Home » Unforgettable Moment in 2011

Sehari menjelang pergantian tahun, saya mengingat-ingat kembali momen paling berkesan di tahun 2011. Ada beberapa momen yang saya rasa sangat berkesan setahun kebelakang. Sebagian sangat mengharukan seperti film India, sedangkan sebagiannya lagi cukup membekas dan memotivasi saya. Untuk momen yang mengharukan, saya belum bisa dan sepertinya tidak ingin saya ceriterakan. Hehe.. Sehingga, saya memilih momen yang sangat memotivasi saya untuk saya ceritakan sebagai “Unforgettable Moment in 2011”.

Pada bulan September 2011, saya mendapat tugas dari kantor untuk melakukan briefing penelitian kinerja lembaga zakat di seluruh Indonesia. Awalnya, briefing ini direncanakan serempak di Jakarta. Kami mengundang perwakilan dari Forum Silaturahmi dan Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) untuk menjadi mitra penelitian. Karena ada dua perwakilan yang berhalangan hadir, yaitu dari Kalimantan dan Sulawesi, kami memutuskan untuk melakukan briefing di dua wilayah tersebut.

Selama 4 hari, saya menemani ketua tim penelitian melakukan perjalanan marathon ke Sulawesi dan Kalimantan, tepatnya di Makassar (Sulawesi Selatan) dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Ketua Tim Penelitian ini adalah Bapak Hendri Tanjung, seorang dosen di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Beliau seorang doctor Islamic Economics lulusan International Islamic University of Islamabad Pakistan.

Perjalana ke Makassar dan Banjarmasin menjadi pengalaman pertama saya naik pesawat terbang. Saya merasa sedikit nervous. Berbagai pikiran dan pertanyaan ‘katro ‘ berseliweran di benak saya. Seperti, benarkah pramugari pesawat secantik diceritakan orang. Apakah benar ada pemeriksaan software computer di Bandara. Apakah boleh membawa kamera dan menyalakan handphone atau laptop. Soal boleh tidak merokok di pesawat kelas ekonomi. Apakah ada mabuk udara. Bahkan sampai ada tidaknya Indomaret di Makassar dan Banjarmasin. Saya sungguh merasa sangat katro bin ndeso pada saat itu.. hehe..

Pengalaman Pertama

Senin pagi (19/09/11), saya bertolak ke bandara menggunakan Bus Damri dari Lebak Bulus, sedangkan Pak Hendri bertolak dari Bogor. Karena baru pertama kali, saya baru tahu jika di bandara, setiap orang yang akan naik pesawat, harus membaya airport tax. Kata Pak Hendri, airport tax ini hanya berlaku di bandara-bandara di Indonesia. Besaran airport tax ini beragam. Di bandara Soetta dan Makassar, misalnya, besaran airport tax-nya Rp 40.000,00. Sedangkan Bandara di Kalimantan, airport tax-nya hanya Rp 25.000,00. Kesimpulan sementara saya, airport tax berbanding lurus dengan kualitas dan layanan bandara. Kata Pak Hendri, di bandara di luar negeri tidak dikenal adanya airport tax ini.

Saat menunggu pesawat, saya semakin nervous (ketahuan banget ndeso-nya J). Begitu ada pengumuman untuk segera masuk ke dalam pesawat, kami segera masuk ke dalam lorong yang menghubungkan terminal dengan kabin pesawat. Berjalan di lorong itu, saya membayangkan diri seperti Sirius Black yang digiring ke dalam penjara bawah tanah di Azkaban oleh para Dementor. Begitu mendebarkan.

Penderitaan itu sedikit mereda begitu berada di kabin pesawat. Ternyata benar kata orang cerita soal pramugari. Mereka adalah makhluk yang cantik, baik hati dan murah senyum. Terbukti ketika ada seorang lelaki separuh baya yang tidak bisa menutup bagasi, mereka dengan tangkas membantu orang tersebut.

Ketegangan dimulai kembali beberap saat sebelum pesawat take off, ketika 3 orang pramugari memeragakan cara menggunakan peralatan darurat di dalam pesawat seperti cara menggunakan sabuk pengaman, masker oksigen dan alat pelampung, dan pintu darurat. Begitu mereka bilang bahwa alat pelampung ada di bawah setiap kursi penumpang, saya segera mengeceknya, apakah benar memang ada di situ.

Begitu hendak take off, seorang pramugari mengingatkan kembali untuk mengencangkan sabuk pengaman. Tiba-tiba pesawat bergerak dengan kencang sepanjang landasan take off, lalu bagian depan pesawat terangkat ke udara, dan mesin berdesing dengan keras memekakan telinga sehingga seluruh bagian pesawat melayang ke ketinggian beberapa ribu kaki. Rasanya seperti berada di dalam pabrik atau semacamnya, panas, bising dan mendebarkan. Setelah pesawat melayang dengan stabil di ketinggian tertentu, kami dibolehkan kembali melepas sabuk pengaman.

