Menuju Usaha yang Berkah

Sudah menjadi ketetapan Allah bahwa apa-apa yang kita upayakan di dunia ini senantiasa akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. Semuanya. Tak terkecuali mereka yang memiliki usaha kecil dan rumahan.

Image: VOA ISLAM

Sebagai pemilik usaha yang mengimani Allah, tentunya selain keuntungan, kita juga mengharapkan ridha Allah dalam menjalankan usaha. Alangkah beruntungnya kita, jika perniagaan yang kita miliki saat ini dipandang Allah sebagai sebuah kebajikan yang mendatangkan keberkahan dari-Nya.

Bicara keberkahan, maka kita bicara soal melakukan kebajikan dalam berniaga sesuai dengan aturan dan batasan yang telah di tetapkan oleh Allah dan Rasulnya.

Keberkahan usaha sendiri dapat bermacam-macam bentuknya. Yang jelas, keberkahan usaha erat hubungannya dengan kedamaian hati. Baik itu di hati kita sendiri sebagai pemilik, ataupun di hati pasangan dan anak-anak kita.

Tak hanya itu, usaha yang berkah juga membawa ketenangan di hati para karyawan dalam menjalankan tugasnya dan akan membuat mereka nyaman bekerja.

Sedangkan dalam hal produk dan layanan, usaha yang berkah senantiasa akan memenangkan hati para konsumen sehingga mereka percaya dan setia dengan apa yang kita tawarkan.

Lalu bagaimana agar keberkahan itu bisa turut menyertai usaha kecil dan rumahan kita? Berikut adalah beberapa hal yang, Insha Allah, dapat membantu kita:

1. Luruskan Niat

Apakah yang ingin Anda capai dari usaha yang kini dimiliki? Apakah untuk menjadi kaya? Mendapatkan kebebasan? Mewujudkan mimpi hidup? Atau semua yang saya sebutkan?

Tidak mengapa jika Anda ingin jadi kaya. Tidak mengapa Anda ingin mendapatkan kebebasan. Tidak mengapa pula jika Anda ingin mewujudkan mimpi sebagai seorang pengusaha. Tapi renungi kembali, apakah semua keinginan-keinginan tersebut bisa membuat Anda lebih dekat dengan Allah?

Kalau kita pikirkan lagi, memiliki usaha hanyalah salah satu cara di mana kita bisa memperoleh penghidupan. Dan penghidupan yang hakiki adalah penghidupan yang menambah keimanan dan keyakinan kita terhadap kebesaran Allah SWT.

Maka dari itu, mari luruskan niat dan hati nurani kita. Agar apa yang kita upayakan siang dan malam untuk memajukan usaha, tak lain sebagai wujud kepatuhan kita kepada Sang Maha Pencipta.

2. Jaga Timbangan

Setiap usaha, seberapapun besarnya, akan selalu melibatkan timbangan. Karena dengan timbanganlah, kita akan mengetahui apa yang kita bisa dapatkan dari perniagaan yang kita lakukan

Timbangan dalam wujud umumnya adalah alat yang digunakan untuk menakar jumlah barang yang dijual. 15 kg beras, 500 gram tepung, 10 meter bahan kain, dan 1 galon air, adalah contoh-contoh takaran yang diperoleh dari hasil menimbang.

Tapi makna timbangan sendiri juga bisa diperluas lebih dari sekedar mengukur panjang, lebar, dan volume. Timbangan juga dapat dimaknai sebagai satuan unit yang kita jual ke pelanggan. Bisa jarak, jumlah, ataupun item-item lainnya.

Sehingga menjaga timbangan dalam konteks ini adalah dengan berlaku jujur dengan takaran.

Kalau kita menjual barang per kilo, maka pastikan dalam setiap produksi unitnya benar-benar satu kilo. Jika kita menawarkan jasa delivery sampai Bandung, maka pastikanlah barang diantarkan sampai Bandung. Jika kita mengklaim produk kita menggunakan bahan dari A, maka benar-benarlah menggunakan bahan A.

Baik secara literal ataupun konteks, timbangan adalah tolok ukur kejujuran kita sebagai pelaku usaha. Timbangan adalah alat pembuktian atas ketulusan dan keikhlasan hati untuk menjunjung nilai-nilai kejujuran, walaupun itu artinya bisa mengurangi keuntungan usaha.

Allah (SWT) berfirman dalam surah Al-Mutaffifin (1-9):

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi ,dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar,(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis.

Jika Allah memandang timbangan kejujuran begitu penting, maka untuk mendapatkan usaha yang berkah, sudah sepantasnyalah kejujuran menjadi kepribadian usaha kita.

3. Jaga Kehalalan

Menjaga kehalalan bukan semata-mata karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, tapi juga karena kehalalan merupakan pembuka jalan menuju berkah.

Dengan menjaga kehalalan, maka kita telah menjaga kebersihan dan kesucian. Baik soal bahan, sumber dana, maupun pengolahan dan metode pemasarannya.

Sebuah produk bisa saja menggunakan bahan yang halal. Namun apabila cara menjualnya dengan mengurangi timbangan misalnya, maka apa yang dilakukannya tersebut tidak bisa dibenarkan dan dengan sendirinya menutup jalan keberkahan.

4. Sucikan Profitnya

Keberhasilan dalam mengelola dan mengembangkan usaha acapkali dicerminkan pada jumlah keuntungan yang bisa kita peroleh. Biarpun begitu, keuntungan yang kita hasilkan sebagian darinya merupakan hak orang lain yang dititipkan oleh Allah.

Menyadari hal tersebut, maka kita sebagai pengusaha berkewajiban untuk menyampaikan hak tersebut dalam bentuk pembayaran zakat. Dengan berzakat, setidaknya ada tiga hal yang telah dicapai: mensucikan harta, menyampaikan amanah Allah, dan membantu memberdayakan ekonomi masyarakat tidak mampu.

Perhitungan zakat sendiri dapat dilakukan dengan menghubungi lembaga-lembaga zakat yang banyak tersebar di tanah air.

5. Sabar Terhadap Rejeki di Kala Bisnis Menurun

Tak selamanya usaha menghasilkan keuntungan. Ada kalanya usaha kita meninggi aktivitasnya, ada kalanya pula menjadi sepi. Naik turunnya sebuah usaha merupakan sesuatu yang lumrah. Tapi terkadang diri kita sulit untuk menerima kondisi ini, terlebih ketika para kompetitor justru tampak tumbuh dan berkembang usahanya.

Di saat-saat seperti inilah seorang pengusaha dituntut untuk bisa terus berpikiran positif dan berprasangka baik kepada Tuhannya.

Kesabaran terhadap rejeki, merupakan salah satu “kelas” wirausaha yang harus dialami oleh setiap pengusaha kecil dan rumahan. Di kelas ini mereka akan diuji sampai sejauh mana kemampuan dalam menghadapi tekanan dan mengelola kesabaran.

Hal terpenting yang sebaiknya diingat oleh para pengusaha kecil dan rumahan adalah, besar kecilnya rejeki merupakan sebuah ketetapan yang telah diputuskan oleh Sang Maha Pemberi Rejeki. Terkecuali bila Allah berkehendak lain, maka jatah rejeki yang akan kita terima tidak akan kurang ataupun lebih dari jatah yang sudah ditetapkan-Nya.

6. Tetap Networking Kepada Kerabat dan Saudara

Membangun jaringan merupakan salah satu pilar keberhasilan sebuah usaha. Dalam Islam sendiri, membangun jaringan (Silaturahmi) merupakan salah satu cara bagi seseorang untuk memperpanjang umur dan meluaskan rejeki.

Simpul silaturahmi merupakan sebuah kekuatan yang akan membantu usaha kita untuk dikenal, dibutuhkan, dan tetap eksis di pasaran. Tak hanya itu, silaturahmi juga akan memantapkan ikatan persaudaraan baik antar keluarga ataupun sesama pengusaha.

Dengan silaturahmi, maka akan melatih kita untuk menjadi seorang pengusaha yang mampu menjalin tali kemanusiaan dengan sesama, bagus rejekinya, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain melalui usaha yang kita jalani.

7. Perbanyak Sedekah

Sebuah jaminan langsung dari Allah bahwa bersedekah tidak akan membuat kita miskin. Bahkan sedekah hanya akan membuat kita tambah kaya lagi.

Bukti-bukti sejarah tentang kehebatan sedekah di masa lampau ataupun yang banyak kita dengar sekarang ini, merupakan contoh-contoh nyata betapa sedekah akan mengakselerasi jumlah kekayaan yang kita miliki.

Berbagai cerita dari Ustad Yusuf Mansyur adalah salah satu dari sekian banyak contoh yang bisa membuat kita berpikir tentang makna sedekah.

* * *

Sebagai pemilik usaha yang mengimani Allah, tentunya kita mengharapkan ridha Allah dalam menjalankan usaha. Alangkah beruntungnya kita, jika perniagaan yang kita miliki saat ini, kelak dipandang Allah sebagai sebuah kebajikan yang akan mendatangkan keberkahan-Nya.

Keberkahan usaha sendiri dapat bermacam-macam bentuknya. Yang jelas, keberkahan erat hubungannya dengan kedamaian hati dalam menjalankan usaha.

Untuk mendapatkan keberkahan pun banyak caranya. Apapun yang Anda lakukan, keberkahan usaha hanya akan bisa dicapai melalui kepatuhan pada aturan dan tuntunan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya.

Semoga apa yang ditulis di atas, bisa memberikan manfaat kepada para pengusaha kecil dan rumahan yang menginginkan keberkahan dalam usahanya.