Home » Perempuan dan Pernikahan

Dalam beberapa minggu ini, tema pernikahan begitu akrab di telinga saya. Dan entah mengapa, tema pernikahan menjadi sangat sensitif bagi saya pribadi. Mungkin karena usia saya yang sudah sepantasnya memikirkan pernikahan. “Wis wayahe,” (baca: sudah saatnya) begitu kata sesepuh di kampung saya. Apalagi, terakhir kali saya pulang kampung, nenek saya berpesan agar saya segera mencari ‘teman hidup’ musim panen tahun depan (ssstt… tolong jangan diceritain ke yang lain J)

Dua minggu kemarin, tema pernikahan menyambangi saya secara bertubi-tubi dari segala penjuru dan tak mengenal kata ampun. Dari teman dekat saya yang bercerita kalau dirinya baru saja melamar seorang gadis pujaannya; terus seorang teman yang lain di Purbalingga yang melangsungkan pernikahan kemarin; adik kelas saya menikah minggu depannya; hingga abang saya, pangeran William yang menikah di Istana Buckingham … hehe

Biar tidak penasaran, baiklah kiranya kita bahas sedikit tentang pernikahan kakak saya tersebut. Jumat siang (29/4/2011), konon menurut media, 2 milyar manusia di bumi menjadi saksi pernikahan William-Kate, baik dengan datang langsung ke Inggris, melalui siaran langsung televisi, maupun menonton siaran ulangnya. Di jejaring social seperti twitter dan facebook, pernikahan putra mahkota Inggris ini juga begitu ramai diperbincangkan.

pernikahan abang (my bro wedding) 🙂

Tapi, ada temuan yang sangat menarik yang menurut saya luput dari perhatian kisanak semua, terutama kaum laki-laki. Bahwa, mayoritas manusia yang sangat antusias ingin menyaksikan pernikahan William-Kate tersebut, ternyata adalah kaum hawa (baca: perempuan). Meskipun saya yakin, kaum adam pun banyak yang menonton, namun hampir dapat dipastikan lebih banyak perempuan.

Kalau tidak percaya, cobalah tengok status facebook perempuan pada hari pernikahan William-Kate berlangsung. Seorang ibu-ibu, teman kuliah saya di Depok bahkan membuat album khusus di akun facebooknya untuk mengupload sebanyak mungkin foto pernikahan mereka. Bahkan adik sepupu saya yang bekerja di restoran di Jakarta bercerita kalau pada hari tersebut, semua teman kerjanya yang perempuan secara kompak menonton siaran langsungnya di tv pada jam kerja, dan baru pada bubar ketika tiba-tiba bosnya datang dengan berdehem …

Fenomena perilaku perempuan dalam pernikahan William-Kate ini agaknya menarik perhatian saya. Dan mungkin saja seandainya saya seorang mahasiswa psikologi tahun terakhir yang sedang pusing mikirin tugas akhir, ingin rasanya mengangkat tema ini menjadi skripsi. Halah..

Penciptaan Perempuan

Sejak kali pertama diciptakan, kaum perempuan diciptakan secara khusus oleh Allah SWT bagi kaum laki-laki. Konon, asal mula penciptaan perempuan adalah karena Nabi Adam merasa kesepian tinggal sendiri di surga, dan diciptakanlah seorang perempuan dari tulang rusuk beliau bernama Hawa (Eve).

Terkait penciptaan perempuan dari tulang rusuk, berdasarkan buku yang pernah saya baca, konon masih ada perbedaan pendapat. Saya sendiri belum menemukannya dalam Alquran. Salah satu informasi Alquran tentang penciptaan perempuan, ada dalam ayat favorit pernikahan yang biasanya turut dicetak dalam undangan pernikahan, QS. Ar-Rum: 21.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah bahw Ia menciptakan bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian, agar kamu tinggal bersamanya, dan Ia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang; sesungguhnya hal itu adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

Alquran, Ar-Rum [30]: 21

Namun, dalam beberapa hadits yang saya baca, meskipun bukan dari sumber aslinya, terdapat informasi bahwa perempuan, memang diciptakan dari tulang rusuk kaum laki-laki, misalnya dalam beberapa hadits berikut:

“Perlakukanlah perempuan dengan baik, karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Bagian darinya yang paling bengkok adalah di atas. Jika engkau coba untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau memembiarkannya maka akan tetap bengkok. Jadi perlakukanlah wanita dengan baik.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan itu ibarat tulang rusuk; jika engkau mencoba meluruskannya maka engkau akan mematahkannya; dan jika engkau menikmatinya (atas hubungan dengannya), engkau akan tetap jengkel dengan kebengkokannya.”

Biar lebih afdhal, dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Muslim, Nabi SAW bersabda:

“Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Ia tidak akan tegak lurus dan tetap bersamamu dalam setiap keadaan. Jika engkau menikmatinya (berhubungan dengannya), engkau akan tetap jengkel dengan kebengkokannya. Jika engkau mencoba meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, dan kepatahannya adalah perceraian.”

Kalau kita lihat, dalam ayat Alquran yang saya kutip pertama kali, sama sekali tidak disinggung perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Informasi penciptaan perempuan dari tulang rusuk secara eksplisit dijelaskan dalam hadits pertama dan ketiga di atas.

Dalam hadits-hadits di atas juga disebutkan, karena tercipta dari tulang rusuk, maka perempuan memiliki karakteristik ‘bengkok’, dan jika kita mencoba meluruskannya secara paksa, maka tulang tersebut akan ‘patah’. Kata-kata bengkok dan patah, rasa-rasanya perlu diberi tanda kutip, dicetak bold, maupun digarisbawahi dan dijelaskan dalam tulisan ini, dengan maksud agar kita, khususnya kaum laki-laki, lebih memahami perempuan.

Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi, dalam bukunya Be A Smart Muslim, menjelaskan kedua kata ini. Bahwa yang dimaksud bengkok adalah perempuan tidak bisa menjadi seperti yang suami atau laki-laki harapkan dalam segala hal. Perempuan memiliki realitas dan fitrah tersendiri yang berbeda dengan laki-laki. Misalnya, sifat lemah lembut, pemalu, mecintai keindahan dan sebagainya. Jika kita meluruskannya dengan paksa, dalam arti mengubah fitrah perempuan secara kasar, maka yang terjadi tulang rusuk tersebut akan patah. Dan berhati-hatilah kalian wahai kaum laki-laiki, bahwa patahnya perempuan, kata beliau, adalah perceraian. Dengan kata lain, permasalahan mereka hanya akan selesai dengan dengan jalan berpisah atau bercerai.

Perempuan dalam Islam

Pada masa jahiliyah, kaum perempuan diperlakukan seperti benda. Pada masa itu, perempuan tidak memperoleh hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Bahkan, yang lebih menyedihkan, perempuan diperlakukan seperti harta warisan, yaitu bilamana seorang suami meninggal dunia, maka istrinya akan diwariskan kepada ahli waris laki-laki. Bahkan di Eropa, wanita dianggap sebagai bukan manusia atau setengah manusia.

Kedatangan Islam sungguh mengangkat harkat, derajat, dan martabat perempuan. Dalam Islam, perempuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi, seperti mendapatkan waris, diberikan mahar jika akan dinikahi, serta harus diperlakukan dengan baik oleh laki-laki. Bahkan, ada sebuah ungkapan (atau pun hadits) yang menyatakan bahwa surga ada di telapak kaki ibu (baca: perempuan). Selain itu, kita tentu pernah mendengar sebuah hadits di mana Rasulullah menyuruh kita berbakti kepada Ibu (baca: perempuan) 3 kali lebih utama dari ayah (baca: laki-laki).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menandaskan: “Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang memiliki perilaku (akhlak) yang baik. Dan akhlak terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik dalam memperlakukan istri-istrinya.”

Perempuan dan Pernikahan

Ibunda Aisyah RA., menyebutkan dalam sebuah riwayat, ada empat macam pernikahan pada masa jahiliyah, yaitu:

  • Pernikahan al-istibhda, yaitu seorang laki-laki menikahi perempuan secara sah, akan tetapi tidak menggauli istrinya dan menyerahkan istrinya kepada laki-laki terpandang atau pembesar agar memperoleh keturunan.
  • Poliandri, yaitu seorang perempuan mempunyai suami lebih dari satu. Bila perempuan tersebut melahirkan anak, maka ia akan menunjuk salah satu dari suaminya sebagai ayah bagi anak tersebut.
  • Seorang perempuan yang tidak menolak setiap pria yang datang kepadanya, yang mana sama saja dengan hubungan pelacuran.
  • Pernikahan biasa (urfi), di mana seorang laki-laki meminang perempuan kemudian menikahinya secara sah, untuk kemudian menjalankan hubungan suami-istri sebagaimana semestinya.

Dari ketiga jenis pernikahan tersebut, Islam membatalkan tiga jenis pernikahan yang pertama dan hanya mengakui jenis pernikahan yang keempat, dan melengkapinya dengan berbagai penyempurnaan dengan adanya pertunangan (khithbah), maskawin (mahar), nikah, wali, dan adanya saksi-saksi.

Kembali ke pernikahan abang saya, pernikahan seperti yang diselenggarakan William-Kate, dalam arti keinginan dan hasrat perempuan menjadi perempuan yang diistimewakan oleh laki-laki calon suaminya, sepertinya menjadi impian mayoritas kaum perempuan di belahan bumi manapun.

Dalam sejarahnya, Rasulullah pun menikahi Ibunda Khadijah dengan maskawin yang begitu banyak, beberapa ratus ekor unta. Dengan demikian, wajar saja jika perempuan begitu antusias menyaksikan pesta pernikahan William-Kate. Ini sebaiknya menjadi semacam warning bagi laki-laki yang belum dan akan menikah (nah lho!), agar memuliakan calon istrinya, salah satunya adalah dengan memberikan maskawin (mahar) dan pesta pernikahan yang special, menjadikannya Ratu sehari dalam kehidupannya, meskipun tidak menjadi sebuah hal yang wajib.

Namun demikian, Rasulullah juga memberikan counter (imbangan), atau setidaknya keringanan buat laki-laki yang ingin menikah dengan modal pas-pasan. Dalam sebuah hadits, beliau menyatakan bahwa perempuan yang paling baik adalah perempuan yang paling sedikit atau ringan maharnya. (sampai pada bagian ini, kaum laki-laki akan berhenti sebentar untuk mengambil pulpen untuk mencatat.. J)

Demikianlah ulasan saya mengenai perempuan dan pernikahan. Tulisan ini saya buat sebagai referensi saya pribadi sebagai laki-laki yang ingin dan akan menikah tanpa maksud menggurui. Semoga Allah SWT memudahkan segala impian dan cita-cita kita. Sebagai penutup, saya kutip sebuah panduan dari Rasulullah tentang mencari perempuan yang terbaik. Beliau bersabda:

“Seorang perempuan dinikahi karena empat hal: kekayaannya, garis keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah seseorang (perempuan) karena agamanya, maka engkau akan beruntung.”

(Muttafaqun ‘alaih)


Comments

Perempuan dan Pernikahan — No Comments

    Leave a Reply