Home » Kapan Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia?

M. Kemal. Huruf M di depan kata Kemal mungkin singkatan dari Muhammad. Atau bisa jadi kependekan dari Mustafa. Sang ayah mungkin terinspirasi oleh kisah Mustafa Kemal, seorang Presiden Turki pertama, setelah kekuasaan Turki Ottoman runtuh. Kemal, begitu ia akrab dipanggil, adalah siswa kelas 6 SD di Bimbel tempat saya mengajar.

taken from http://eiti.org/node/729

Hari itu, seperti biasa Kemal diantarkan tukang ojek ke tempat belajar. Sebagaimana siswa yang lain, hal yang pertama kali Kemal sambangi adalah Jadwal Belajar, untuk mencari tahu  siapakah guru (baca: Kakak) yang akan mengajar di kelas mereka.

Usai melihat jadwal, Kemal duduk di kursi panjang tepat di sebelah saya duduk.

“Kak, kemarin aku ikut Seleksi Olimpiade Matematika di Sekolah. Kakak tahu jawaban soal seperti ini nggak?”

Kalimat pembuka percakapan Kemal membuat saya terhentak, dan memaksaku memuji Tuhan sekalian alam, Allah SWT. Tidak sekali itu saja Kemal membuat saya bangga menjadi seorang guru yang pernah mengajarnya. Di kelas maupun di Bimbel, Kemal sering membuat kagum setiap orang yang dia kenal dengan menjadi orang terdepan di bidang prestasi akademik.

Kemal lalu mengguratkan kalimah aljabar sederhana bertopik Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) setingkat SMP di atas lembaran kertas buram yang memang disiapkan untuk berdiskusi. Kemal bercerita bahwa dirinya menyelesaikan soal tersebut dengan memasukan bilangan-bilangan yang mungkin menjadi penyelesaiannya. Metoda seperti ini, dalam berbagai literatur dinamakan dengan Metoda Trial and Error. Usaha Kemal sungguh patut diacungi jempol, mengingat dia hanya anak SD.

Menit-menit selanjutnya, saya kemudian ‘terpaksa’ mengajarkan kepadanya SPLDV dengan metode substitusi, yakni cara menyelesaikan SPLDV dengan memodifikasi salah satu persamaan di mana satu variabel ke dalam fungsi variabel yang lain dan memasukan persamaan baru tersebut ke persamaan kedua. Hasilnya adalah persamaan baru yang hanya memiliki satu variabel sehingga mudah diselesaikan.

Lagi-lagi, saya dibuat kagum oleh Kemal. Dia begitu cepat menangkap apa yang saya ajarkan, ibarat spon menyerap cairan.

Untuk menguji daya tangkap Kemal, saya memutuskan memberinya Soal Tantangan, yakni soal yang jika siswa menjawab dengan benar, maka dia berhak mendapatkan hadiah tertentu, biasanya kupon untuk soft drink, yang diambil dari kocek pengajar sendiri..

Dan hasilnya… Subhanallah. Kemal bisa menjawab ketiga soal setara SMP kelas 3 yang saya berikan dengan benar, meskipun harus melalui beberapa instruksi tambahan. Hasilnya, jatah satu kupon saya raib..:-)

  • **

Di Indonesia, anak-anak dengan kualitas seperti Kemal atau lebih sebenarnya tidaklah sedikit. Kalau kita jeli melihatnya, kita akan menemukan ribuan, puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu Kemal dari 200 juta lebih rakyat Indonesia. Hanya saja, mutiara-mutiara seperti Kemal ini kadang terpaksa tidak muncul ke permukaan, oleh karena kondisi bangsa kita kadang membuat mutiara itu terpadamkan. Termarginalkan dalam bahasa ekonomi.

Tengok saja kisah Lintang dalam Laskar Pelangi. Riwayat hidup Lintang adalah cerminan dari ribuan ‘Lintang’ lain. Mutiara-mutiara seperti Lintang sungguh tak berdaya menghadapi arus kesenjangan ekonomi, di mana sebuah impian dan harapan, tersekat-sekat antara status miskin dan kaya. Pendidikan kita adalah sebuah sistem di mana si miskin tak punya hak untuk mengenyam bangku pendidikan. Hasilnya, rantai kemiskinan diwariskan secara turun-temurun melalui jalur kebodohan.

Tugas terberat pemimpin hasil pemilu langsung tahun ini, sebeanarnya bukan terletak pada seberapa besar anggaran untuk sembako dan BLT untuk dibagikan kepada rakyat miskin yang jumlahnya lebih dari separuh penduduk Indonesia. Tugas terberat mereka adalah, bagaimana membuat serta menciptakan generasi yang tahan banting, generasi yang memiliki kepercayaan diri yang paripurna.

Dan salah satu jalan untuk menciptakan generasi seperti ini adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak di negeri ini memperoleh hak yang sama dalam mengakses pendidikan. Dan dalam sistem pengajaran tersebut, tenaga pengajarnya menularkan virus percaya diri dan nilai-nilai moral kepada para siswa.

Maka takkan lagi kita dengar berita siswa tawuran, karena sedikit sekali waktu bagi mereka untuk membuang waktu secara sia-sia. Yang ada para siswa sibuk mengisi hari-hari mereka dengan belajar dan mengejar prestasi. Dan pada titik tersebut, maka seluruah anak di negeri ini, insya Allah, akan merasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Semoga.


Comments

Kapan Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia? — 1 Comment

  1. Sebenarnya yang dihadapi bangsa ini adalah kritisnya nilai2 kepercayaan dan pemerintah yang tidak dapat dipercaya. Dengan kata lain hampir keseluruhan aparatur negara tidak dapat memegang amanah yang sebagai mestinya di laksanakan. Otonomi daerah juga sangat memperparah keadaan ini, oleh karena penggunaan legitimasi pemimpin daerah yang seenaknya…
    Namun sebagai anak indonesia saya tetap bangga di lahirkan dan hidup di bumi pertiwi nusantara ini, hanya saja saya malu dengan pemerintahan indonesia!!! Malu dengan segala tingkah laku bapak2 dan ibu2 di atas sana!!!

Leave a Reply