Home » Rizki Pernikahan

Mungkin, inilah yang juga ingin disampaikan Kang Abik dalam KCB Spesial Ramadan (sebuah sinetron yang sangat digandrungi sekali oleh seorang pemuda tampan di suatu sudut Ciputat), yaitu Rizki Pernikahan. Konon, setiap pernikahan memiliki rizkinya masing-masing sebagaimana kisah Furqon dalam dunia sinetron, atau Mas Bams dalam kehidupan nyata.

Pada episode terakhir KCB Spesial Ramadan, ada sebuah adegan yang sungguh sangat menarik perhatian saya. Adegan itu adalah ketika Ibunda Furqon sembuh dari sakit yang dideritanya, hanya beberapa saat setelah Furqon dan keluarganya bersedia menerima tawaran keluarga Ustadzah Qanita, untuk menikahkan Furqon dan Qanita, menggantikan posisi Azzam yang cedera tempurung lutut… 🙂

Lalu diam-diam (tentu sambil menonton) pikiran saya bergerak mundur beberapa hari tentang obrolan saya bersama seorang teman. Sebut saja namanya Mas Bams…

Mas Ponco dan Mbak Putri 🙂

Pada sebuah kesempatan singkat sehabis perkuliahan, saya dan Mas Bam bergerak menuju halte untuk pulang. Saat itu, Mas Bams berkisah tentang pernikahannya dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya. Yang menarik dari Mas Bam adalah, beliau begitu menghormati istrinya. Setiap kali Mas Bam menyebut istrinya, ia selalu menyebutnya dengan panggilan Nyonya. Subhanallah. Rasa-rasanya, bulu kuduk saya merinding setiap beliau menyebut istrinya dengan panggilan tersebut. Baiklah, inilah kisah Mas Bams itu…

Mas Bams, berdasarkan penuturan beliau sendiri, adalah lulusan D3 sekolah ikatan dinas di Bintaro. Selesai kuliah, beliau ditempatkan di luar Jawa dan sempat menyelesaikan S1 di kota tempat ia bertugas. Sebagaimana kisanak maklum, sebagai orang jawa, Mas Bams sejatinya ingin ditempatkan di pulau Jawa. Lalu, tibalah saat di mana Mas Bam ingin menikah. Singkat cerita, Mas Bams pun bertemu dengan belahan hatinya hingga mereka bersepakat menikah.

Tepat 3 hari sebelum pernikahannya, Mas Bams dipanggil oleh atasannya. Dan Maha Suci Allah, oleh atasannya, Mas Bams diberi surat mutasi untuk bertugas di Jakarta. Saya tidak bisa menggambarkan kepada kisanak bagaimana raut muka Mas Bams ketika menceritakan ini. Beliau begitu bahagia. Kata dia, mungkin ini adalah berkah menikah dengan si Nyonya.

Mungkin, inilah yang juga ingin disampaikan Kang Abik dalam KCB Spesial Ramadan (sebuah sinetron yang sangat digandrungi sekali oleh seorang pemuda tampan di suatu sudut Ciputat), yaitu Rizki Pernikahan. Konon, setiap pernikahan memiliki rizkinya masing-masing sebagaimana kisah Furqon dalam dunia sinetron, atau Mas Bams dalam kehidupan nyata.

Ijinkan saya ambil beberapa contoh lagi secara tidak acak. Saya punya seorang Guru, yang sekarang menjadi seorang pimpinan sebuah perguruan tinggi di Ciputat. Suatu saat saya pernah memberanikan diri bertanya pada belaiu, kapan beliau menikah. Jawabannya sungguh mengagetkan saya. Beliau berkisah bahwa beliau menikah sewaktu masih kuliah. Dari mulai ngontrak di kos-kosan petak, lalu beli tanah, hingga bisa membangun rumah. Kok, menikah bisa sesederhana itu ya? Tanya saya dalam hati. Dan memang, meski sangat berdampak terhadap perekonomian,  pernikahan tidak dibahas dalam ilmu ekonomi. [gak nyambung]

Baiklah, ijinkan saya menampilkan satu contoh lagi. Saya punya seorang Kakak laki-laki yang tidak kalah tampan dengan saya. Ia hanya lulus Sekolah Dasar, lalu menjadi nelayan bersama Paman di Jakarta Utara. Praktis, ketrampilan kakak saya pada saat itu hanya berenang, mencari ikan, dan paling banter adalah menjadi kapten kapal atau istilahnya adalah juru mudi. Jika saya gambarkan, penghasilan Kakak saya pada saat itu adalah lebih banyak kurangnya daripada cukupnya.

Hingga suatu saat, Kakak saya memutuskan untuk menikah. Begitu menikah, dia berhenti menjadi nelayan karena dirasa penghasilannya kurang memadai dan sering meninggalkan istrinya. Lalu, Kakak berubah haluan menjadi seorang pedagang. Dan Alhamdulillah, hingga sekarang, Kakak saya telah memiliki anak dan telah masuk sekolah. Bagi saya, Kakak saya sangat berprestasi. Dia bisa memberi makan sejumlah orang: istrinya, anaknya, dirinya, adik istrinya, termasuk saya yang suka ngrepotin. Hehe..

Sungguh, saya memiliki keyakinan yang tinggi bahwa kisanak, siapa pun itu baik yang sudah menikah maupun belum, pasti punya koleksi cerita menarik soal “rizki pernikahan” ini. Mungkin, ada baiknya bagi saya dan kisanak yang belum menikah, untuk mengujinya secara empiris… (uk)


Comments

Rizki Pernikahan — No Comments

    Leave a Reply