan dzikir. Moh. Hatta, menyediakan ruangan dan waktu baca khusus untuk dirinya dan keluarga.

Soal baca, saya jadi teringat seseorang. Ia adalah pimpinan kampus saya, Mr. Budiman Ivino Gondowijoyo (oleh para mahasiswa disingkat Mr. BIG).

Mr. BIG gemar sekali membaca. Saya dan teman-teman harus rela kena marah karena menemuinya pukul 07.00 WIB. Dia bilang kepada kami kalau waktu itu adalah “waktu baca” beliau.

Di perpustakaan kampus, ada 1 rak buku yang khusus untuk koleksi buku-buku Mr. BIG yang boleh dibaca oleh mahasiswa.

Dari rak buku itu, saya kenal dengan “Chicken Soup”, “7 Habit”, dan berbagai buku hebat yang lain. Sadar atau tidak, meski saya dan teman-teman tidak lagi di kampus tersebut, ada kontribusi beliau sehingga saya dan teman-teman yang lain jadi gemar baca.

Manfaat Membaca

Membaca memiliki banyak sekali manfaat. Beberapa manfaatnya antara lain:

  • menambah wawasan dan pengetahuan
  • mempelajari disiplin ilmu, topik, atau keahlian tertentu
  • meningkatkan kinerja otak karena dengan membaca otak kita bekerja
  • menunda pikun
  • mempelajari biografi seseorang untuk mencontoh kesuksesannya
  • dll

Agar Membaca Menjadi Hobi

Bagaimana agar aktivitas membaca terutama membaca buku bisa menjadi hobi atau kebiasaan? Caranya adalah dengan mulai membaca dari sekarang. Membaca buku apa saja, terutama yang disukai.




Comments

Membaca: Gaya Hidup Seorang Muslim — 6 Comments

  1. Alhamdulillah tadi malam saya menuntaskan Novel “KEMI”
    Spt Ukas, saya juga terinspirasi dengan Mr.BIG yang wawsannya luas krn Membaca
    Saya rasa ketika beliau ngga ada, mustahil ada kontes bedah buku di kampus kita ๐Ÿ˜€

Leave a Reply