Home » Jam Berjalan

Meski manusia adalah makhluk yang suka melanggar aturan, mereka pada hakikatnya adalah makhluk yang cenderung teratur secara alami. Dalam dunia medis, kita mengenal yang namanya jam alami tubuh, kapan saatnya kita tidur, kapan saatnya kita bangun, kapan saatnya be-a-be, kapan saatnya be-a-ka de-el-el.

Diantara manusia, ada yang aktivitasnya begitu teratur dan disiplin, bahkan mungkin dalam satuan menit. Misalnya, berangkat kerja jam sekian menit sekian, berada di tempat tertentu pada jam sekian menit sekian dll, sampai-sampai kita  mengenal istilah ‘jam berjalan’. Salah satu dari mereka adalah seorang pria berambut gondrong, yang sering saya lihat di jalan.

Berhubung saya tidak memakai jam tangan, saya suka mencari alternatif penunjuk waktu. Sebelumnya, saya selalu melihat jam digital besar di pinggir jalan milik toko bangunan di jalan sukmajaya dekat grand depok city/kota kembang. Kini, jam digital tersebut sudah beberapa bulan rusak dan tidak diperbaiki oleh pemiliknya. Beruntungnya, saya mulai mengamati kemudian ‘mengenal’ (meski tak kenal nama) pria gondrong itu, karena ia tak ubahnya penunjuk waktu yang akurat bagi saya.

Rute saya ke kantor adalah cagar alam – kota kembang – tole iskandar – simpangan (belok kiri) – raya bogor – gang/jalan nangka – pekapuran – bukit golf – gunung putri.

Biasanya, saya akan melihat pria gondrong di jalan nangka, sebuah jalan penghubung raya bogor dengan pekapuran. Pria gondrong yang saya kenal adalah sejenis pria biasa, bertubuh ceking, berkemeja warna cangkang-telor-asin dengan dimasukkan, bercelana jins, serta rambut gondrongnya yang dibiarkan jatuh di bahunya atau dibiarkan berkibar ditiup angin.

Jika saya melihat pria gondrong di jalan nangka masih dekat raya bogor, artinya saya akan tiba di kantor jam tujuh seperempat.

Jika saya melihat pria gondrong di pertengahan jalan nangka antara raya bogor dan pekapuran, saya akan tiba di kantor lebih kurang jam delapan.

Jika saya melihat pria gondrong di ujung jalan nangka dekat pekapuran, saya akan tiba di kantor jam delapan lewat sepuluh menit atau dua puluh menit.

Dan, jika saya tidak melihat pria gondrong sama sekali, artinya saya telat lebih dari dua puluh menit, artinya siap-siap aja menanggung malu karena semua karyawan sudah beraktivitas di mejanya masing-masing. 😀

NB:
Jika Anda sering lewat jalan nangka depok di pagi hari, dan melihat pria gondrong dengan ciri-ciri seperti yang saya sebutkan, berarti Anda sedang melihat orang yang sangat disiplin yang telah membantu hidup saya, paling tidak membuat saya tidak perlu memakai jam tangan. 🙂


Comments

Jam Berjalan — 2 Comments

  1. Semoga pria gondrong ini, selalu sehat. Jangan2 dia juga ga pakai jam tangan, dia berpatokan sama pengendara sepeda motor honda vario yang kamu tumpangi?

Leave a Reply