1 Rumah Tangga 1 Bisnis

Img Source: UntukKamu.com

Ber-partner dalam bisnis, sesuatu hal yang lumrah. Tapi, bagaimana bila partner itu pasangan hidup di mana adakalanya yang memiliki ide bisnis merupakan sang istri yang imbasnya posisi istri akan berada di atas atau di depan suami? Ternyata, dalam perjalanannya, itu bukan masalah. Bahkan, membuat bisnis lebih mampu bertahan dan berkembang

Russanti Lubis

Dalam sebuah artikelnya, sebuah majalah ekonomi menyatakan bahwa di Indonesia ini terdapat sekitar 16.000 perusahaan yang bersifat perusahaan keluarga, baik yang dikelola oleh pasangan suami istri maupun yang melibatkan pihak-pihak lain yang masih memiliki hubungan keluarga. Tapi, tahukah Anda bila perusahaan semacam ini lebih mampu bertahan menghadapi berbagai krisis dibandingkan dengan perusahaan yang dikelola perseorangan atau bersifat rekanan?

Mengapa? Mungkin, kita bisa berpijak pada kata-kata bijak bahwa cinta dapat mengalahkan segala-galanya. Kedekatan hubungan batin pasangan suami istri (pasutri), khususnya, membuat pihak yang satu mampu mengekang nafsu bisnis tak terkendali dari pihak yang lain. Selain itu, ketika semangat yang satu mulai kendor, yang lain akan memberikan dukungan. Di sisi lain, demi kelancaran bisnis, pihak yang satu merasa perlu untuk meminta restu atau izin kepada pihak yang lain. Dan, bila restu itu belum didapat, maka pencetus ide akan segera menyadari bahwa idenya memang belum waktunya untuk direalisasikan.

Namun, berbeda dengan status mereka sebagai pasutri di mana menurut unggah-ungguh (Jawa: etika, red.) seorang suami adalah saka guru, imam, atau kepala keluarga, sedangkan istri merupakankanca wingking (Jawa: pendamping, red.), dalam bisnis mereka merupakan rekanan yang mempunyai kedudukan sejajar dengan tepa selira (Jawa: tenggang rasa, red.) tingkat tinggi. Batas siapa pimpinan dan siapa bawahan hanya setipis kertas. Bahkan, tak ada lagi yang namanya uang istri atau uang suami. Istri tidak perlu merasa jumawa (Jawa: sombong, red.), karena lebih banyak memasukkan rupiah ke dalam pundi-pundi keuangan mereka. Suami pun tidak perlu merasa mati kutu, hanya karena menjadi “bayang-bayang” wanita yang melahirkan anak-anaknya.

Dari sekian pasangan yang mendirikan bisnis bersama atas dasar cinta, tenggang rasa, dan penghormatan (serta demi masa depan anak-anak mereka) tersebutlah pasangan Inu dan Riska. Pemilik usaha sprei, handuk, dan selimut bertajuk Butik Ceria ini memang lebih memilih berada di posisi sejajar di mana keduanya sama-sama berkutat pada product and business development.

Sementra Fenny, pada awalnya yang memiliki ide untuk membangun Elling Bra, sebuah produk bra kesehatan. Ia pun menempati posisi lebih tinggi atau di depan Awie, sang suami. Tapi, seiring waktu berjalan, Fenny merasa lebih nyaman berada di belakang layar dan berkutat dengan produksi. Sementara Awie, yang bergabung dalam bisnis sang istri setelah mengundurkan diri dari tempat kerjanya dan melihat sang istri membutuhkan partner, menempati posisi di bagian pembelian, admin, website, promosi, dan banyak lagi yang lain atau lebih tampil ke muka.

Berbeda dengan pasangan Dedi dan Mira yang sedang merintis bisnis makanan Betawi, bertajuk Betawi Pelataran. Dedi yang asli Betawi, pintar masak, dan tidak segan belanja ke pasar memang yang melontarkan ide membuat tempat makan yang menawarkan kemitraan ini. Tapi, sama halnya dengan Fenny, Dedi juga lebih nyaman berkutat di “laboratoriumnya” guna meracik atau memformulasikan berbagai resep makanan Betawi. Dan, Miralah yang akhirnya lebih banyak tampil ke permukaan untuk menangani urusan legal, financial, administrasi, marketing, dan promosi, di samping tukang icip-icip dan penasihat, serta reviewer.

Jadi, begitulah bila cinta telah berbicara. Segalanya lebih mudah dan lebih mungkin terjadi. Sekali pun, dalam dunia bisnis yang terkenal dengan sikut-sikutannya.

Tags: