Home » Say No to ‘Golput’!

Untuk Indonesia Yang Lebih Baik

Suatu hari, saya diminta oleh seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri untuk mengomentari sebuah note di Facebook. ‘Si kakak’ membuat sebuah tulisan yang sangat menarik seputar pemilu dengan judul “Black Campaign” atau “Kampanye Hitam”.

Dalam tulisan itu, ‘si kakak’ ini berpesan kepada para caleg agar supaya tidak melakukan praktik “Black Campaign” atau “Kampanye Hitam”. Soal Black Campaign tidak perlu saya definisikan secara detil di sini, anda pasti sudah mengetahuinya.

taken from http://www.unpad.ac.id/archives/781

Nggak usah jauh-jauh, beberapa hari kemarin sedang hangat-hangatnya berita seorang anggota parlemen yang kedapatan membawa uang suap di mobilnya. Usai diperiksa, ‘tersangka’ ini kemudian menuding kader dari partai lain terlibat. Karena sejauh ini, kader yang dituduh oleh tersangka tersebut terkenal bersih di mata masyarakat, boleh jadi kasus ini bisa dimasukin ke dalam kategori Black Campaign.

Di akhir tulisan, secara berapi-api, si kakak ini menghimbau kepada masyarakat (baca: pembaca note-nya) agar menyambut gembira pesta demokrasi ini dan menggunakan hak pilihnya alias tidak golput. Dalam hal ini, saya sangat sepakat dengan si kakak. Untuk itulah, saya bersemangat untuk mengomentari note tersebut. Berikut saya kutipkan komentar saya dan silahkan anda komentari lagi..:-)

Tiga Golongan Pemilih

Pada pemilu bulan April nanti, akan ada sedikitnya tiga golongan pemilih. Pertama, golongan yang datang ke tempat pemungutan suara dengan penuh keyakinan akan apa yang akan menjadi pilihannya. Pemilih jenis ini sangat bisa membedakan antara ‘padi’ dan ‘gulma’, mana ‘wakil rakyat’ dan mana yang ‘garong’.

Mereka sangat yakin akan kualitas kader dan partai yang mereka pilih. Mereka juga sangat yakin bahwa satu suara yang mereka torehkan akan sangat turut andil atas perubahan bangsa Indonesia ke depan.

Kedua, pemilih yang tidak tahu akan apa yang mereka pilih. Pemilih model seperti ini paling banyak jumlahnya. Mereka memberikan pilihan bukan karena kualitas caleg atau partai, melainkan karena ketidakpahaman pada diri mereka.

Kelompok kedua ini biasanya mudah tergiur untuk memilih caleg atau partai yang menjajikan mereka ‘sesuatu’. Bahkan, kelompok ini kadang mudah tergoda oleh partai yang mengiming-imingi mereka dengan ‘kaos’ dan ‘amplop’. Perlu dicatat, kelompok inilah yang mudah terombang-ambing oleh badai ‘Black Campaign’. Berhati-hatilah, anda mungkin termasuk ke dalam kategori ini!

Ketiga, kelompok yang memilih untuk tidak memberikan pilihan alias ‘golput’. Kelompok ini juga tidak kalah bahaya dibandingkan dengan kelompok kedua (bahkan bisa jadi lebih berbahaya).

Mengapa orang memilih ‘golput’? Ini yang jadi permasalahan. Menurut saya, seseorang memilih ‘jalan hidup’ sebagai golput karena mereka merasa diri mereka ‘orang suci’ atau ‘orang yang paling benar’. Dalam benak mereka tertanam keyakinan bahwa para caleg adalah para ‘calon pendosa’. Bagi mereka berlaku kaidah bahwa ‘POLITIK ITU KOTOR’ dan ‘SEMUA CALEG ADALAH CALON KORUPTOR’.

Seharusnya para ‘golputer’ memakai ‘logika terbalik’. Jika mereka merasa diri sebagai orang suci, mengapa tidak bikin partai sendiri. Maka takkan ada lagi jatah kekuasaan bagi para ‘darah lumpur’, meminjam istilah J.K Rowling, maksudnya teh para caleg yang berlumur dosa tadi..

Sejatinya, orang yang golput adalah orang yang pesimistis. Mereka memegang teguh keyakinan yang salah bahwa tidak akan ada perubahan ke arah yang lebih baik dengan kendaraan politik. Mereka begitu trauma dan kehilangan kepercayaan atas apa yang ada di luar mereka. Selain itu, dalam pandangan ekonomi (secara saya sedang belajar ekonomi), GOLPUT sangat tidak sesuai denga kaidah ‘selalu ada trade-off antara cost dan benefit’, lha wong mereka tidak berpartisipasi tapi meminta keadaan bertambah baik. Bahkan, jalan hidup GOLPUT merupakan tindakan mubadzir atas sesuatu yang sudah dibikin sangat mahal: Pemilu.

Justru sebaliknya, kita harus optimis akan adanya perubahan ke arah yang lebih baik melalui pemungutan suara nanti.

Jusuf Kalla (JK) adalah seorang pengusaha yang cerdas.

SBY menorehkan berbagai prestasi pada masa pemerintahannya.

Prabowo menginginkan kemakmuran bagi para petani dan rakyat kecil.

Sri Sultan dicintai oleh warga masyarakat Yogyakarta.

Sementara, Hidayat Nur Wahid (HNW) terkenal bersih, cerdas, dan berwibawa.

Nah, anda masuk kategori yang mana??

Salam Perubahan..

Best Regards,
Ciputat, 21 Maret 2009.

  • ’Pinjem’ komputer Azzam ketika dia sedang tidur..(artinya???)


Comments

Say No to ‘Golput’! — 2 Comments

  1. boleh. tulisan di blog aye boleh dijadiin reperensi, dicopi, dijilat, atau diclupin ke dalam aer oleh siape aje..:-)

    btw, salam kenal dari sungohan, alias ka ukas, alias untung kasirin..

Leave a Reply