Home » Resolusi Tahun Baru, Perlukah?

Setiap menjelang tahun baru, orang-orang beramai-ramai bikin resolusi. Saya juga tak ketinggalan bikin resolusi. Dan resolusi pertama saya di tahun 2012 ini, adalah meresolusi resolusi saya tahun sebelumnya pada tahun 2011 lalu.

Misalnya, tahun 2011 saya pernah membuat resolusi tulisan saya dimuat di media massa. Kenyataanya, sampai dengan 31 Desember 2011, tak satupun tulisan saya dimuat, kecuali di blog pribadi dan beberapa tulisan dimuat di website tempat saya bekerja. Itu pun karena saya ‘mengancam’ operator website.. hehe

Resolusi kedua yang perlu saya revisi adalah keinginan saya untuk bisa mengendarai mobil. Sayang, saya melewatkan kursus mobil gratis dari seorang dermawan. Dari sepuluh kali pertemuan, saya hanya hadir 2 kali. Praktis, saya baru menguasai satu macam pelajaran mengemudi: membedakan mana rem dan mana gas.

Resolusi ketiga yang masih belum tercapai adalah mendapat beasiswa luar negeri. Alhamdulillah saat ini baru sampai pada tahap mengumpulkan surat rekomendasi dari beberapa doctor, pembuatan passport, dan bulan Januari nanti insya Allah baru berencana ikut tes TOEFL atau IELTS. Perjuangan mendapat beasiswa ke luar negeri sepertinya masih panjang…

Beberapa daftar resolusi sungguh malu untuk saya sebutkan, karena masih jauh dari harapan. Biarlah resolusi itu memenuhi catatan-catatan saya.

Berdasarkan pengalaman ini, timbul pertanyaan dalam diri saya, perlukah membuat resolusi? Sementara dari sejumlah resolusi yang diproklamasikan, hanya sedikit yang tercapai (jika dikalkulasi mungkin sekitar 20% atau bahkan kurang). Jawabannya tentu saja beragam. Tapi saya sangat yakin bahwa membuat resolusi, lebih banyak manfaatnya daripada tidak membuat resolusi sama sekali. Meskipun banyak yang belum tercapai, minimal sudah ada tahapan yang sudah kita lakukan.

Dengan resolusi kita punya tujuan jelas yang ingin kita capai. Ibaratnya, jika kita mau ke Blok M dari Ciputat, lalu kita sudah sampai Fatmawati, kita bisa menilai sudah sampai tahap mana, berapa KM lagi tercapai. Bayangkan orang yang nggak punya tujuan dalam hidupnya, pasti akan susah untuk menilai sudah sampai mana. Jalannya benar apa nggak.

Dari tidak tercapainya resolusi, saya menyimpulkan bahwa faktor utama penyebab tidak tercapainya resolusi ternyata ada pada diri kita sendiri, yaitu komitmen kita untuk mengejar resolusi tersebut.

Misalnya saja resolusi saya untuk menghasilkan tulisan, baik artikel di koran maupun buku. Dulu saat belum punya komputer dan masih ngerental atau pinjam komputer temen, saya berjanji pada diri sendiri kelak jika sudah punya komputer, akan lebih rajin menulis. Lantas saat sudah beli komputer, ternyata saya tidak menjadi rajin-rajin amat. Saya pun berkata pada diri sendiri, kelak jika sudah punya smartphone, saya akan rajin menulis. Smartphone kebeli, tapi hingga sekarang rusak dan dimusiumkan, saya pun tidak menjadi rajin menulis.

Last but not least, saran saya sebelum membuat resolusi, berjanjilah bahwa kamu akan komitmen dengan resolusi yang ditulis dan buatlah resolusi yang memang betul-betul bisa kamu raih. Dan yang pasti, kita juga tidak boleh memiliki perasaan sombong bahwa kita akan bisa meraih resolusi. Karena, tanpa seijin-Nya, apa pun resolusi kita, tak akan akan terwujud.

Akhirnya, selamat tahun baru, mohon maaf lahir batin. Selamat tinggal 2011, dan selamat datang 2012.

Salam Resolusi! 🙂


Comments

Resolusi Tahun Baru, Perlukah? — 4 Comments

Leave a Reply