Home ยป Debat

Saya perhatikan, masyarakat kita gemar sekali berdebat.

Mereka yang memiliki peminatan mendalam dengan politik, tak henti-hentinya memperdebatkan: tentang Demokrat dan PKS, tentang pendukung Jokowi (JASMEV) dan pendukung PKS, tentang berhasil atau tidaknya Jokowi  mengatasi banjir, tentang Anas dan janji digantung di Monas, tentang Bu Ani dan followernya di Instagram, tentang siapa sesungguhnya penyebab banjir: Jokowi, sampah, Foke, atau Tuhan, dan tentang Farhat Abbas dan Bang Haji Rhoma Irama yang mau nyapres.

Mereka yang suka bola, asyik masuk berdebat tentang siapa yang paling hebat: Ronaldo atau Messi, Real Madrid atau Barca, Liga Spanyol atau Liga Inggris, Mou atau Pep, hingga pemain bola atau wasit.

Berdebat tak hanya melulu di ruang-ruang nyata seperti acara TV maupun seminar, tapi telah menyentuh bilik-bilik maya seperti Facebook, Twitter, hingga Instagram.

Sering perdebatan di bilik maya ini memanas, tanpa kita sadari bahwa perdebatan panas yang sedang terjadi  tersebut mungkin ditulis orang sembari rebahan di atas kasur, atau sedang beraktivitas di toilet. Berdebat sudah tak lagi mengenal ruang dan waktu.

Debat yang produktif (biasanya berjalan dengan baik dan sehat), sering banyak menghasilkan ide, gagasan, dan solusi. Sedangkan debat yang tidak produktif, sering dinisbatkan dengan debat kusir, biasanya ditandai dengan caci-maki dan menjatuhkan lawan debat, tidak menghasilkan apa-apa..

Mari tengok ke dalam diri kita (seperti pesan Ebit G. Ade), sudahkah kita menjauhi perkataan yang sia-sia?


Comments

Debat — No Comments

    Leave a Reply