Saat menengok ke bawah melalui jendela peswat, daratan tiba-tiba mengecil dan semakin mengecil. Rumah-rumah menjadi kotak-kotak warna merah bata. Jalan raya menjadi garis hitam. Sungai-sungai menjadi garis mengular warna keperakan. Sawah-sawah menjadi blok-blok warna hijau. Laut menjadi kolam renang dengan gradasi warna yang mengagumkan, putih dibagian tepi dan semakin biru di bagian tengahnya. Sedangkan awan di udara, tampak bermacam-macam rupanya. Ada yang berbentuk helai, serta ada yang bergumpal-gumpal seperti kapas, dengan warna putih cerah. Semuanya tampak mengagumkan, persis seperti digambarkan oleh Google Earth.

Jika di luar pesawat tampak begitu indah, keadaan di dalam pesawat sungguh berbeda. Telingaku seperti kemasukan udara bertekanan tinggi. Sesekali bisa mendengar dan sesekali tidak terdengar apa-apa. Kata orang, inilah yang dinamakan jet lag. Saat pesawat melintas di tengah lautan, saya merasa khawatir mesin pesawat tiba-tiba mati, lalu pesawat jatuh ke dalam lautan karena saya belum bisa berenag. Saya mengecek kembali alat pelampung di bawah kursi saya.

Di Makassar

Singkat cerita, setelah beberapa jam di dalam pesawat, kami tiba di bandara Internasional Sultan Hassanuddin Makassar. Dari bandara kami menuju ke hotel entah-bintang-berapa untuk istirhat. Setelah istirahat sejenak, kami makan siang di sebuah rumah makan kecil tak jauh dari hotel dengan menu ikan bakar.

Hotel di mana kami menginap sangat kecil terletak di pinggiran kota. Hotel tersebut hanya bagian ruko yang disulap menjadi kamar-kamar dengan fasilitas seadanya. Kami sampai tiga kali ganti kamar. Kamar pertama, AC-nya berbunyi sangat keras. Kamar kedua, semut-semut hitam jatuh dari atas, dan sempat disemprot dengan Baygon oleh petugas hotel. Baru pada kamar ketiga, kami tidak keberatan untuk tinggal di kamar tersebut.

Pada malam harinya, saya dan Pak Hendri jalan-jalan di kota Makassar menggunakan angkot. Setelah lelah jalan-jalan, kami mencari warung makan untuk makan malam. Dari sekian banyak tempat makan khas Makassar, pilihan hati kami jatuh pada warung tenda, yang pemiliknya ternyata adalah orang Surabaya. Kami makan di tempat itu dengan menu 2 porsi besar ikan bakar dengan harga yang cukup murah, hanya sekitar Rp 50.000.

Sepulang dari makan malam, di hotel sudah ada seorang yang menunggu kami. Beliau adalah ketua Masyarakat Ekonomi Syariah kota Makassar, orang yang direkomendasikan Bapak Syakir Sula kepada Pak Hendri untuk ditemui di Makassar. Kami diajak jalan-jalan lagi hingga larut malam, melihat Pantai Losari, serta ditunjukkan rumah Bapak Jusuf Kalla dan beberapa unit bisnisnya seperti Gedung Bosowa. Sebagai penutup, kami diajakan makan Mie Titi, sebuah makanan khas Makassar, yaitu mie kering dengan ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan  mie kuning yang sering kita jumpai, disiram dengan kuah kental yang sangat enak. Sayang, kami tidak bisa menghabiskan makanan tersebut, karena kami sudah kekenyangan makan ikan bakar.

Pagi harinya, kami mengadakan briefing dengan sekumpulan mahasiswa-mahasiswa jurusan ekonomi Islam yang sangat bersemangat dari STAIN Makassar.  Sebelum brieifing, Pak Hendri menyempatkan diri melakukan bedah novel Ekonom, novel pertama Ekonomi Islam yang mendapat rekor MURI. Dari situlah saya semakin kagum dengan Pak Hendri yang begitu tawadhu dengan sederet prestasinya. Dari biodatanya yang sempat say abaca, beliau meraih  2 gelar master dalam usia relative muda. Saya juga baru tahu bahwa beliau tidak membuat tesis saat mengambil master di Pakistan karena nilai kuliah masternya sangat bagus, dan langsung mendapat beasiswa doctor.

