Home ยป Membeli Rumah dengan KPR Bank Syariah

Membeli Rumah dengan KPR Bank Syariah

Tiga bulan lalu, tepatnya pada 27 Nopember 2013, saya dan istri menandatangani akad KPR bank syariah. Momen ini menjadi sangat spesial karena untuk sampai pada tahap akad, dibutuhkan waktu hingga 1 tahun dari booking fee!



Baca Juga: Cara Menghemat Belanja Bulanan
membeli rumah dengan kpr bank syariah

Cerita berawal ketika kami baru saja menikah pada Juni 2012. Saya dan istri sempat kebingungan mengenai masalah tempat tinggal: apakah akan mengontrak atau membeli rumah. Sedangkan kami berdua hanya pegawai swasta biasa dengan penghasilan orang kebanyakan. Saya sendiri malah masih dalam masa kontrak kerja 6 bulan.

Tepat 3 bulan setelah menikah, saya diangkat menjadi karyawan tetap dan gaji saya mengalami penyesuaian. Saya dan istri pada waktu itu meminta saran kepada orang tua (mertua saya) mengenai masalah tempat tinggal tadi. Orang tua kami cenderung mendukung kami untuk memiliki rumah sendiri. Atas saran dari orang tua dan pertimbangan yang matang, kami bertekad membeli rumah dengan kredit (KPR).

Pertimbangan orang tua kami sebenarnya sangat sederhana, yang belakangan setelah saya renungkan ulang merupakan prinsp-prinsip finansial yang penting dan mendasar. Pertama, mengontrak rumah adalah pengeluaran tetap yang menguap, dalam arti tidak ada perpindahan aset, hanya perpindahan manfaat. Kedua, fakta bahwa harga rumah mengalami kenaikan drastis dari tahun ke tahun. Ketiga, keinginan orang tua agar jangan sampai ketika anak sudah dewasa dan hendak menikah, cicilan rumah kami belum lunas.

Kami pun bergerilya dari satu perumahan ke perumahan lain di daerah Depok. Dari Grand Depok City yang harga rumah termurahnya sudah di angka 400-an juta, Pitara, hingga ke Bogor. Hikmah dari bergerilya tersebut adalah: tidak ada rumah murah. Pada umumnya, selalu ada trade-off antara harga yang dibayar dengan kualitas. Jika harganya bagus, bagus pulalah kualiatasnya.

Beruntungnya, istri saya adalah perempuan cantik yang begitu detil mengenai urusan rumah, dari mulai material bangunan yang harus bata bata, ukuran keramik yang harus lebih besar dari 20×20, pintu yang harus panel, dll. Detil tersebut sangat membantu saya menemukan rumah yang sesuai, yaitu sebuah cluster islami di Bojong Gede Bogor yang berjarak kurang dari 10 menit dari stasiun dengan harga yang menurut kami terjangkau.

Permasalahan berikutnya adalah mencari bank yang pas dan membayar biaya Down Payment (DP) yang jumlahnya cukup besar. Kriteria pertama dari bank yang kami cari adalah ia haruslah bank syariah. Kedua, plafon pinjaman, yang berarti cicilan yang harus kami bayar setiap bulan harus sesuai berdasarkan kriteria umum, yaitu maksimal 30% dari penghasilan. Untuk DP, lagi-lagi kami sangat beruntung karena pihak developer bersedia menunggu pembayaran DP hingga beberapa bulan.

Perlu Anda catat bahwa plafon pinjaman berkorelasi terbalik dengan DP. Jika plafon yang disetujui besar, Anda biasanya tidak harus bayar DP tambahan. Tapi jika plafonnya kecil, konsekuensinya adalah Anda harus membayar DP tambahan.

Pada awal 2013, sebetulnya ada beberapa bank yang menyetujui pengajuan KPR kami (kira-kira 2 bank syariah dan 1 bank konvensional yang ditawarkan developer). Karena yang bank syariah plafonnya terlalu kecil, sedangkan yang konvensional membuat hati kami berkecamuk, kami putuskan menunda sampai ada bank syariah yang menurut kami paling sesuai.

Mendekati akhir 2013, kami hampir saja membatalkan pengajuan KPR. Dengan sabar, pihak developer memberi kami kesempatan untuk membantu mengajukan KPR ke satu bank syariah lagi. Pada saat itu, kami bulatkan tekad jika bank yang satu ini masih belum sesuai, KPR akan kami batalkan.

Hingga pada suatu siang saat jam istirahat, ada panggilan masuk ke handphone saya yang ternyata adalah teman saya pada saat kuliah yang kini bekerja di bagian marketing bank syariah. Menurut ceritanya, teman saya ini kaget melihat ada pengajuan KPR atas nama saya (teman kuliahnya) teronggok di mejanya.

Atas bantuan informasi dari teman saya tersebut, saya memperoleh informasi yang lengkap mengenai KPR bank syariah ditempatnya bekerja. Dibandingkan dengan bank-bank sebelumnya, bank syariah ini memberi plafon yang paling mendekatii plafon yang kami harapkan. Dalam waktu yang relatif cukup singkat, proses survey bank berjalan lancar, KPR kami disetujui, dana dicairkan dari bank ke pihak developer, cicilan sudah mulai berjalan dan kami siap-siap menghuni rumah baru kami beberapa waktu ke depan, insyaa Allah.




Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.


Comments

Membeli Rumah dengan KPR Bank Syariah — 15 Comments

    • Sejauh ini saya baru berhubungan intens dengan Pesona Darussalam di bawah PT Bumi Darussalam. Pengalaman saya, kebanyak developer mengijinkan DP bisa dicicil. Bertanyalah sedetil-detilnya, sampai pihak developer tidak bisa menjawab. ๐Ÿ™‚

      Contoh pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh developer saya adalah, jika perumahan yang ingin saya beli adalah one gate system (sistem 1 gerbang), lantas kita memarkir kendaraan di luar rumah, misalnya di halaman, lalu terjadi pencurian, apakah pihak perumahan akan menanggung kerugian?

      Bertanyalah selama bertanya itu masih gratis.

    • Ga juga, pertimbangannya karena plafonnya dan cicilannya sesuai dengan anggaran. Kebetulan juga, banyak teman saya kerja di bank syariah. Point-nya adalah semakin banyak informasi yang saya dapat, semakin mudah mengambil keputusan.

  1. Cocok mz Bro…
    enyong bae wingi via BSM modal nekat lancar dan prosesY cepet sing penting syarat dokumen beres.
    mzUntung nang ndi saiki posisi? pimen kabare? iseh kenal enyong ora kie…
    bareng ya merite daning, wiz ana dedene..?

Leave a Reply