Home » From 2.00 to 4.00

Tariks Jabrik, From Zero to Hero. Mungkin anda pernah mendengarnya. Atau bahkan pernah nonton movienya. Film yang bintang utamanya personel grup band Cangcuters itu sedikit banyak memiliki arti heroisme. From Zero to Hero. From nothing to something. Dari bukan siapa-siapa menjadi punya arti. Minimal untuk diri sendiri.

Teman saya juga punya pengalaman yang hampir mirip seperti itu. Ceritanya, tahun 2004 saya pernah kuliah di Politeknik Gajah Tunggal, sebuah perguruan tinggi ikatan dinas swasta di Tangerang.

Ada orang bilang, Politeknik Gajah Tunggal adalah perguruan tinggi di mana seseorang susah untuk memasukinya. Aku pun nggak yakin kenapa aku diterima. Dan terbukti, setelah aku keluar dari kampus itu, aku tahu sebenarnya aku tidak masuk kualifikasi. Konon, tinggi badanku seharusnya tidak memenuhi syarat masuk kampus itu. Mungkin karena aku berasal dari keluarga sederhana sehingga aku diterima di kampus itu.

Di Poltek GT, teman-teman kelasku sungguh luar biasa. Ada yang dari kelas 1 sampai 12 selalu rangking 1 di kelas. Ada juga yang pernah ikut olimpiade kimia dan biologi sekaligus. Bahkan, ada juga yang pernah ikut olimpiade fisika tingkat nasional yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2003 yang sekarang sekelas lagi denganku di SEBI. Bahkan lebih aneh lagi, ada yang tidak diterima di Poltek GT tapi diterima di Universitas di Jepang melalui program beasiswa Monbukagakusho. Semua pribadi sungguh istimewa.

Namun tidak demikian di Poltek GT. Perlahan-lahan prestasi mereka di bidang akademik padam. Pernah saya tanya kepada teman-teman kenapa tidak semangat belajar, hampir semua menjawab buat apa belajar kalau kita nanti sudah pasti mendapatkan pekerjan, meski sebagai karyawan pabrik yang gajinya pas-pasan. Apa lagi kondisi kehidupan di kampus yang semi militer dan sangat represif sangat kurang kondusif untuk belajar.

Walhasil, prestasi teman-teman betul-betul anjlok. IP kami sungguh berada di bawah standar. Jangan mimpi dibandingin dengan kampus lain. Saya dan teman-teman banyak yang memiliki IP hanya 2.00 lebih sedikit.

Semester 4, sebuah kejadian tragis menimpa 2 orang teman kami. Mereka di-drop out atas tuduhan melakukan kebohongan terhadap pimpinan kampus atas keikutsertaan 2 orang tersebut dan timnya dalam sebuah Kontes Robot tingkat nasional. Lebih tragis lagi, lebih dari 100 orang justru menerima nasib yang sama karena menentang keputusan pimpinan kampus tersebut.

From 2.00 to 4.00

Setelah DO dari kampus tersebut, 100-an lebih mahasiswa yang di-DO itu meneruskan kuliahnya. Ada yang melanjutkan ke Politeknik Bunda Kandung di Lenteng Agung. Ada juga yang melanjutkan ke PNJ.  Ada yang memilih bekerja. Bahkan ada yang memilih kampus dengan jurusan yang berbeda seperti saya.

Satu tahun setelah saya di kampus yang baru, banyak berita yang sungguh membuat saya terhentak. Teman-teman kami yang di Bunda Kandung menjadi juara lomba PLC nasional yang lawannya adalah teman mereka sendiri, ek-Politeknik Gajah Tunggal yang kuliah di PNJ. Bahkan banyak teman kami yang IP-nya 4.00. Subhanallah. From 2.00 to 4.00.

Berita tersebut membuat saya berpikir, ternyata seseorang memang harus berada di tempat yang tepat. Istilahnya the right man on the right place. Saya berkesimpulan, Gajah Tunggal bukan tempat yang tepat bagi saya dan teman-teman. Tapi, melalui ‘kesalahan’ tempat itulah Allah memberi kami pelajaran yang sangat berharga. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan pernah berhenti belajar dan membuktikan from zero to hero dalam kehidupanku sendiri. Semoga.

Best regards,

Ciputat, 19 Maret 2009


Comments

From 2.00 to 4.00 — 2 Comments

Leave a Reply