Ikan Corydoras Sebesar Teri Tapi Diminati di Luar Negeri

Img Source: MajalahIkan.net

Kecil-kecil cabe rawit. Itulah ikan corydoras. Sebab, meski bentuk dan panjang tubuhnya hampir sama dengan ikan teri, tapi harga jualnya tinggi dan peminatnya justru masyarakat mancanegara. Lebih dari itu, Indonesia merupakan tempat yang paling cocok untuk mengembangbiakkannya, di samping habitat aslinya. Apa pasal?

Berbicara tentang selera berarti berbicara tentang sesuatu yang tidak perlu dan tidak ada gunanya diperdebatkan. Seperti, selera dalam memelihara ikan di mana orang-orang Asia, khususnya Indonesia, gemar memelihara ikan dalam ukuran besar, misalnya arwana, koi, koki, dan sebagainya. Sebaliknya dengan orang-orang mancanegara, terutama Eropa, justru lebih suka dengan ikan-ikan berukuran sangat kecil seperti corydoras.

Corydoras yang merupakan ikan hias air tawar dengan habitat asli perairan Amazon ini, memang memiliki ukuran tubuh yang mungil yaitu tidak lebih dari 5 cm–6cm. Tapi, satwa air yang satu ini kecil-kecil cabe rawit. Sebab, dilihat dari corak tubuhnya saja, ia diketahui mempunyai lebih dari 50 spesies/jenis dan diperkirakan masih ada ratusan spesies lagi yang belum ditemukan.

Selain itu, dengan ukuran yang imut yang justru dianggap eksotis oleh para penggemarnya, ikan yang berenang di dasar (bottom place) ini juga dikategorikan sebagai bukan ikan yang iseng atau jahat. Sehingga, aman ketika ditempatkan dalam satu akuarium dengan ikan-ikan hias lain. Bahkan, ia mampu memperindah suasana akuarium, karena mengisi dasar akuarium yang biasanya kosong, secara berkelompok.

Sementara sebagai sebuah bisnis, sangat prospektif. Mengingat, seperti telah disebutkan di atas, peminatnya pasar ekspor terutama Eropa, lalu disusul Australia, Amerika, dan Asia. Di sisi lain, dengan kondisi iklim yang mirip dengan Amerika Selatan, Bumi Nusantara ini menjadi pasar yang potensial bagi tumbuh kembang ikan-ikan dari perairan Amazon, termasuk corydoras. Apalagi, saat ini, tercatat baru sekitar 50 petani di seluruh Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang “bermain” di ikan yang satu ini. “Meski begitu, saya pribadi selalu bisa memenuhi permintaan. Dalam sejarah usaha saya ini, paling banyak pernah saya kirimkan sebanyak 2.000 ekor,” kata Imam Syafi’i, petani corydoras di kawasan Depok.

Sedangkan dari sisi harga, sangat tergantung pada jenis, ukuran, dan tingkat kesulitan dalam pembudidayaannya. Contoh, albino yang merupakan spesies corydoras yang berwarna putih keperakan dan dianggap paling mudah dikembangbiakkan ini, minimal dihargai Rp250,- –Rp300,- per ekor dengan ukuran 1 inci (2,5 cm) atau meminjam istilah para eksportir ikan hias yaitu berukuran M (Medium) sekaligus ukuran yang paling diminati pasar.

Ketika ukuran corydoras albino berubah menjadi L (Large) harganya pun bertambah menjadi Rp600,- –Rp700,- per ekor atau Rp1.000,- – Rp1.200,- per ekor ketika berukuran XL (Extra Large atau 5 cm). Lain halnya dengan Adolfoi, yang merupakan spesies corydoras yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi dalam pembudidayaannya. Sehingga, ia dihargai Rp25 ribu/ekor dengan ukuran M dan akan menjadi Rp30 ribu–Rp40 ribu per ekor ketika berukuran XL.

Dalam pembudidayaannya, ikan bersungut ini matang kawin pada umur 1 tahun. Selanjutnya, ia akan terus-menerus kawin dan bertelur selama masa reproduksinya, yang berlangsung selama setahun. Dengan syarat, kebutuhan pangannya selalu tersedia. Sesudah itu, ia mengalami degenerasi. Tapi, tetap dapat dijual laiknya ikan hias, meski tubuhnya sudah tidak singset lagi (sudah memanjang hingga 5 cm−6 cm, red.) alias sudah tidak memenuhi peraturan dalam pasar ekspor ikan hias.

Setiap kali bertelur, corydoras betina akan mengeluarkan maksimal 100−150 butir telur di mana 80%-nya mampu menetas dan tumbuh dewasa. “Kegagalan menetas atau risiko kematian pada corydoras disebabkan oleh kualitas air, sumber daya manusia, pemberian pakan yang asal-asalan, dan kualitas sperma yang buruk,” ujar sarjana perikanan dari Institut Pertanian Bogor, yang memulai usaha budidaya ikan hias sekitar tahun 1997−1998.

Dengan kata lain, ia melanjutkan, budidaya corydoras gampang-gampang susah. Tapi, secara umum, budidaya tetap dapat dijalankan, kendati hasilnya akan berbeda-beda, sangat tergantung pada spesiesnya, tingkat keasaman (ph) air, lokasi pembudidayaan, dan proses pembudidayaannya. Contoh, albino yang bisa beradaptasi dengan tingkat keasaman air yang bagaimana pun juga, seperti Bandung yang tingkat keasaman airnya 7– 8 atau Depok yang ph airnya 5−6. Sebaliknya dengan Adolfoi.

“Saya memulai usaha corydoras di kawasan Pondok Cabe di mana di sana kapasitas adolfoi bisa mencapai 100–200 ekor setiap bulannya. Tapi, begitu usaha ini saya pindahkan ke Depok, kapasitas itu menurun dengan drastis,” ungkap pemilik 6−7 jenis corydoras ini. Sekadar informasi, tingkat keasaman air yang ideal bagi corydoras yaitu 6−8.

Namun, apa pun itu, pemilik 500−700 akuarium dengan 50 jenis ikan hias ini menambahkan, menjalankan usaha budidaya corydoras tetaplah menguntungkan. Sebab, ikan sebesar cethul tapi hanya bisa dibeli oleh mereka dari kalangan menengah atas ini gampang menembus pasar mancanegara, harga tidak dapat dipermainkan, dan meski kapasitas penjualannya kecil tapi menghasilkan pemasukan yang relatif besar.

Tags: