Home » Manajemen Waktu

Sebuah Kultum dalam Kajian Pekanan disampaikan oleh Sujanu HM (dengan perubahan seperlunya)

“Tepat, anakku. Tapi, pelajaran ini mengandung kesimpulan yang lebih besar dari itu. Bahwa jika kita ingin berhasil dalam kehidupan, kita harus memprioritaskan tujuan-tujuan besar kita terlebih dahulu. Sehingga, tanpa kita sadari, tujuan-tujuan kecilpun bisa kita raih secara bersamaan. Namun, jika kalian tidak memiliki prioritas, boleh jadi, seluruh sisa hidup kalian, hanya meraih tujuan-tujuan yang kecil. Masukkanlah batu-batu besar terlebih dahulu dalam cawan hidup kalian. Berhati-hatilah dengan waktu yang kalian miliki.”

Alkisah, di sebuah kelas kebijaksanaan, seorang Guru menyiapkan 5 cawan. Satu cawan besar kosong, dan empat lainnya berisi benda-benda berikut: batu besar, kerikil, pasir, dan air. Kemudian, Sang Guru memasukkan batu besar ke dalam cawan kosong, hingga bagian paling atas batu, sejajar dengan permukaan cawan. Sang Guru kemudian menatap murid-muridnya.

“Anak-anakku, apa yang bisa kalian lihat? Apakah cawan ini sudah penuh?” Tanya Sang Guru.

“Ya, Guru. Cawan itu sudah penuh oleh batu.” Kata seorang murid.

Lalu, Sang Guru mengambil kerikil dari dalam cawan yang lain dan memasukannya ke dalam cawan yang telah diisi batu. Sambil memasukkan kerikil, Sang Guru menggoyang-goyangkan cawan tersebut sehingga kerikil menyentuh permukaan atas cawan. Murid-murid takjub dengan Sang Guru dan merasa malu karena jawaban mereka salah.

Sang Guru menatap murid-muridnya, dan mulai berkata:

“Apakah cawan ini sudah penuh?”

“Belum!!” Kata murid-muridnya. Sepertinya, murid-murid telah mulai mengerti.

“Bagus.” Kata Sang Guru.

Sang Guru kemudian mengambil pasir dari dalam cawan yang lain dan memasukkannya ke dalam cawan sambil digoyang-goyangkan sehingga seluruh pasir masuk ke dalam cawan.

“Apakah cawan ini sudah penuh?” Kembali Sang Guru bertanya.

“Beluuuuummmmmmm!!” Jawab murid-muridnya ceria.

“Bagus.” Jawab Sang Guru sambil tersenyum bangga.

Kemudian, Sang Guru mengambil air dari dalam cawan terakhir dan memasukkannya ke dalam cawan sehingga tampak bagian air menyentuh permukaan atas cawan.

“Apakah cawan ini sudah penuh?”, kembali Sang Guru bertanya kepada murid-muridnya.

“Sudaaaaah!!” Jawaban murid-murid dengan kompak. Kali ini mereka sangat yakin bahwa jawaban mereka pasti benar.

Sejurus kemudian kelas hening hingga suara Sang Guru membahana.

“Anak-anakku… Apa yang bisa kalian simpulkan?”

“Guru… dari pelajaran ini, saya menyimpulkan bahwa kita harus menyusun strategi dalam melakukan suatu kegiatan”, kata seorang murid.

“Tepat, anakku. Tapi, pelajaran ini mengandung kesimpulan yang lebih besar dari itu. Bahwa jika kita ingin berhasil dalam kehidupan, kita harus memprioritaskan tujuan-tujuan besar kita terlebih dahulu. Sehingga, tanpa kita sadari, tujuan-tujuan kecilpun bisa kita raih secara bersamaan. Namun, jika kalian tidak memiliki prioritas, boleh jadi, seluruh sisa hidup kalian, hanya meraih tujuan-tujuan yang kecil. Masukkanlah batu-batu besar terlebih dahulu dalam cawan hidup kalian. Berhati-hatilah dengan waktu yang kalian miliki.”

***

Saudaraku…

Kita sering terlena dengan waktu yang kita miliki. Tanpa sadar, kita sering menyia-nyiakan waktu yang kita miliki dengan sesia-sianya pekerjaan. Cobalah tanya pada diri sendiri, berapa kali kita khatam Alquran dalam setahun. Berapa buku yang telah kita baca. Berapa bahasa telah kita kuasai, dan lain sebagainya.

Padahal, Allah SWT telah menegaskan betapa berharganya waktu. Di banyak tempat di dalam Alquran, Allah SWT sering bersumpah atas nama elemen kehidupan ini. “Demi Masa!” “Demi Waktu Dhuha!”, dan sebagainya.

Saudaraku…

Mulai detik ini, mari kita mulai menata diri kembali. Jangan-jangan sebagian besar waktu yang kita miliki hanya digunakan untuk mencapai kerikil-kerikil tujuan. Berjanjilah bersama denganku, bahwa waktu yang kita milikki, akan kita gunakan untuk sebesar dan sebaik-baik tujuan: Kebaikan Dunia dan Akhirat.

“Rabbana aatina fii al-dunya hasanah. Wa fii al-aakhirata khasanah. Waqinaa adzaaba an-naar”.


Comments

Manajemen Waktu — No Comments

    Leave a Reply