Home » How “Katro” you are?

Pagi-pagi sekali, saya membangunkan sahabat saya dari tidur lelapnya, untuk membantu saya memasang dasi. Seingat saya, ini adalah momen keempat saya memakai benda ajaib itu. Pertama, ketika menjadi panitia sebuah stadium general, saat sidang skripsi, satu kali saat ikut seminar. Dan sekarang adalah kali keempat saya berurusan dengan dasi.

Ya, bagi saya dasi adalah benda ajaib. Konon, dulu sekali, histori dasi, merupakan asesoris pasukan perang yang bengis, sebagai tanda bagi sesama mereka (kisanak dapat membaca sejarah dasi dalam The Lost Symbol-nya Dan Brown).

Namun sekarang, dasi menjadi asesoris terhormat manusia modern. Ya, dengan memakai dasi, disadari atau tidak, anda akan merasa menjadi superior. Sebagai contoh, dasi dipakai ketika sidang skripsi, ketika wawancara kerja, dan sebagainya. Pada saat memakai dasi itu, tingkat percaya diri anda naik beberapa derajat dan merasa menjadi manusia terhormat. “Saya memakai dasi. Saya merasa siap menghadapi anda.”

Kembali ke masalah saya. Ternyata, sahabat saya pun tidak bisa membantu saya memasang dasi. Akhirnya, saya berangkat ke acara yang saya tuju dengan dasi belum siap pakai. Saya berangkat pagi-pagi sekali dan sampai tempat tujuan satu jam lebih awal. Di tempat acara, hal pertama kali yang saya lakukan adalah mencari seseorang untuk membantu memasang dasi saya.

Di luar gedung, saya bertemu dengan tukang kebun dan memintanya membantu memasang dasi. Entahlah, dasi membuat saya kalut. Saya pikir perkara dasi adalah perkara yang mudah sehinga saya berpikir bahwa tukang kebun pun akan bisa membantu saya. Tukang kebun menyerah. Masalah dasi saya ternyata membuat masalah baru, seorang tukang kebun yang menjadi prihatin karena tidak bisa membantu saya.

Lalu saya memasuki gedung tempat acara diadakan. Di gedung tersebut, saya meminta sekuriti yang kebetulan berdasi. Sekuriti pertama, tidak bisa membantu saya karena sibuk menyambut tamu. Lalu saya bertemu dengan seorang mahasiswa magang, dan memintanya membantu saya. Sebenarnya cukup membahagiakan, karena dia bilang pernah memasang dasi. Ampun DJ, diapun menyerah. Usut punya usut, dia akhirnya mengaku bahwa pengalaman terakhir memakai dasi adalah waktu SD. Total, sudah 3 orang pada hari itu yang tidak bisa memasang dasi.

Lalu saya menuju pintu masuk berikutnya, dan mendapati dua orang sekuriti. Satu masih muda, dan satunya tampak lebih tua. Sekuriti yang muda tampak sangat sibuk sehingga saya meminta bantuan sekuriti yang lebih tua, dan beliau menyanggupinya. Tadinya saya pikir, tak akan ada masalah lagi, karena dia terlihat sangat meyakinkan. Tidak tahunya, bapak sekuriti ini selama lebih kurang 20 menit membolak balik dasi saya, namun tidak ada perkembangan yang cukup berarti. Dia pun mengibarkan bendera putih.

Saat saya dan orang-orang yang ingin membantu saya telah frustasi berurusan dengan makhluk bernama dasi, muncullah pahlawan saya. Namanya mas fikri. Beliau adalah sekuriti keempat yang saya temui. Namun demikian, mas fikri membutuhkan 10 menit untuk memasang dasi. Tetap saja saya masih beruntung, saya belum terlambat mengikuti acara.

Hikmah di balik kisah dasi ini, saya jadi berfikir bahwa banyak sekali masalah di dunia ini yang belum kita ketahui, termasuk masalah dasi. Maka tak heran, Tuan Viru Sahastrabuddhi, memilih memakai dasi mekanik, yang bisa tinggal pasang. Lalu, saya pun menambah daftar pada Resolusi 2010 saya, harus bisa memasang dasi dan menambah daftar doa saya: “Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai memasang dasi seperti teman saya, Amin Subehan. Amin ya Robbal alamin..”


Comments

How “Katro” you are? — No Comments

    Leave a Reply