Home » Nasi Goreng X Bar 8000

Ini adalah liputan kuliner saya yang pertama. Tempat makan yang mendapat kehormatan pertama kali untuk saya bahas adalah Nasi Goreng Pak Sis, yang saya ambil dari nama pemiliknya, Pak Sis.

Sejatinya, tidak ada sebutan resmi untuk Nasi Goreng Pak Sis ini. Caca dan Dofi, teman sepadepokan dengan saya, pernah menyebut Nasi Goreng Pak Sis dengan Nasi Goreng Rame. Beberapa alias dari nasi goreng pak sis antara lain: nasi goreng warnet (berada depan warnet), nasi goreng kumis (karena memang pak sis berkumis), nasi goreng bca (karena berada seberang bca), nasi goreng setengah enam (karena pak sis mulai memasak pada pukul 6 sore). Bahkan, temen saya pernah memberikan nama baru buat nasgor pak sis ini: Nasi Goreng Learning (karena berada di samping Bimbel Learning ETC).

Inilah yang menarik. Ketika kita menyukai sesuatu, dalam hal ini makanan, maka segala sesuatu menjadi tidak penting. Padahal, pak sis sudah mencitrakan dirinya dengan stiker tempel pada gerobaknya yang tereja: nasi goreng ex depan bri ciputat, harga rata-rata Rp. 8.000,-. Dulu, saya pernah kepikiran untuk menamai nasi goreng pak sis dengan yang lebih elegan “nasi goreng x bar 8000” (Sebagai informasi, harga nasgor pak sis saat ini telah naik harga ditandai dengan dikelupasnya angka 8 di depan tiga angka 0)

Ada 5 menu utama nasi goreng pak sis: nasi goreng, mie goreng, mie rebus, kwetiau, dan bihun goreng. Secara pribadi, saya memeringkatnya dari yang paling saya sukai sebagai berikut: mie goreng, nasi goreng, mie rebus, bihun goreng, dan kwetiau. Namun, bukan berarti bahwa kwetiau tidak cukup enak. Hanya saja, indra pengecap rasa saya tidak terlalu nyaman makan mie dengan kontur gepeng dan kenyal.

Ada 3 alasan pribadi yang menjadikan nasi goreng pak sis menjadi langganan saya. Pertama, lokasi. Nasgor Pak Sis berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda No. 20 E, bawah fly over Ciputat.

Lokasi ini, memiliki keuntungan tersenidir buat saya. Untuk mencapai lokasi nasi goreng pak sis, saya hanya perlu keluar dari pintu, maju 10 langkah, lalu belok kanan: “Pak.. mie goreng. Biasa ya.. Pedes.. Hehe.”

Ya, nasi Goreng Pak Sis memang persis di depan tempat saya tinggal. Saat saya menulis ini, suara wajan pak sis yang tengah beradu dengan sodet, terdengar begitu nyaring mengusik ketenangan ekonsistem pencernaan saya.

Kedua, rasa. Semua varian masakan pak sis ini sepertinya digoreng dengan menggunakan minyak yang tidak tidak terlalu banyak dan komposisi bumbu yang pas. Selain itu, saya selalu menikmati sensai asap dari masakan pak sis.

Ketiga, harga. Untuk ukuran nasi goreng pak sis yang memiliki porsi 2 kali dari menu nasi goreng biasa, atau boleh jadi 3 kali dari menu nasgor food court, harganya relatif murah. Sejak menjadi pelanggan pak sis, saya baru dua kali menderita kenaikan harga, yaitu beberapa bulan lalu saat cabe rawit menyumbang poin inflasi tertinggi, dan kemarin setelah lebaran. Saat ini, untuk menjamah nasgor pak sis, kisanak hanya perlu mengeluarkan sultan mahmud badaruddin 2 dan mendapat kembalian kapitan pattimura.

Perpaduan harga yang relatif murah dengan rasa yang cukup lumayan, sepertinya sukses membuat pelanggan kesengsem. Pak sis buka dari 17.30 sampai 24.00. Untuk diketahui, setiap memasak, pak sis biasanya langsung membuat 5-10 porsi sekaligus. Jika sedang rame seperti hari libur, jam 22.00 sudah mulai habis.

Saat ini, pak sis menjadi chef tunggal bagi usahanya. Untuk membantunya menyajikan makanan, dia mempekerjakan 3 orang karyawan dengan gaji kisaran 500.000 – 700.000 sebulan.

Meski secara individu peran pak sis sangat sangat sangat kecil terhadap perekonomian Indonesia, bagi saya, Pak Sis adalah orang yang sangat berjasa: mengurangi angka pengangguran sebanya 3 jiwa dan menjadi tempat peraduan saya ketika kelaparan hebat menimpa saya malam-malam. Semoga keberkahan menyertai usahamu, Pak Sis. (uk)


Comments

Nasi Goreng X Bar 8000 — 5 Comments

Leave a Reply