Home » Definisi Sukses: Sebuah Pendekatan Baru

Siang tadi saya bertemu keponakan guru SD saya di SDN Bulakelor 02. Saat pulang kampung lebaran kemarin, saya diminta guru saya, Bapak Abidin, untuk bertemu keponakannya di Jakarta. Sebut saja namanya Mas Ahsin. Tak dinyana, kantor Mas Ahsin hanya berapa blok dari kantor saya.

Senang rasanya bisa ketemu orang sekampung halaman di Jakarta. Kami ngobrol kesana kemari, dari pendidikan sampai pekerjaan masing-masing. Di akhir pembicaraan, Mas Ahsin memberikan petuah ke saya soal kesuksesan. Saya sangat terkesan dengan pesan beliau. Menurut saya, pesan beliau tersebut merupakan pendekatan baru dala memberikan makna tentang kesuksean.

Kata beliau, jika seorang yang masih lajang sukses melakukan sesuatu, misalnya seorang pemuda yang lulus kuliah dengan nilai terbaik, maka yang dikatakan sukses adalah orang tuanya. Bukan pemuda tersebut. Karena meski bagaimanapun, kesuksesan yang dicapai pemuda tersebut adalah atas jerih payah dan didikan orang tuanya, bukan semata-mata karena dirinya sendiri.

Lantas kapan kita dikatakan sukses? Kita dikatakan sukses jika pengaruh (influence) kita telah menyebabkan kesuksesan orang lain. Beliau mencontohkan, seorang yang menikah, terus punya anak hafidz qur’an di usia 10 tahun, maka bukan anaknya yang umur 10 tahun itu yang sukses, tapi orang tuanya lah yang mendidiknya. Dengan kata lain, beliau mengatakan ke saya, “Menikahlah, bangunlah keluarga.. dan raihlah kesuksesan yang sesungguhnya.”

Saya pun berkata dalam hati, “Duh, malang nian nasib mereka yang belum menikah” sambil menudingkan telunjuk saya ke orang-orang yang belum menikah, tentunya dengan 4 jari menunjuk saya sendiri.. 🙂


Comments

Definisi Sukses: Sebuah Pendekatan Baru — No Comments

    Leave a Reply