Penelitian Membuktikan Bahwa PR Tidak Diperlukan di Sekolah

Image Source: TeknoBagus.com

Wacana untuk menghilangkan PR di sekolah SD – SMA ternyata sudah mulai diberlakukan di beberapa daerah di Indonesia. Ternyata keputusan Pak Menteri untuk menghapus PR di sekolah ini juga didukung oleh penelitian dari pakar psikologi Harris Cooper yang sudah meneliti efek PR selama 25 tahun. Dia menuliskan hasil penelitiannya itu di buku The Battle over Homework: Common Ground for Administrators, Teachers, and Parents.Di dalam buku tersebut sudah dibahas secara jelas dan lengkap tentang kerugian pemberian PR bagi siswa khususnya untuk tingkat Sekolah Dasar. Inti dari buku tersebut kurang lebih seperti di bawah ini.

  1. Belajar dengan Rasa Senang dan Bergembira
    Tidak dapat dipungkiri jika masa anak-anak adalah masa bermain yang harusnya menyenangkan. Oleh karena itu ketika anak belajar di sekolah seharusnya guru dapat membuat jiwa anak-anak tersebut merasa gembira dan senang. Tetapi pada kenyataannya walaupun para guru sudah berusaha memberikan atmosfir yang menyenangkan saat berada di dalam kelas, ternyata ketika guru memberikan PR, banyak siswa yang merasa terbebani dengan hal tersebut. Adanya beban ini tentunya akan membuat anak-anak merasa malas untuk pergi ke sekolah dan menghilangkan atmosfir menyenangkan yang sudah susah payah dibuat oleh para guru di dalam kelas.
  2. PR dapat merusak hubungan jangka panjang.
    Tidak dapat dipungkiri anak-anak menghabiskan banyak waktu di sekolah. Apalagi di kota-kota besar seperti di Jakarta banyak sekali sekolah yang mengadakan les tambahan setelah pulang sekolah. Hal ini tentunya lebih menghabiskan waktu anak-anak untuk di rumah dan bermain dengan teman-temannya. Nah ketika guru memberikan PR pasti sebagian besar anak-anak akan mengerjakan PR tersebut saat malam hari sebelum tidur. Saat-saat seperti ini sering sekali terjadi pertengkaran antara orang tua dan siswa. Pertengkaran yang sering terjadi ini dapat mengakibatkan traumatis yang mendalam bagi anak dan dapat mengakibatkan hubungan mereka dengan orang tua menjadi lebih renggang.
  3. PR hanya memberi tanggung jawab palsu untuk anak-anak.
    Tujuan utama dari pemberian PR (Pekerjaan Rumah) ini adalah untuk memberikan rasa tanggung jawab kepada anak-anak. Tetapi pada kenyataannya anak-anak tetap tidak akan mengerjakan PR jika tidak disuruh oleh orang tua mereka. Artinya tujuan memberikan tanggung jawab ini tidak ada artinya. Karena anak-anak sendiri masih tetap lebih suka bermain dan masih belum terpikirkan dengan tanggung jawab tersebut.

Itulah penelitian yang dilakukan oleh pakar ahli tentang akibat buruk dari pemberian PR. Mungkin pemerintah sudah lebih banyak melakukan pertimbangan untuk menghilangkan PR di sekolah ini. Sebenarnya menghilangkan PR di sekolah ini merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi Guru. Karena beban kerja para guru menjadi lebih terkurangi. Tetapi dengan tidak adanya PR ini dapat berakibat pada materi pembelajaran yang telah diajarkan di sekolah tidak dapat terserap sempurna oleh anak-anak.

Tags: