Menyingkap Rahasia Hubungan Gelap Saham dan Forex

Ketika Anda terjun dalam dunia forex trading, apakah Anda hanya akan fokus seputar pergerakan nilai tukar mata uang saja? Apakah Anda tidak memantau kondisi pasar lainnya seperti bursa saham atau bursa komoditas. Jika jawaban Anda “Ya” maka Anda perlu menambah wawasan lagi. Bukan berarti Anda salah, namun dengan mengetahui pergerakan bursa atau pasar yang lain maka bisa lebih awal mengetahui kemana pergerakan forex.

Lho, memangnya ada hubungan kekeluargaan antara forex, saham dan komoditas? Keluarga kandung sih bukan, lebih tepatnya perselingkuhan… he… he… bercanda.

Kita tahu siapa yang menggerakkan harga. Penggerak pasar adalah manusia melalui instistusi keuangan, bank sentral, bank-bank besar, investor kelas kakap seperti George Soros dan kawan-kawannya. Lalu ke manakah mereka memutar uangnya? Pada umumnya mereka memutar uangnya ke pasar forex, bursa saham dan komoditas, dan sebagian kecil lain ke instrumen finansial lain seperti obligasi atau surat utang negara.

Dari penjelasan di atas, apakah kira-kira Anda sudah bisa menebak hubungan antar instrumen finansial?

Pada dasarnya, ketika ekonomi sedang bagus biasanya bursa saham akan mengalami kenaikan, sehingga para investor akan memasukkan modalnya ke sana. Jika bursa saham jatuh maka mereka akan menarik modalnya dari bursa saham dan akan memindahkan ke instrumen lain semisal forex atau ke komoditas. Demikian juga jika justru pasar forex yang sedang bergejolak, maka para investor akan mengamankan modalnya dengan memasukkan modalnya ke sektor lain; entah saham atau komoditas. Jadi pada dasarnya modal para pelaku pasar itu hanya berputar-putar saja antara forex, bursa saham, komoditas serta instrumen lainnya.

Indeks S&P 500 mewakili pergerakan bursa saham termasuk mewakili high yield currency seperti Aussie dan New Zealand Dollar. Indeks US dollar yang biasanya dijadikan acuan terhadap nilai tukar mata uang. Dari kedua grafik di atas, terlihat secara umum bursa saham dan US dollar mengalami kenaikan dalam satu bulan terakhir. Nah, ketika para pelaku pasar berbondong-bondong memasukkan modalnya ke bursa saham serta memburu US dollar, kira-kira instrumen apa yang mengalami penurunan ? 

Anda benar. Instrumen yang mengalami tekanan atau penurunan dalam kasus di atas adalah komoditas serta low yield currency seperti mata uang Yen Jepang. Dalam satu bulan terakhir harga emas juga cenderung mengalami penurunan namun mata uang high yield currency seperti Aussie menguat.

Pengetahuan tentang pergerakan bursa saham serta komoditas bisa Sobat Trading Emas gunakan sebagai bahan pertimbangan atau analisa ketika akan mentransaksikan suatu pair atau pasangan mata uang.

Jika tida ada kejadian luar biasa, apabila indeks saham Amerika Serikat mengalami rally maka high yield currency seperti Aussie dan New Zealand Dollar akan menguat. Sebaliknya, mata uang low yield currency seperti Yen dan Swiss Franc akan melemah.

Contoh paling mudah mungkin adalah fenomena menguatnya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dan rupiah pada waktu yang bersamaan beberapa waktu lalu. Dalam keadaan normal, penguatan indeks saham biasanya diiringi oleh pelemahan mata uang negara yang bersangkutan. 

Namun ada faktor lain yang menyebabkan kedua instrumen tersebut menguat bersamaan, yang dipercaya merupakan imbas “Jokowi effect”.

Demikian apa yang bisa disampaikan kali ini. Semoga bisa menambah wawasan atau pengetahuan Anda khususnya bagi yang masih baru mengenal dunia trading.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *