Jawaban Bagaimana karakter seorang Buya Hamka ?

Jika kamu sedang mencari jawaban atas pertanyaan: Bagaimana karakter seorang Buya Hamka ?, maka kamu berada di tempat yang tepat.
Disini ada beberapa jawaban mengenai pertanyaan tersebut. Silakan baca lebih lanjut.

Pertanyaan

Bagaimana karakter seorang Buya Hamka ?

Jawaban #1 untuk Pertanyaan: Bagaimana karakter seorang Buya Hamka ?

Mengenal seorang tokoh, meskipun sudah 30 tahun lebih wafat, melalui
tutur kata anaknya tentu kita akan mendapatkan dimensi yang lebih
pribadi dan akan terasa lebih dekat. Terlebih bila sang anak rajin
mencatat setiap peristiwa yang dialami bersama ayahnya. Tentu, akan ada
banyak informasi yang tidak banyak diketahui oleh orang lain yang akan
kita dapatkan. Dan, inilah yang dilakukan oleh Irfan Hamka, putra kelima
Buya Hamka, yang sejak SMP, selalu menuliskan setiap kejadian yang
dialaminya.
Berbekal kumpulan catatan-catatan yang masih dimilikinya, sebagian
catatan telah hilang, Irfan Hamka kemudian menyusun buku yang
mengisahkan tentang Ayahnya.  Lewat buku yang diberi judul “Ayah…”,
 kita akan melihat dimensi pribadi Buya yang telah 32 tahun
meninggalkan kita akan lebih kita kenal dengan akrab. Seluruh kisah yang
ada di buku ini merupakan kenang-kenangan Irfan Hamka akan ayahnya
sebagai manusia yang dicintai oleh istri, anak-anak, keluarga,
murid-murid, dan sahabat-sahabatnya, dimulai saat dia berusia 5 tahun
(1948, zaman agresi II) sampai 1981, tahun Buya wafat.

Buku Ayah…
Sebagai seorang anak, penulis buku ini tentu memiliki kelebihan
dibandingkan penulis-penulis lain saat mengisahkan Buya Hamka. Ada
banyak kisah Buya yang hanya bisa ditemukan di buku ini, dan akan sulit
menemukan di buku lain. Kisah Buya mengajarkan anak-anaknya mengaji,
ilmu silat, dan kisah Buya sepeninggal istri tercinta yang telah
menemani dalam suka dan dukanya selama lebih dari lima puluh tahun,
merupakan contoh dari banyak kisah yang menggambarkan sosok Buya apa
adanya, yang hanya akan diketahui oleh orang-orang terdekat Buya.
Dalam kisah Buya membimbing dan mendidik anak-anaknya
sungguh kita akan melihat betapa Buya sangat sabar, bijak, telaten,
tetapi sangat tegas dalam membimbing anak-anaknya. Buya sangat
mempertimbangkan karakter putranya sehingga ilmu yang diberikan sesuai
dengan kebutuhannya. Kisah Buya sepeninggal istrinya yang telah
menemaninya lebih dari 50 tahun sungguh membuat kita kagum. Ketika Buya
kangen dengan Ummi terdengar Buya menyenandungkan “Kaba”.
Senanduang dalam bahasa Minang yang berisi kisah melankolis, seperti
kasih tak sampai atau rasa sedih karena berpisah. Pada titik tertentu
dimana rasa kangen terhadap Ummi memuncak, Buya berhenti. Lalu Buya
berwudhu dan shalat dua rakaat. Ketika ditanya tentang shalat dua
rakaat, Buya menjelaskan, “Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi
melebihi kecintaan Ayah kepada Allah.” Subhanallah.

Selain soal kehidupan keluarga, melalui buku ini juga kita akan
melihat jejak Buya bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Sungguh ketika
membaca kisah Buya, kita akan melihat sikap seorang ulama yang sangat
tegas dan keras dalam hal akidah meski untuk itu harus meninggalkan
jabatan dan berseberangan dengan penguasa. Kita juga akan melihat, Buya
yang pemaaf dan berjiwa besar.
Buya telah lama meninggalkan kita (Buya meninggal pada tahun 1981).
Dan, generasi sekarang yang pernah menyaksikan Buya Hamka, tentu tidak
banyak lagi. Kebanyakan dari kita mungkin masih sangat kecil, bahkan
mungkin belum lahir. Namun, nasihat dan teladan Buya pasti abadi.
Terlebih dengan hadirnya buku seperti ini. Di tengah suasana batin
bangsa ini yang jengah dengan perilaku pemimpinnya dan kerinduan yang
luar biasa akan hadirnya tokoh yang bukan saja nasihatnya penuh hikmah,
tapi tindak tanduknya pun penuh teladan.

Sekian tanya-jawab mengenai Bagaimana karakter seorang Buya Hamka ?, semoga dengan ini bisa membantu menyelesaikan masalah kamu.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *