Home » Aku Sarjana, Ayah …

“One father is more than a hundred schoolmasters” ~ George Herbert (1593 – 1633)

[Seorang ayah, lebih dari seratus guru sekolah]

Dua hari yang lalu, saya bermimpi tentang ayah saya. Dan di dalam mimpi itu, ayah menatap saya dengan tatapan marah. Tatapan yang sama persis saat saya membantah perintahnya membelikan ibu bumbu dapur  ketika sedang asyik belajar saat saya kecil. Lalu saya terbangun dalam keadaan tak ingat betul keseluruhan cerita dalam salah satu episode mimpi tersebut. Saya tertegun. Apa gerangan yang membuat beliau marah?

aku sarjana ayah

Sehari setelahnya, saya chat dengan salah seorang teman. Dalam chat itu, saya beri tahu saya akan diwisuda Desember mendatang dan bertanya, apa perlu membawa orang tua di acara wisuda tersebut sedang orang tua saya sudah cukup tua?

Jawaban teman saya sungguh membuat saya terhenyak. “Kamu jahat banget si. Masa orang tua gak diajak ke acara wisuda.” Saya terdiam agak lama dan tidak segera membalas chat-nya. Saya merasakan, ada cairan hangat di kelopak mata saya.

Saya beristighfar dalam hati. Jangan-jangan saya termasuk orang yang belum bisa membahagiakan orang tua. Saat bahagia seperti ini, saya justru tidak mengikutsertakan orang tua saya, meskipun saya beranggapan memiliki alasan yang cukup rasional untuk tidak mengajak ayah saya ke wisuda …

Seketika itu, saya teringat dengan mimpi saya. Sepertinya, Allah sedang menegur saya melalui mimpi tersebut. Ya, sejak saya dinyatakan lulus S1 dan menjadi sarjana pada Februari 2010, kemudian mengikuti perkuliahan pascasarjana di sebuah universitas di Depok sambil menunggu teman-teman lulus dan wisuda pada Desember, belum pernah sekalipun menyinggung pembicaraan mengenai wisuda dengan ayah. Alasan saya sederhana: saya tidak ingin ayah, ibu dan keluarga di kampung halaman, pusing memikirkan biaya transportasi dan wisuda. Saya beranggapan, usia ibu dan ayah sudah cukup tua untuk menemani saya diwisuda di Jakarta. Saya takut betul merepotkan mereka.

Padahal, saya dengar sendiri dari ceritera kakak setiap kali menelpon. Ayah masih kuat bekerja di sawah. Atau kadang-kadang, mengantar ibu ke pasar dengan becak, yang jauhnya lebih kurang 6 KM …

Lantas, kenangan sosok orang tua berlalu-lalang dalam pikiran saya. Ayah yang suatu kali, membonceng saya bersepeda membeli topi sekolah saat saya SMP. Atau beliau yang tiba-tiba menghampiri saya dengan bahagia tak terkira, ketika usai menghadiri acara perpisahan SMA saya karena diberi tempat duduk di barisan paling depan tepat di depan seorang yang menurut ayah saya adalah polisi, karena sekolah memberlakukan kebijakan tempat duduk berdasarkan peringkat seperti di film “3 Idiots”.

Atau sesosok ibu yang senantiasa beradu cepat dengan kokok ayam jantan, demi menyiapkan sarapan saya sebelum berangkat sekolah. Juga sosok ibu yang tidur di ruang tamu demi menunggu saya pulang dari sekolah hingga tengah malam …

Robby …

Mungkin, mimpi ini memang teguran dariMu, betapa aku kurang bersyukur memiliki ayah dan keluarga yang begitu bahagia melihat anaknya bisa lulus kuliah. Saya ingat betul, dengan beberapa ratus ribu rupiah yang saya kumpulkan selama beberapa bulan, kulihat ayah dengan ibu begitu berbinar dan bergegas membeli bahan makanan seadanya dan mengundang beberapa tetangga mengadakan semacam tasyakuran beberapa bulan yang lalu.

Untuk itu, ayah … aku berjanji, aku tak kan pernah membuatmu kecewa. Aku akan pulang dalam waktu dekat dan mengabarkan kepadamu perihal wisudaku dan berharap engkau bisa menemaniku … Aku berjanji ayah, akan dengan bangga mengatakan padamu bahwa aku akan segera wisuda. “Aku Sarjana, Ayah … ”

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah:

“Tuhanku… sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah menyayangiku saat aku kecil”. (Al-Israa’ : 24)


Comments

Aku Sarjana, Ayah … — 2 Comments

Leave a Reply