Pentingnya Pengetahuan kesehatan Reproduksi dan Pendidikan Seks

Sudah bukan rahasia lagi bahwa remaja Indonesia saat ini sudah banyak yang melakukan seks bebas baik di perkotaan maupun di pedesaan. Banyak faktor yang mempengaruhi ketimpangan ini, kurangnya pendidikan seks misalnya. Pendidikan Seks (Sex Education) merupakan suatu kegiatan memberikan pengetahuan persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar.

Image: Tribunnews.com

Pengetahuan itu meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek – aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan yang harus diberikan ke anak khususnya saat beranjak dewasa. Remaja masa kini hanya memikirkan resiko sosial ( takut kehilangan keperawanan, takut hamil diluar nikah yang dapat menurunkan status sosial di masyarakat) saat melakukan seks bebas, tanpa atau belum mengetahui resiko – resiko kesehatan reproduksi yang bisa ditimbulkan dari situ. Kesehatan Reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

HIV / AIDS adalah salah satu penyakit yang sangat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Salah satu penularanya adalah saat berhubungan seks. Usia remaja sangat rentan tertular penyakit ini. Para remaja harus mengetahui bahwa pentingnya kesehatan reproduksi bagi masa depanya dengan mencegah hal – hal yang bisa membuatnya tertular HIV / AIDS. Penyakit ini sampai saat ini belom ada obatnya.

Penyakit reproduksi lain yang menghantui manusia adalah “Sifilis”. Penyakit ini biasa disebut raja singa. Penyakit ini berasal dari bakteri yang bernama Treponema Pallium yang bisa menular lewat hubungan seks juga transfusi darah. Bahkan penyakit ini bisa menular ke janin selama masih di dalam kandungan Penyakit ini sangat menakutkan karena biasanya menyerang alat kelamin manusia. Ada empat fase gejala sifilis, yaitu : 1. Fase Primer 2. Fase Sekunder 3. Fase Tersier 4. Fase laten. Penanganan sifilis biasanya diberi obat antibiotik penicilin, bila penderita alergi terhadap penisilin biasanya diganti dengan doksisiklin atau tetrasiklin selama 2 – 4 minggu. Sayangnya penderita biasanya malu untuk konsultasi dengan dokter karena mereka malu memiliki penyakit kelamin dan menyebabkan penyakit kereka bertambah parah.

Bagi penderita HIV / AIDS memang belom ada obatnya, Penderita Sifilis pun belom banyak orang yang mau berobat ke dokter karena malu. Para remaja diharapkan sadar untuk bisa mencegah tertularnya penyakit ini demi masa depannnya sendiri dan masa depan bangsa Indonesia. Sangat dihimbau kepada para remaja untuk menghindari hal – hal yang bisa menyebabkan tertularnya penyakit reproduksi ini dengan tidak melakukan seks diluar nikah, gonta – ganti pasangan seks, juga menghindari narkoba. Serta peran orang tua untuk membimbing dan memberikan pendidikan seks yang baik kepada anak anaknya