Avtech Bertumbuh Berkat Hobi yang Ditekuni

Image Source: Dzargon.com

Pada awalnya, pasar produk perlengkapan mendaki gunung masih dikuasai produk impor, tepatnya dari Amerika, Inggris, Prancis, dan Italia yang notabene harganya relatif mahal. Ceruk pasar yang masih lebar itu pun memacing datangnya pemain lokal. Dan, saat ini, tercatat 20 pemain lokal yang bermain dalam produk ini, salah satunya Avtech. Bagaimana sepak terjang Avtech untuk bisa memperoleh posisi ini ya?

Seringkali hobi menjadi inspirasi pertama, ketika ingin membangun sebuah bisnis. Seringkali pula, bisnis yang dibangun berlatarbelakangkan hobi akan berjalan lebih mulus. Karena, hobi identik dengan kesenangan. Dan, seperti diketahui, bila kita sudah menyenangi sesuatu, maka kita cenderung tidak mau kehilangan dan berusaha dengan segala cara untuk membuatnya selalu ada. Demikian pula dengan bisnis yang disenangi pasti, akan diupayakan sedemikian rupa agar tidak sampai jatuh, sekali pun dikepung pemain bisnis besar. Seperti, bisnis produk perlengkapan naik gunung yang djalankan Yudi Kurniawan.

Sejak SMA, Yudi telah menyukai kegiatan olahraga yang berhubungan dengan alam. Saking gemarnya dia naik gunung, akhirnya dia tergabung dalam sebuh klub pecinta alam di sekolahnya. Lalu, sekitar tahun1990–1991, dia membuat sendiri aneka perlengkapan naik gunung, sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Maklum, saat itu, toko-toko yang menjual perlengkapan mendaki gunung masih sangat sedikit dan harga perlengkapan naik gunung relatif  mahal. Apalagi yang buatan impor, seperti produk dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Italia.

“Waktu itu, saya hanya membuat kantung tidur dan dompet. Dalam perjalanannya, produk ini menarik perhatian teman-teman saya,” katanya. Berkat dukungan mereka, setelah lulus SMA dan menjadi mahasiswa (tahun 1994), ia membuka toko dengan memanfaatkan ruang tamu rumah orang tuanya yang seluas 2,5 m² x 3 m² di kawasan Sunter Podomoro, Jakarta Utara. Toko itu diberinya nama Gelar Wangi.

Namun, dengan modal pribadi sebesar Rp500 ribu−Rp1 juta, dia cuma mampu berproduksi jika ada pesanan. Selain itu, perkembangannya belum memuaskan, meski dia sudah menambah kapasitas barang dan mempublikasikan produk-produk yang belum diberi merek itu.

Lantas, pada tahun 1997, Yudi menempelkan merek Adventure pada produknya, untuk memenuhi permintaan konsumen sekaligus sebagai identitas. Langkah selanjutnya, dia merekrut tukang jahit untuk mewujudkan desainnya. Kehadiran para penjahit itu, juga membuat item produknya berkembang menjadi tas sekolah, tas untuk laptop, tas kantor, dan jaket yang semuanya berbahan parasut. “Pada tahun itu juga, saya mendapat pinjaman dari bank sebesar Rp25 juta,” ujarnya.

Dua tahun kemudian, Yudi mendaftarkan merek produknya sebagai merek dagang (dipatenkan, red.). Tapi, ditolak, karena sudah ada yang lebih dulu mendaftarkannya. “Pada tahun 2000, banyak orang yang disibukkan dengan istilah Y2K, milenium, dan lain-lain. Dari situ, saya terilhami untuk merangkaikan kata Technology pada kata Adventure hingga terbentuk menjadi Adventure Technology, yang kemudian diringkas menjadi Avtech,” jelasnya.

Perubahan merek dari Adventure menjadi Avtech, diakuinya sangat riskan. Kondisi ini memungkinkan Yudi harus mulai dari nol lagi, sekaligus menciptakan image lagi. “Untuk itu, kami bermain di kapasitas produksi,” katanya. Contoh, ketika Adventure berproduksi 100%, Avtech hanya 10%. Lalu, saat kapasitas produksi Adventure diturunkan menjadi 80%, Avtech naik menjadi 20%, hingga akhirnya balance menjadi 50%:50%. Selanjutnya, Adventure sama sekali tidak diproduksi lagi. Sebaliknya, Avtech gencar diproduksi. Proses sosialisasi yang berlangsung selama dua tahun ini, juga berimbas pada menurunnya penjualan. “Untuk itu, melalui bagian administrasi, kami gencar memperkenalkan Avtech. Caranya, dengan sounding, serta menyebarkan brosur ke para konsumen, dan distributor Adventure,” tambahnya.

Tahun 2006, Avtech pun diterima dengan baik oleh pasar. Buktinya, produk ini tersebar dari Aceh hingga Papua, dengan sistem order. Bahkan, melalui buyer, Avtech juga telah merambah Filipina, Brunei, Inggris, Australia, Malaysia, dan Jepang. Jumlah item-nya yang semula hanya dua pun berkembang menjadi 100−150 item. Gerai berikutnya yang diberinya nama Rumah Panjat di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pun dibuka.

“Untuk lebih memantapkan bisnis ini, kami juga meng-hire tenaga marketing dalam jumlah relatif banyak (separuh dari total jumlah karyawan Avtech menempati bagian marketing, red.). Kami juga memperluas promosi, dengan menjalin kerja sama dengan lima stasiun televisi swasta nasional dan beberapa majalah. Imbasnya, bukan hanya terjadi pertumbuhan dalam produksi, melainkan juga di pemasarannya,” ujarnya. Berkaitan dengan itu, produk yang dijual dengan harga (saat wawancara ini dilakukan) Rp7 ribu−Rp450 ribu itu, setiap bulan, di luar pesanan, membukukan omset sekitar Rp200 juta untuk kawasan JABODETABEK saja.

Kini, di samping Avtech, tercatat sekitar 20 pemain lokal dalam bisnis ini. Dari sisi bahan baku maupun proses produksi, satu sama lain tidak memiliki perbedaan. “Namun, kami tetap berusaha menciptakan nilai lebih pada barang kami. Misalnya, kami membuat tas yang bukan cuma berfungsi laiknya tas, melainkan sekaligus juga sebagai tempat laptop, dengan membuat space tambahan di dalamnya. Untuk outdoor clothing-nya, kami membuat jaket dengan warna-warni fancy seperti orange dan pink. Sehingga, perempuan pun bisa memakainya. Sedangkan polo shirt atau t-shirt-nya juga dapat dikenakan para remaja atau karyawan. Dari sisi aksesori, kami memodifikasi tas pinggang atau tas paha menjadi tas yang juga dapat dipakai untuk menyimpan kamera digital, PDA, handphone, dan sebagainya,” ucapnya.

Ke depannya, Yudi berencana “bermain” di mal dan menebarkan tas laptop ke daerah, menambah kapasitas produksi yang saat wawancara ini dilakukan sebanyak 500−2.000 pieces per bulan, menambah item produk lagi semisal jaket yang dapat dipakai ke kantor dan di luar kantor, serta mengikuti berbagai pameran yang tidak selalu berkaitan dengan event mendaki gunung. Dengan pemain lokal yang masih segelintir, berarti ceruk pasar produk ini masih masih sangat besar. Dengan demikian, ungkapan siapa cepat dia dapat dan siapa kuat dia yang bertahan berlaku di sini.

Tags: