Home » Kekuatan Di Balik Keterbatasan

Coba selesaikan 2 soal berikut ini:

A. Satu pemukul bola dan satu bola berharga $1.10. Harga pemukul bola $1.00 lebih tinggi daripada harga bola. Berapa harga bola?

B. Jika 5 mesin membutuhkan waktu 5 menit untuk memproduksi 5 unit barang, berapa waktu yang dibutuhkan oleh 100 mesin untuk memproduksi 100 barang?

Kebanyakan orang mengira dua soal matematika ini mudah dan sederhana. Dan kemungkinan besar kamu akan menebak jawabannya adalah A. $0.10 dan B. 100 MENIT, tanpa menyadari bahwa jawaban tersebut SALAH!

Jika kita membaca soal A secara sepintas, mayoritas kita akan mengira harga pemukul adalah $1 dan harga bola $0.10. Padahal yang diminta soal adalah selisih antara pemukal dan bola $1.00.

Harga Pemukul – Harga Bola = $1

Maka jawaban yang benar adalah:

$1.05 – $0.05 = $1

Dengan demikian, harga bola adalah $0.05.

Sedangkan soal B, diketahui bahwa 5 buah mesin memproduksi 5 produk dalam waktu 5 menit. Berarti, untuk membuat 1 produk, tiap 1 mesin butuh waktu 5 menit. Jadi, jika ada 100 mesin untuk membuat 100 produk (ingat bahwa 1 mesin tetap punya tugas yang sama yaitu membuat 1 produk), maka tiap-tiap mesin butuh waktu yang sama yaitu 5 MENIT. Dengan demikian, 100 mesin bekerja bersama membuat 100 produk, waktu yang dibutuhkan tetap sama yaitu 5 menit.

***

Dua soal di atas, saya tulis kembali dari buku David & Goliath tulisan Malcolm Gladwell. Soal di atas disebut dengan Tes Refleksi Kognitif atau Cognitive Reflection Tes (CRT), yaitu tes kecerdasan paling singkat di dunia. Konon, jumlah soal CRT hanya 3 soal. Meski cuma 3 soal, hasil test CRT sama akuratnya dengan tes kecerdasan yang berjumlah puluhan soal.

Dari 3 soal CRT, rata-rata jawaban benar test CRT mahasiswa kampus terkenal dunia adalah sebagai berikut:

Massachusetts Institute of Technology (MIT): 2,18
Carnegie Mellon University (CMU): 1,51
Harvard University: 1,41

Tapi ada yang aneh dari test CRT ini. Sekelompok mahasiswa Princeton University diberi test CRT dengan cara biasa hasilnya 1,9. Tapi, sekelompok lain yang diberi test CRT oleh para peneliti dengan cara dicetak dengan font yang susah dibaca (Myriad Pro), ukuran 10 point, dengan warna abu-abu 15%, hasilnya menakjubkan: 2,45 (menjadi lebih pintar dari mahasiswa MIT).

Para peneliti kemudian membuat kesimpulan, bahwa semakin susah dibaca, peserta test CRT terpaksa harus melek, awas dan konsentrasi dengan soal yang diberikan, sehingga mereka menjawab dengan benar. Ada hubungan yang aneh antara keterbatasan dengan keberhasilan.

Jika dibikin ibarat,

Soal CRT yang sulit itu ibarat CITA-CITA yang ingin diraih dalam hidup, misalnya kekayaan, kesuksesan jabatan, ilmu, dll.

Soal yang susah dibaca ibarat KETERBATASAN dalam hidup, misalnya lahir dari keluarga miskin dan kekurangan, cacat, dll

Jawaban yg bener itu ibarat KESUKSESAN meraih cita-cita hidup.

Inilah yg mungkin menjelaskan, mengapa ada banyak orang yg mengalami keterbatasan hidup, tapi jauh lebih sukses dari orang yang normal, berkecukupan ataupun mampu.

Ada orang punya kekurangan fisik, tapi penghasilannya jauh melebihi orang yang fisiknya normal, misalnya Habibie Afsyah. Banyak pengusaha sukses yang ternyata penderita disleksia (kelainan susah membaca), misalnya Richard Bronson, dll. Atau, jika kita membaca banyak biografi orang-orang sukses, akan kita dapati bahwa pada umumnya orang-orang sukses tersebut lahir dari keluarga yang serba kekurangan.

Gladwell mencoba mengingatkan kita, bahwa dibalik keterbatasan ada kekuatan yang dahsyat, yang jika kita berjuang keras untuk mengatasi keterbatasan tersebut, akan membuat kita menjadi orang yang SUKSES.

Sama persis dengan yang tertulis di Al-Quran, bahkan sampai diulang hingga dua kali:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”


Comments

Kekuatan Di Balik Keterbatasan — No Comments

    Leave a Reply