Home » Aku, Sekolah, dan Sepeda

Boleh jadi, saya adalah seorang pecinta sepeda. Dan rasanya, saya sangat harus berterima kasih kepada moda roda dua ini, atas jasanya selama ini terhadap diri saya.

Sepeda pertama yang saya kenal, adalah sepeda BMX warna kuning milik kakak saya. Sepeda itu ayah beli dengan menggunakan uang angpau yang kakak terima oleh sebab disunat. Ya, di daerah kami, sepeda adalah simbol kelelakian. Setiap anak yang habis disunat, pasti akan beli sepeda. Saya sendiri, disunat waktu kelas 5 SD. Dukun sunat saya adalah Pak Kusnadi, seorang mantri sunat yang sangat terkenal di seantero kampung. Saya tidak beli sepeda, karena saya mewarisi BMX kakak saya, sebagaimana saya sebutkan di atas.

Masuk Tsanawiyah (setara SMP), saya terpaksa memensiunkan sepeda BMX saya karena telah rusak di sana-sini. Sebagai ganti, saya menggunakan sepeda federal hadiah dari bibi agar saya bisa sekolah. Demi Allah, saya sangat mencintai almarhumah bibi saya yang meninggal kurang dari setahun yang lalu. Beliaulah orang yang menjamin agar saya tetap sekolah, meski dengan modal sebuah sepeda federal dan seragam sekolah.

Sepeda federal tak berusia lama. Kelas dua MTs, saya mengganti sepeda saya menjadi sepeda jengki. Saya tidak tahu kenapa disebut demikian. Sepeda jengki adalah sepeda kecil yang memiliki keranjang dibagian depan. Merk-nya phoenix, made ini China.

Masuk SMA, tahun 2001, saya harus merelakan sepeda-sepeda saya karena harus meninggalkan kampung dan tinggal di kota Brebes. Saya tidak bersepeda sampai dengan tahun 2004, kecuali hanya sesekali.

Tahun 2004, takdir kembali merengkuh saya untuk bersepeda. Saya masuk sebuah perguruan tinggi swasta yang sangat peduli dengan lingkungan, dan boleh jadi adalah kampus Go Green pertama di Indonesia: Politeknik Gajah Tunggal. Setiap mahasiswa tidak boleh memakai kendaraan bermotor ke kampus. Satu-satunya kendaraan yang dibolehkan adalah sepeda. Sisanya jalan kaki.

Di kampus itu, tingkat kekayaan seseorang bisa dilihat dari sepedanya. Saya ingat betul, satu-satunya sepeda paling mewah adalah milik tuan Afri dengan merk Polygon. Sedangkan, mayoritas sepeda yang lain adalah sepeda tanpa merk, yang dibeli mahasiswa di toko Pak Ali yang berada tepat di depan asrama. Pengalaman menarik saya di kampus itu adalah ketika sepeda menaiki saya, karena saya parkir sembarangan di kampus. Waktu itu, saya dan teman-teman keliling lapangan 10  sampai 20 kali dengan memanggul sepeda.

Sekarang, di kampus ini, saya kembali bersepeda. Untuk bisa bersepeda, saya memilih datang ke kampus 1 jam lebih awal. Saya bersepeda dari shelter sepeda kuning di dekat stasiun menuju ke fakultas ekonomi.

Terima kasih sepeda. Engkau begitu setia menemaniku belajar… 🙂 (uk)

depok, sehabis bersepeda


Comments

Aku, Sekolah, dan Sepeda — 4 Comments

Leave a Reply