Home ยป Mengapa Rumput Tetangga Lebih Hijau?

Pak Erwin, tetangga kami persis di sebelah rumah, memiliki sebuah taman kecil yang bagus. Sebenarnya, setiap rumah di komplek kami tinggal, masing-masing memiliki sebuah taman kecil di depan rumah. Tapi, sepengamatan saya, taman Pak Erwin adalah taman yang paling bagus.

Taman Pak Erwin berbentuk huruf L membentang dari setengah depan rumah sebelah kiri menyambung sampai lebih kurang dua per tiga samping rumah sebelah kiri. Taman itu diterangi tiga buah lampu. Rumputnya hijau, rapi, dan subur. Ia memberi sekat antara dinding rumah dan taman yang diisi batu-batu alam. Di tepi taman, ia menanam tumbuhan perdu dengan jarak satu sama lain yang sangat teratur yang ketika tumbuh besar akan membentuk pagar alami.

Karena saya jarang berada di rumah pada siang hari (berangkat jam enam pagi dan sampai di rumah lewat jam sembilan malam) saya tidak tahu persis apa yang dilakukan Pak Erwin dengan tamannya hingga menjadi sebagus itu.

Pada libur pemilu kemarin, saya berkesempatan melihat aktivitas Pak Erwin dengan taman kecilnya. Dari depan rumah sambil menggendong Si Cantik Lala, saya mengamati Pak Erwin tengah mencabuti rumput liar dan mengmpulkannya di tanah di luar area taman. Sesekali, ia menarik selang panjang untuk menyiram rumput dan tanaman perdunya agar mendapatkan cukup air. Pemandangan seperti ini juga saya lihat pada sore hari pada hari minggu kemarin.

Setelah melihat sendiri aktivitas Pak Erwin dengan tamannya, hilanglah penasaran saya mengapa taman Pak Erwin lebih bagus dari taman-taman yang lain di komplek kami. Dari sini saya mendapat jawaban sebuah pertanyaan penting: mengapa rumput tetangga lebih hijau?

***

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar pepatah: rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput sendiri. Makna pepatah itu lebih kurang adalah kehidupan orang lain selalu tampak lebih baik dari kehidupan kita padahal tidak selalu demikian. Orang lain selalu terlihat lebih sukses dan bahagia dari kehidupan kita, padahal kenyataannya tidak demikian.

Inti dari pepatah ini sebenarnya sangat baik, yaitu mengajarkan agar kita tidak iri dengan kebaikan yang diperoleh orang lain terutama yang bersifat materi (penghasilan, kekayaan, jabatan, dll). Agar kita tidak mudah silau dengan orang lain.

Sayangnya, pepatah ini sering dipahami secara keliru dan seringnya sekadar menjadi kata penghibur. Misalnya saat kondisi ekonomi kita tidak terlalu baik sedangkan kondisi orang lain di sekitar jauh lebih baik, kita buru-buru menghibur diri dengan pepatah tersebut. Saat bisnis kita sedang lesu dan menghadapi berbagai persoalan, kita buru-buru membuat justifikasi bahwa perusahaan lain tidak lebih baik dari perusahaan kita.

Padahal kenyataannya, bisa jadi orang lain memang lebih baik atau lebih sukses dari kita. Atau, perusahaan atau bisnis lain memang lebih baik dan menghasilkan keuntungan yang jauh lebih baik dari bisnis yang kita jalankan. Ada rahasia yang perlu digali, mengapa orang lain bisa lebih sukses dan mengapa bisnis lain bisa lebih baik.

Seperti cerita taman Pak Erwin pada pembuka tulisan saya ini, kehidupan pun berlaku demikian. Taman orang lain terkadang memang lebih bagus dari taman yang kita miliki. Rumput tetangga bisa jadi memang lebih hijau dari rumput yang kita miliki, bukan hanya seolah-olah tampak hijau. Yang perlu kita cari jawaban adalah mengapa taman orang lain lebih bagus? Mengapa rumput tetangga lebih hijau?

Dari taman Pak Erwin, kita bisa mengambil pelajaran bahwa taman tidak menjadi bagus dengan sendirinya dan rumput tidak tiba-tiba hijau dengan sendirinya. Agar menjadi hijau, rapi dan subur rumput perlu disiram dengan teratur pagi dan petang dan gulma di sekitarnya perlu dicabut.

Pun dalam hidup, jangan terlalu sering menghibur diri dan membuat pembenaran bahwa kehidupan orang lain tidak lebih baik dari kehidupan kita. Yang perlu kita ungkap dan pelajari adalah rahasia mengapa orang lain bisa lebih sukses dan lebih baik dari kita.

Sudahkah kita bekerja lebih baik dari orang lain? Sudahkah kita berusaha lebih keras dan lebih cerdas dari orang lain? Sudahkah kita beribadah lebih baik dan berdoa lebih khusyuk dari orang lain?

Jika ternyata itu semua belum dilakukan, jangan-jangan itulah yang menjadi sebab ‘rumput’ kita tak sehijau ‘rumput’ tetangga. Karena kata Pak Mario Teguh, kebaikan datang pada orang yang berlaku baik.

Selamat berawal pekan dan menjemput kehidupan yang lebih baik. ๐Ÿ™‚


Comments

Mengapa Rumput Tetangga Lebih Hijau? — No Comments

    Leave a Reply