Mencicipi Masakan Akulturasi Budaya di Semarang

Jalan – jalan ke Ibukota Jawa Tengah kurang afdol bila tidak mencicipi kulinernya. Mungkin dari rasa atau jenis masakan di Semarang kurang terpengaruh dengan kebudayaan Jawa meskipun statusnya Ibukota Provinsi Jawa Tengah. Tetapi masakan – masakan khas kota Semarang justru dipengaruhi berbagai budaya antara lain budaya Jawa, Tionghoa, Arab dan Belanda. Ini disebabkan oleh sejarah dan letak geografis kota Semarang. Kota Semarang terletak di pantai utara Jawa dimana pelabuhannya merupakan pelabuhan utama di sepanjang pesisir Pantai Utara.

JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya
Pedagang menyiapkan bakso kepada pelanggan di warung Bakso Remaja, Kartopuran, Kecamatan Serengan Solo, Selasa (20/11). Naiknya harga daging sapi membuat pedagang terpaksa ikut menaikkan harga bakso dari Rp8.500 menjadi Rp9.000 per porsi.

Kebudayaan memang lekat dengan cita rasa sajian masakan. Makanan khas Semarang yang terpengaruh oleh kebudayaan Tionghoa adalah “Lumpia”. Lumpia atau nama aslinya adalah “ Lunpia ” yaitu dari kata “Lun” yang artinya digulung dan “Pia” yang artinya makanan. Penemu lumpia adalah seorang Tionghoa bernama Tjoa Thay Yoe yang menikah dengan orang Jawa bernama Warsih. Lumpia terbuat dari tepung adonan yang digunakan sebagai kulit. Sedangkan isinya adalah rebung (Tunas Bambu), udang dan pihi. Ada juga yang memodifikasi dengan menambahkan telur dan daging ayam. Hingga kini resep asli dari Tjoa Thay Yoe masih terjaga karena diteruskan oleh keturunannya. Penjual Lumpia di Semarang yang merupakan keturunan langsung dari Tjoa Thay Yoe adalah Sim Swie King yang meneruskan berdagang di gang Lombok, kemudian Sim Swie Hie atau biasa dikenal Loenpia Mbak Lien yang membuka kios di jalan Pemuda dan terakhir adalah Sim Hwa Nio. Sim Hwa Nio terkenal dengan Lumpia Mataramnya, karena awalnya berjualan di jalan Mataram Semarang.

Makanan khas Semarang berikutnya adalah “Tahu Gimbal”. Dari namanya, sudah terbayangkan pasti ada tahu di dalam makanan ini. Kemudian apa itu gimbal? Gimbal adalah sejenis rempeyek. Bila rempeyek teksturnya tipis dan chrispy, gimbal berbentuk lebih tebal dan sedikit chrispy di pinggirnya. Isi gimbal adalah udang utuh. Tahu dan Gimbal di goreng matang kemudian dicampur dengan sambal kacang khas tahu gimbal. Penyajianya dilengkapi dengan kecambah, potongan sledri dan ditaburi bawang goreng. Tahu gimbal harganya sangat murah, mulai dari 8000 rupiah hingga 25 ribu rupiah. warung Tahu Gimbal mudah di temui di kawasan Simpang Lima atau di Taman KB Semarang. Selain itu, beberapa warung Tahu Gimbal yang selalu ramai di Kunjungi adalah warung Tahu Gimbal Pleret (di sekitar taman pleret ) dan Warung Tahu Gimbal Lumayan di daerah Plampitan Semarang.

Babat gongso juga makanan yang patut dicoba saat sedang berada di Semarang. Babat Gongso sebenarnya berasal dari Purwodadi (kabupaten sebelah timur kota Semarang). Namun makanan ini pun menjadi khas kota Semarang karena banyak di temui di Semarang. Babat gongso adalah babat sapi yang dimasak dengan bumbu khas gongso. Babat gongso banyak di temukan di pinggir – pinggir jalan di kota Semarang.

Tags: