Bumi Makin Panas Badan Tetap Sehat

Dampak pemanasan global tak hanya mempengaruhi alam dan lingkungan hidup, tapi juga kesehatan kita. Apa yang perlu Anda lakukan?

Ampun deh, panasnya! Mungkin itu yang terlontar dari mulut Anda karena cuaca panas yang terasa menyengat kulit belakangan ini. Padahal, bisa jadi waktu itu baru pukul 8.30 pagi. Tapi keringat sudah mengucur deras dari pori-pori di sekujur tubuh. Kalau nggak butuh-butuh banget pergi ke luar, pasti Anda lebih memilih seharian berada di ruangan ber-AC yang disetel dengan suhu paling sejuk.

Pemanasan dituding menjadi biang keladi peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi yang membuat gerah udara akhir-akhir ini. Isu tersebut tentu sudah tak asing lagi di telinga Anda saking seringnya dibicarakan orang.

Namun pemanasan global bukan melulu soal lingkungan atau bumi yang rusak. Peningkatan suhu bumi berpengaruh pula terhadap kesehatan manusia. Menurut laporan Pertemuan Antar-Negara tentang Perubahan Iklim ke-4 (Fourth Assessment Report of the Inter Governmental Panel on Climate Change = IPCC) tahun 2007, dampak langsung perubahan iklim menyumbang peningkatan jumlah penyakit dan kematian dini.

Studi komprehensif yang dilakukan WHO, menunjukkan perubahan iklim yang terjadi pertengahan 1970-an diperkirakan telah menyebabkan 150 ribu kematian pertahun akibat peningkatan kejadian penyakit. Infeksi virus, bakteri, jamur, dan kuman membawa penyakit lainnya diperkirakan akan makin merajalela.

Influenza yang dulu hanya saat musim dingin (di daerah empat musim) atau musim hujan (di daerah tropis) menyerang pada semua musim. WHO mencanangkan “Health Protection from Climate Change” sebagai tema besar Hari Kesehatan Sedunia pada tahun 2008.

PERLU WASPADA

Berikut adalah penyakit-penyakit yang perlu diwaspadai karena bakteri dan kuman semakin resisten, akibat pemanasan global.

Diare

Perubahan iklim berkaitan dengan pola hujan, yang dapat memengaruhi penyebaran berbagai mikroorganisme penyebar penyakit. Hujan dapat mencemari air dengan cara memindahkan kotoran manusia dan hewan ke air tanah. Organisme yang ditemukan antara lain kriptosporodium, giardia dan E-coli yang dapat menyebabkan diare.

Namun penularan diare bukan hanya melalui kontaminasi air, tapi juga dapat meningkat akibat suhu tinggi karena berdampak langsung pada pertumbuhan organisme di lingkungan.

Yang Bisa Kita Lakukan

  • Saat hujan turun tiap hari, selokan-selokan yang tersumbat biasanya meluap, dan membawa parasit cacing serta turut mengangkat amuba. Untuk menjaga kebersihan, biasakan cuci tangan dan kaki setelah berpergian.
  • Kenakan alas kaki untuk mencegah penyebaran kotoran atau parasit masuk lewat kulit.
  • Hindari membeli makanan di sembarang tempat.

Demam Berdarah Dengue & Malaria

Udara yang lembab dan hangat sangat disukai nyamuk. Karena dalam kondisi seperti itu, Anopheles dan Aedes aegypti, nyamuk penebar parasit malaria dan virus dengue, berkembang biak.

Kalau dulu kedua nyamuk ini lebih sering muncul pada masa transisi antara musim hujan dan kemarau, kini serangan mereka hampir di sepanjang tahun. Iklim yang bergeser, ditambah sanitasi buruk yang selalu menyediakan genangan air jernih untuk bertelur, membuat keduanya dapat menyerang sewaktu-waktu secara ganas.

Suhu yang lebih hangat ternyata bisa memperpendek siklus hidup mereka, sekaligus mengurangi periode matang kuman di dalam tubuh mereka. Akibatnya, populasi kedua nyamuk itu malah meledak, dan penularannya makin cepat.

Yang Bisa Kita Lakukan

Untuk mencegah gigitan nyamuk:

  • Tidur dengan menggunakan kelambu.
  • Oleskan krim pencegah gigitan nyamuk.
  • Semprot ruangan dengan insektisida satu jam sebelum masuk tidur.

Untuk memberantas sarang nyamuk:

  • Bersihkan kaleng-kaleng atau wadah kosong, bahkan cekungan sekecil apa pun yang mungkin menimbulkan genangan air jernih.
  • Rapikan semak belukar di sekitar rumah.
  • Pelihara ikan untuk membunuh larva nyamuk.
  • Taburkan insektisida khusus untuk mernbunuh larva nyamuk.
  • Lipat kain yang bergantungan.

Leptospirosis

bakteri leptospira, muncul dalam genangan air karena adanya kontaminasi air dari kotoran/kencingtikus. Terkena pada luka terbuka, bakteri akan menyerang dan timbul gejala seperti flu namun fokus pada nyeri-nyeri otot terutama di betis.

Karena itu hujan terus-menerus dan kenaikan permukaan air laut, yang mengakibatkan banjir, yang dituding penyebab berkeliarannya bakteri leptospira. Seringnya orang langsung tak sadar dirinya telah tertular bakteri leptospira.

Yang Bisa Kita Lakukan

  • Tutupi luka dan lecet dengan balut kedap air, terutama sebelum bersentuhan dengan tanah, lumpur atau air yang mungkin dicemari air seni binatang.
  • Pakai sepatu bila keluar, terutama jika tanahnya basah atau berlumpur.
  • Pakai sarung tangan bila berkebun.
  • Halau tikus dengan membersihkan dan menjauhkan sampah makanan dari perumahan.
  • Cuci tangan dengan sabun dan pembasmi kuman untuk membunuh kuman leptospira.

Kanker Kulit

Gas rumah kaca yang menumpuk di atmos-fer bumi, selain menyumbang intensitas pemanasan global, juga merusak lapisan ozon di puncak atmosfer. Jika dalam kondisi normal, atmosfer bisa menahan 95% radiasi ultraviolet matahari. Hanya 5% yang lolos ke bumi. Itu berkat adanya lapisan ozon.

Namun, kini lapisan pelindung itu hancur sebagian, terutama di sekitar langit di Kutub Selatan. Kondisi ini mengakibatkan penduduk di kawasan itu rawan terhadap kanker kulit akibat sengatan ultraviolet. Tapi bukan berarti kita bebas mandi matahari tanpa perlindungan, lho.

Yang Bisa Kita Lakukan

  • Sekitar 20 menit sebelum keluar rumah, oleskan sekujur tubuh Anda dengan sunblok lotion SPF 15 atau lebih.
  • Lapisi juga krim tersebut pada kedua telinga dan kaki Anda.
  • Jika aktivitas mengharuskan Anda berada di bawah terik matahari untuk jangka waktu cukup lama, pilih sunblock lotion minimal SPF30.
  • Ulangi pemberian sunblock setiap dua jam. Saat berenang atau berkeringat, Anda bisa lebih sering lagi mengoleskannya di kulit.

Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Secara rata-rata, kenaikan suhu udara global ‘hanya’ 0,8 derajat celsius. Namun di beberapa tempat, temperatur udara naik cukup tinggi, termasuk pada suhu air laut, hingga melahirkan daerah tekanan rendah. Bertiuplah angin kencang.

Tiupan angin kencang berkombinasi dengan udara kering sering memantik kobaran api, dan mengakibatkan kebakaran hutan. Sudah pasti timbul asap yang meluas terbang ke mana-mana, bahkan menyeberang hingga ke negara tetangga.

Debu halus dan pelbagai oksida karbon itu menyebabkan gangguan pernapasan, mulai asma hingga penyakit paru obstruktif kronis. Asap tersebut juga membawa racun dioksin yang bisa menimbulkan kanker paru dan gangguan kehamilan.

Sebaliknya material kayu dan serasah yang terbakar itu, menghasilkan jutaan ton gas-gas rumah kaca yang lagi-lagi memicu pemanasan global.

Yang Bisa Kita Lakukan

Jika sudah mengalami penyakit paru obstruktif kronis, jangan sampai mengalami influenza atau pneumonia, yang bisa memperburuk kondisi tubuh. Sebaiknya lakukan vaksinasi influenza setiap tahun dan vaksinasi pneumokokus setiap enam tahun atau lebih.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *