Baby Blues Beresiko Tinggi Dialami Ibu Muda

Mungkin masih belum banyak yang mendengar istilah Baby blues. Baby blues merupakan kondisi psikis yang dialami oleh ibu muda setelah melahirkan. Meski istilah ini masih asing, namun tanda-tanda dari ibu yang mengalami baby blues mudah diketahui. Umumnya ibu muda yang mengalami baby blues akan merasakan ketakutan, ketidaksiaan, dan ketidakmampuan dalam menghadapi dirinya dan merawat serta menjaga bayinya sejak awal kelahiran.

Image Source: thestar.com

Setiap ibu akan mengalami baby blues, tidak hanya pada anak pertama saja, akan tetapi baby blues juga dapat dialami oleh ibu melahirkan yang telah memiliki anak sebelumnya. Yang membedakan adalah jangka waktu baby blues yang dialami masing-masing ibu, ada yang membutuhkan waktu lama untuk menerima keadaan barunya, ada pula yang hanya membutuhkan sedikit waktu untuk dapat langsung beradaptasi dengan kondisi barunya.

Biasanya baby blues dialami hingga maksimal mencapai tiga minggu pasca melahirkan. Baby blues akan terasa saat ibu dan bayinya kembali dari tempat melahirkan/rumah sakit dan merawat bayinya sendiri. Pemicu lain dari baby blues juga disebabkan oleh perubahan hormon dalam tubuh seelah melahirkan. Perubahan hormon esterogen dan progesteron akan menurun tajam setelah persalinan. Disamping itu hormon-hormon seperti oksitosin dan prolaktin juga akan meningkat karena berhubungan dengan produksi ASI. Perubahan-perubahan tajam hormon dalam tubuh inilah yang memicu perubahan suasan hati dan emosi ibu baru.

Selain perubahan hormon tersebut, ada beberapa faktor yang memicu baby blues pada ibu baru.

  1. Baby blues pada ibu baru dapat dipicu karena adanya hubungan yang kurang harmonis antar pasangan sehingga memicu depresi. Solusi yang sangat disarankan adalah dengan berkonsultasi dengan penasihat perkawinan untuk memperbaiki hubungan dengan pasangan, terlebih saat bayi pertama telah lahir.
  2. Komunikasi yang kurang baik dalam keluarga juga akan menyebabkan ibu merasa kecewa saat lahirnya anak pertama. Kurangnya dukungan dalam merawat serta menjaga bayi dari keluarga dan teman dekat akan mengurangi kepercayaan diri ibu menjadi seorang ibu dan cenderung membentuk karakter seorang ibu yang lemah. Karena itu sangat penting untuk mendapatkan dukungan sebelum kelahiran anak ibu.
  3. Ibu baru yang terlalu perfeksionis, sehingga saat dirinya masih belum mencapai apa yang ia harapkan, ia akan terus menuntut dirinya atau orang lain untuk lebih sempurna. Contohnya tuntutan pada suami agar menjadi ayah teladan tanpa mengetahui kesibukan suami. Hal ini tentu akan membuatnya depresi sehingga ada baiknya ibu lebih menerima apa adanya, lebih realistis, dan tidak terlalu memaksakan kehendak.
  4. Ibu muda yang merasa dirinya terkekang karena harus merawat bayi seharian di rumah, sehingga kebiasaanya berada di luar rumah bersama rekan-rekannya berkurang bahkan sama sekali tidak bisa keluar rumah. Hal ini memicu depresi dan ketidaksiapan merawat anaknya karena kebosanan dan kepenatan yang ia rasakan.
  5. Kurang siapnya perencanaan keuangan saat baru memiliki anak. Karena itu, disarankan untuk merencanakan apa saja termasuk kondisi keuangan, sehingga ibu dapat terhindar dari baby blues yang berkepanjangan.
  6. Faktor terakhir pemicu baby blues adalah kecemburuan ibu baru melihat kedekatan suami dengan bayinya. Tak sedikit ibu muda yang langsung menunjukan kecemburuannya pada suami atau hanya menyembunyikannya. Ketidakmampuan para ibu muda untuk menjelaskan mengenai kecemburuannya inilah yang menyebabkan baby blues berkepanjangan.

Meski demikian, bukan berarti ibu harus mengalami baby blues yang berkepanjangan. Dengan mempersiapkan diri dan mendapat dukungan dari keluarga serta lingkungan menjadi salah satu solusi untuk menyingkat kondisi baby blues. Selain itu, ibu juga meminta bantuan pada suami untuk bekerja sama merawat dan menjaga bayi tanpa menuntut berlebih. Misalnya dengan berbagi tugas saat weekend seperti mengganti popok atau membuat susu sehingga ibu merasa terbantu dan tidak mengalami baby blues yang berkepanjangan.

Tags: