Home » Arti Ekonomi Secangkir Kopi

Dalam hal per-kopi-an, Indonesia memiliki kedudukan yang sangat istimewa di dunia internasional karena memiliki kopi paling mahal sedunia. Ya, rekor kopi termahal di dunia saat ini adalah Kopi Luwak, yang dikais dari kotoran Luwak (Paradoxurus hermaphroditus), hewan sejenis musang atau garangan. Dalam salah satu episode acara talk-show yang dibawakan Si Nyonya Kaya Oprah Winfrey, harga secangkir kopi luwak di Amerika mencapai US$ 50 atau ekuivalen dengan Rp 500.000,-. Dua cangkir kopi setara dengan biaya wisuda saya bulan depan. Woww!!

Tulisan ini terinspirasi dari buku yang saya baca. Judulnya The Undercover Economist. Dalam edisi Indonesian, buku tulisan Tim Harford ini diterjemahkan menjadi Detektif Ekonomi. Tulisan ini juga saya dedikasikan untuk beberapa sahabat saya, para pecinta, pembenci, pembuat, pengamat, serta petani kopi.

Berapa harga kopi yang Anda minum? Jawabannya pasti beragam. Sahabat saya, Bei Fadilah, mungkin akan menjawab seharga kopi di warung sebelah atau Indomaret. Saya, mungkin akan menjawab seharga Rp 2.000,- yang saya beli dari Pak Ujang. Sedangkan, Mbak Arly, sahabat saya lagi, mungkin akan menjawab seharga Caramel Macchiato di Starbucks kesayangannya. [Terima kasih untuk traktirannya :)]

Dalam pandangan para ekonom, secangkir kopi yang tersaji dihadapan pecinta kopi (dalam hal ini kita menyebutnya sebagai konsumen), memiliki arti lebih dari secangkir kopi. Bayangkan, secangkir kopi panas yang tersaji di atas meja telah melalui serangkain proses yang sangat panjang dan rumit. Saya berani menjamin, tak ada seorang pun di dunia yang bersedia menikmati secangkir kopi dengan menjalani sendiri keseluruhan prosesnya dan menyediakan sendiri alat dan pendukungnya, dari mulai memilih benih, mencangkul, menamam, menyiram, memanen, menggiling (termasuk membuat gilingan sendiri), lalu dengan proses yang sama menanam tebu untuk menghasilkan gula, membuat sendiri cangkir dan sendoknya, dan sebagainya. Jika ada yang bersedia melakukan hal demikian, dia baru akan merasakan kopi setelah beberapa tahun.

Menurut Guru Besar Ekonomi Brian McManus, rata-rata mark-up untuk harga kopi adalah sebesar 150%, yang berarti bahwa kopi seharga 1 dollar, biaya produksinya secara keseluruhan adalah sebesar 40 sen. Bahkan, untuk kasus beberapa kedai kopi papan atas, angka ini bisa beberapa kali lipat.

Dalam hal per-kopi-an, Indonesia memiliki kedudukan yang sangat istimewa di dunia internasional karena memiliki kopi paling mahal sedunia. Ya, rekor kopi termahal di dunia saat ini adalah Kopi Luwak, yang dikais dari kotoran Luwak (Paradoxurus hermaphroditus), hewan sejenis musang atau garangan. Dalam salah satu episode acara talk-show yang dibawakan Si Nyonya Kaya Oprah Winfrey, harga secangkir kopi luwak di Amerika mencapai US$ 50 atau ekuivalen dengan Rp 500.000,-. Dua cangkir kopi setara dengan biaya wisuda saya bulan depan. Woww!!

Saya jadi ingat kata-kata Pak Habibie. “Lihatlah peta itu!”, kata beliau. Wilayah yang luas itu Indonesia. Sedangkan titik kecil berwarna merah itu Singapura. Lihat itu baik-baik!” Selain kopi luwak, kita masih memiliki jutaan kekayaan alam yang lain.

Bagi pecinta kopi, tentu harga tidak menjadi masalah. Seorang fanatik kopi yang saya kenal, Raden Mas Ndoro Bei Fadilah, adalah orang yang sangat bisa menikmati kopi. Secangkir kopi yang ia beli dari Indomaret saja, bisa ia nikamati selama beberapa jam sambil mendengarkan lagu Samson. Saya tidak bisa membanyangkan jika beliau menikmati kopi luwak, mungkin secangkir kopi baru habis setelah dua setengah bulan. Lain lagi dengan orang yang para phobia kopi. Beberapa hari yang lalu, saya mentraktir teman saya yang ternyata anti kopi. Wal hasil, dia tidak tidur semalam suntuk pada malam itu.

Menurut Guru Besar Ekonomi Brian McManus, rata-rata mark-up untuk harga kopi adalah sebesar 150%, yang berarti bahwa kopi seharga 1 dollar, biaya produksinya secara keseluruhan adalah sebesar 40 sen. Bahkan, untuk kasus beberapa kedai kopi papan atas, angka ini bisa beberapa kali lipat.

Lalu, pada siapa uang berkumpul dari bisnis kopi ini? Petani kah? Saya yakin, Anda sepakat dengan saya jika jawabannya bukan petani. Yang jelas, pihak pertama adalah para pemilik kedai papan atas itu. Meskipun keseluruhan harga yang kita bayar di Starbucks, misalnya, sudah mencakup biaya agar para barista tetap tersenyum hangat menyambut pelanggan, biaya penemuan alat-alat pembuat kopi super canggih, dan lain sebagainya. Golongan kedua dimana uang dari bisnis kopi itu terakumulasi adalah pemilik bangunan di mana kedai-kedai kopi itu menjalankan bisnisnya. Bukan para petani.

Jadi, apa arti ekonomi secangkir kopi sesungguhnya, Kisanak? Arti ekonomi secangkir kopi sesungguhnya adalah ‘kelas’ saudara-saudara yang budiman. Dalam bahasa ekonomi, itu berarti garis anggaran (budget-line atau allocation budget) seorang individu yang sangat mempengaruhi preferensi konsumsinya. Kopi yang Kisanak minum, berbanding lurus dengan pendapatan kisanak. Begitu, bukan begitu?? (uk)


Comments

Arti Ekonomi Secangkir Kopi — 5 Comments

  1. Cerdas!
    Jadi sudah saatnya meningkatkan kelas diri, bukan begitu mas Ukas?

    Ngomong2 soal petani, tidak hanya Kopi bro. Bahkan sayuran, rempah – rempah, juga Sawit pun begitu

Leave a Reply