Sebelum kembali ke Jakarta, kami bertemu dengan adik kelas Pak Hendri saat belajar di Pakistan. Lagi-lagi, kami diajak makan ikan bakar. Lalu, kami diantar ke Bandara untuk kembali ke Jakarta, dan sampai di Ciputat Selasa malam. Sebetulnya, kami bisa saja langsung ke Banjarmasin dari Makassar karena ada penerbangan dari Makassar ke Banjarmasin. Tapi karena kami sudah membeli tiket ke agen, kami harus kembali ke Jakarta.

Semalam di Banjarmasin

Setelah istirahat beberapa jam, pagi-pagi kami sekali kami kembali lagi ke Bandara Soetta bertolak ke Banjarmasin. Lagi-lagi, saya mendapati keberkahan menemani orang yang berilmu. Di Banjarmasin, kami dijemput oleh kakak dari sahabat Pak Hendri, sebut saja Pak Nur (Pak Hendri memanggil Pak Nur dengan panggilan Abang). Pak Hendri pernah menjadi petugas haji saat kuliah di Pakistan dan menjadi pemandu haji saat Pak Nur menunaikan ibadah haji. Kami dijemput dari bandara dan diantar ke hotel.

Dari hotel, kami diajak makan siang di Soto Banjar Bang Amat, sebuah tempat makan yang sangat terkenal di Banjarmasin ditepi Sungai Pengambangan, anak Sungai Martapura. Untuk makan di Soto Bang Amat pada jam makan siang, kita harus bersedia antri menunggu orang selesai makan saking ramainya. Beberapa tokoh nasional pernah berkunjung ke Soto Bang Amat, dari Ustadz Arifin Ilham sampai Ibu Megawati. Sambil makan Soto Banjar yang rasanya juara, kita bisa melihat pemandangan sungai yang sangat eksotis. Soal Soto Bang Amat bisa dibaca di sini.

Belajar dari pengalaman kami menginap di hotel bintang-entah-berapa di Makassar, kami mencari sendiri hotel yang kami suka. Kebetulan di Bandara, ada stand salah satu hotel yang sangat terkenal, Swiss-Belhotel di Banjarmasin, dan sedang ada diskon 50% dari tariff normal. Kami memutuskan menginap di hotel bintang empat yang langsung menghadap langsung Sungai Martapura. Kami mengadakan briefing di hotel tersebut.

swiss-belhotel banjarmasin

Malam harinya kami diajak keliling Kota Banjarmasin oleh Pak Nur. Kami diajak makan di Lontong Orari yang sangat ramai di Banjarmasin. Atas saran Pak Nur, kami memesan Lontong dengan Ikan Haruan. Rasanya sungguh maknyus, tak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Ditambah lagi, pengunjungnya didominasi gadis-gadis cantik keturuan Tiong Hoa, tentu ditemani dengan pacar mereka. 🙂

Setelah makan lontong Orari, kami diajak ke rumah Pak Nur, bertemu dengan istri beliau dan ibundanya. Sambutan mereka sungguh hangat. Rumah Pak Nur sangat unik, seperti kebanyakan rumah disana. Rumah tersebut dibangun di atas rawa-rawa yang dipancangi kayu-kayu kecil yang sangat kuat. Pak Nur juga memiliki sepeda ontel tua yang sangat keren yang dipakai berjalan-jalan dengan para pecinta sepeda ontel di Banjarmasin.

Dari rumah Pak Nur, kami langsung diantar ke hotel. Pada saat kembali, kami diberi kejutan oleh pihak hotel, bahwa dari biaya hotel yang sudah didiskon 50% tersebut, kami juga mendapat fasilitas gratis kunjungan ke Pasar Tradisional, yaitu Pasar Terapung. Kami dibangunkan pagi-pagi sekali oleh petugas hotel. Dan lebih istimewa lagi, hanya kami berdua yang memanfaatkan fasilitas kunjungan ke pasar terapung tersebut.

Berikut foto-fotonya…

mesjid di tepian sungai

hari beranjak terang

dan semakin terang...

pasar terapung...

***

Demikianlah, perjalanan 4 hari ke Makassar dan Banjarmasin sungguh berkesan buat saya. Banyak pengalaman menarik yang saya rasakan, seperti sensasi duduk di kursi pesawat yang berbeda-beda, dari mulai kursi paling depan, kursi paling belakang, dan kursi tengah tempat pintu darurat. Armada pesawat udara yang pramugarinya jualan parfum, kemeja, jam tangan, pashmina, hingga aneka bros cantik. Terutama sekali adalah perjalanan hidup dari Pak Hendri yang sungguh menginspirasi saya. Kata beliau, Allah akan selalu membalas dengan balasan yang terbaik atas perbuatan baik kita sekecil apapun.

Sekian.


Comments

Unforgettable Moment in 2011 — 3 Comments

Leave a Reply